Seorang ahli lingkungan, Henry David Thoreau, di awal tahun
70-an telah mengampanyekan untuk mulai merasakan karunia sumber daya alam lebih
pada nilai intrinsiknya, bukan pada kebermanfaatan ekonominya. Hal tersebut adalah
satu-satunya cara untuk melestarikan alam menurut Thoreau. Selain itu, Menurut
ahli-ahli lingkungan terdahulu, Kegiatan ekonomi telah melampaui batas
penggunaan sumber dayanya dan sudah mencapai pada tujuan-tujuan spiritual. Jika
Thoreau menganggap hal tersebut adalah solusi untuk melestarikan alam, seorang
ilmuwan sosial kontemporer di tahun 80-an, Baudrillard malah menganggap hal
tersebut adalah sumber masalah. Bergesernya nilai guna kepada nilai simbol pada
kegiatan ekonomi membuat proses produksi akan terus merespon permintaan
konsumsi tak terbatas. Hal ini dikarenakan sensasi dan tujuan-tujuan spiritual memang
pada dasarnya tidak terbatas.
Lalu dengan apik seorang Ahli lingkungan, Muir, mengatakan
bahwa, masalah utamanya ada pada pemujaan terhadap komersialisasi yang merusak. Produsen
akan terus merespon pergeseran nilai guna kepada nilai simbol atau nilai-nilai
yang lain sesuai dengan pergerakan tren permintaan konsumen. Selama kita masih
tidak merasa cukup “Memuja” Gunung yang gagah dan indah dan mulai mencari “Pemujaan”
lain, yaitu uang dan materi, selama itu pula nilai intrinsik-pun pada akhirnya diperdagangkan,
dan kembali lagi alam adalah sumber komoditasnya.
Susah payah ekonom berusaha merumuskan tingkat kepuasaan
konsumen, agar lebih bijak mengatur sumber daya. Ekonom konvensional selalu
berpendapat bahwa kepuasaan atas suatu komoditas akan turun pada titik
tertentu. Namun, ada yang luput dari perhatian ekonom konvensional, yaitu
keinginan konsumen untuk melakukan “distinction”, keinginan untuk terus menjadi
berbeda dari yang lain, dan itu mungkin yang mulai harus dirumuskan oleh ekonom
jika mampu. Karena jika kepuasaan atas komoditas mampu turun pada titik
tertentu, kepuasaan menjadi berbeda akan terus bergulir dan alam adalah
satu-satunya batasan manusia di bumi. Selama masih ada tempat-tempat yang
dianggap perawan tak terjamah di alam ini, maka manusia akan terus berusaha
memuaskan dirinya sendiri dengan memproduksi simbol-simbol yang membuatnya
berbeda dari yang lain. Sebagai contohnya menggunakan perhiasan-perhiasan hasil
ekstraksi dari bumi atau malah berbondong-bondong berwisata di alam yang
dianggapnya liar.
Kritik keras Muir mengenai jiwa-jiwa pemuja komersialisasi sebagai
inti dari permasalahan sumber daya alam ini, membuat saya mulai berpikir bahwa segala
usaha ekonom dalam menawarkan berbagai formula dan model untuk masalah sumber
daya alam dan lingkungan ini malah menuju kepada arah yang salah. Kritik keras
Muir menurut saya, jelas bukan sebuah panggilan kepada kita semua untuk
merumuskan analisa manfaat dan biaya. Menominalkan nilai intrinsik, sensasi,
simbol, spiritual dan variabel sosial lainnya malah membawa kita menciptakan
sumber-sumber komersial baru seperti yang banyak dibahas oleh Baudrillard dalam
bukunya mengenai Masyarakat Konsumsi.
Bagi Ahli Lingkungan pada abad 19, alam
adalah sumber dari segala hal spiritual, yang mendekatkan manusia kepada Sang
Pencipta Semesta Alam. Sehingga seharusnya menurut mereka, komitmen untuk
melakukan pelestarian alam maupun konservasi, lebih didasarkan kepada tanggung
jawab moral, rasa cinta kita kepada alam, bukan kepada hitung-hitungan ekonomi
dan hanya menjadikan alam sebagai sumber bahan baku komoditas tertentu yang
siap diperdagangkan. Namun, Mampukah Kita menjaganya karena cinta, bukan karena
manfaat?
Ah, Ekonom lingkungan sepertinya memang sudah terlalu asik dengan
terus menominalkan seluruh ketidakpastian rasa, sensasi, dan segala variabel
sosial yang ada menggunakan skenario pemodelan kaum utilitarian yang sering
kali mereka kritik. Seakan ekonom lingkungan adalah termasuk golongan pahlawan yang
sedang berusaha menjaga alam, tetapi kenyataannya adalah segala usaha itu supaya
alam mampu menunjang proses produksi komoditas tertentu sedikit lebih lama.
Skenario penunda kehabisan sumber daya itu yang sering digadang-gadang dengan
nama Keberlanjutan. Lebih menarik dan mengerikan lagi, semua skenario tersebut
masih bisa ditawar, tergantung kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Mungkin
begitulah manusia diciptakan, bukan hanya untuk melestarikan alam, tetapi juga
memanfaatkannya. Namun sayangnya batas memanfaatkan itu benar-benar tak
terhingga dan alam pada akhirnya memang pasti menyerah. Kita hanya harus
menunggu dalam ketakutan tanpa usaha, berusaha untuk menjadi semakin takut, menikmati
tanpa harus tau dan takut, atau mamahami dan berusaha berdamai dengan
ketakutan. I dont know~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar