Minggu, 24 April 2016

Imaji

Dalam kelok liar badan jalan,
Gerimis membasuh tubuh sang hayat.
Angin membelai setiap bulu halus dari sebuah imaji.
Pendar cahaya memecah kekosongan jiwa, ia menyeruak tajam mengundang mata untuk memandang sebuah garis, yang meliuk gagah, ingin kusentuh.
Tak cukup, masih saja ada yang kurang, Aku mencari bau yang kukenal.
Hanya kudapati bau rumput dan dedaunan basah.
Kau sembunyikan di mana bau yang biasa mengajakku berdansa sepanjang kelok tempatmu biasa pamer ketangguhan?

Mungkin, perjalanan kali ini tidak seperti biasanya. Kau memilih menghempaskan kisah diam kita. Kisah diam kita yang lebih gaduh dari kata dan tawa kita yang sudah pernah satu ritme. Setelah lama tak berjumpa, kurasakan kekekalan canggung menyerupai benteng. Kau memenjarakan imaji.

Namun aku, dalam beberapa waktu tertentu aku terus menghidupi apapun yang mampu menghiburku. Imaji terliar dari sudut batang otak mengaliri darahku dan menghangat membuatku sedikit berani bertanya padamu, "mengapa diam saja?"

Aku menebak kau bermain imajimu sendiri. Sedang aku terkantuk-kantuk menikmati rinduku dalam bentuk lain. Aku ingin terlelap di belakangmu. Dalam hujan yang tak pernah reda. Dalam jalanan yang gelap dan sejauh-jauhnya. Aku tak peduli kau tak lagi menunjukkan aroma khasmu itu. Aku tak peduli kau tak lagi mau berbagi imaji.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar