Kamis, 21 April 2016

Alam, Manusia dan Uang

Seorang ahli lingkungan, Henry David Thoreau, di awal tahun 70-an telah mengampanyekan untuk mulai merasakan karunia sumber daya alam lebih pada nilai intrinsiknya, bukan pada kebermanfaatan ekonominya. Hal tersebut adalah satu-satunya cara untuk melestarikan alam menurut Thoreau. Selain itu, Menurut ahli-ahli lingkungan terdahulu, Kegiatan ekonomi telah melampaui batas penggunaan sumber dayanya dan sudah mencapai pada tujuan-tujuan spiritual. Jika Thoreau menganggap hal tersebut adalah solusi untuk melestarikan alam, seorang ilmuwan sosial kontemporer di tahun 80-an, Baudrillard malah menganggap hal tersebut adalah sumber masalah. Bergesernya nilai guna kepada nilai simbol pada kegiatan ekonomi membuat proses produksi akan terus merespon permintaan konsumsi tak terbatas. Hal ini dikarenakan sensasi dan tujuan-tujuan spiritual memang pada dasarnya tidak terbatas.

Lalu dengan apik seorang Ahli lingkungan, Muir, mengatakan bahwa, masalah utamanya ada pada pemujaan terhadap komersialisasi yang merusak. Produsen akan terus merespon pergeseran nilai guna kepada nilai simbol atau nilai-nilai yang lain sesuai dengan pergerakan tren permintaan konsumen. Selama kita masih tidak merasa cukup “Memuja” Gunung yang gagah dan indah dan mulai mencari “Pemujaan” lain, yaitu uang dan materi, selama itu pula nilai intrinsik-pun pada akhirnya diperdagangkan, dan kembali lagi alam adalah sumber komoditasnya.

Susah payah ekonom berusaha merumuskan tingkat kepuasaan konsumen, agar lebih bijak mengatur sumber daya. Ekonom konvensional selalu berpendapat bahwa kepuasaan atas suatu komoditas akan turun pada titik tertentu. Namun, ada yang luput dari perhatian ekonom konvensional, yaitu keinginan konsumen untuk melakukan “distinction”, keinginan untuk terus menjadi berbeda dari yang lain, dan itu mungkin yang mulai harus dirumuskan oleh ekonom jika mampu. Karena jika kepuasaan atas komoditas mampu turun pada titik tertentu, kepuasaan menjadi berbeda akan terus bergulir dan alam adalah satu-satunya batasan manusia di bumi. Selama masih ada tempat-tempat yang dianggap perawan tak terjamah di alam ini, maka manusia akan terus berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan memproduksi simbol-simbol yang membuatnya berbeda dari yang lain. Sebagai contohnya menggunakan perhiasan-perhiasan hasil ekstraksi dari bumi atau malah berbondong-bondong berwisata di alam yang dianggapnya liar.

Kritik keras Muir mengenai jiwa-jiwa pemuja komersialisasi sebagai inti dari permasalahan sumber daya alam ini, membuat saya mulai berpikir bahwa segala usaha ekonom dalam menawarkan berbagai formula dan model untuk masalah sumber daya alam dan lingkungan ini malah menuju kepada arah yang salah. Kritik keras Muir menurut saya, jelas bukan sebuah panggilan kepada kita semua untuk merumuskan analisa manfaat dan biaya. Menominalkan nilai intrinsik, sensasi, simbol, spiritual dan variabel sosial lainnya malah membawa kita menciptakan sumber-sumber komersial baru seperti yang banyak dibahas oleh Baudrillard dalam bukunya mengenai Masyarakat Konsumsi. 

Bagi Ahli Lingkungan pada abad 19, alam adalah sumber dari segala hal spiritual, yang mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta Semesta Alam. Sehingga seharusnya menurut mereka, komitmen untuk melakukan pelestarian alam maupun konservasi, lebih didasarkan kepada tanggung jawab moral, rasa cinta kita kepada alam, bukan kepada hitung-hitungan ekonomi dan hanya menjadikan alam sebagai sumber bahan baku komoditas tertentu yang siap diperdagangkan. Namun, Mampukah Kita menjaganya karena cinta, bukan karena manfaat?

Ah, Ekonom lingkungan sepertinya memang sudah terlalu asik dengan terus menominalkan seluruh ketidakpastian rasa, sensasi, dan segala variabel sosial yang ada menggunakan skenario pemodelan kaum utilitarian yang sering kali mereka kritik. Seakan ekonom lingkungan adalah termasuk golongan pahlawan yang sedang berusaha menjaga alam, tetapi kenyataannya adalah segala usaha itu supaya alam mampu menunjang proses produksi komoditas tertentu sedikit lebih lama. Skenario penunda kehabisan sumber daya itu yang sering digadang-gadang dengan nama Keberlanjutan. Lebih menarik dan mengerikan lagi, semua skenario tersebut masih bisa ditawar, tergantung kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Mungkin begitulah manusia diciptakan, bukan hanya untuk melestarikan alam, tetapi juga memanfaatkannya. Namun sayangnya batas memanfaatkan itu benar-benar tak terhingga dan alam pada akhirnya memang pasti menyerah. Kita hanya harus menunggu dalam ketakutan tanpa usaha, berusaha untuk menjadi semakin takut, menikmati tanpa harus tau dan takut, atau mamahami dan berusaha berdamai dengan ketakutan. I dont know~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar