Minggu, 10 April 2016

Dear Ibuk

Ibuk. Aku takut.

Bolehkah?

Ibuk, ketika engkau seusiaku, pernah kau mengalami hal semacam yang aku alami hari ini? Akhir-akhir ini aku berangkat tidur dalam keadaan menangis, terbangun juga menangis. Seperti ada saja hal yang ingin menguras habis air mataku. Aku tidak mau kalah, kuperbanyak air putih seperti pesanmu.

Ibuk, berada di usia lebih dari seperempat abad tanpa prestasi, apakah drama jika aku terus menangis dan ketakutan? Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku hebat dan aku bisa melewati ini semua. Hanya saja, aku berpikir, sepertinya aku terlalu payah menjadi seorang wanita. Pernahkah kau ada di kondisi seperti ini?

Ibuk, ketenanganmu itu dari mana datangnya? Kapan aku bisa mewarisinya? Ketika tidak ada yang percaya denganku, Mengapa kau teguh berada di sisiku? Menjawab semua pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan keyakinanmu. Ibuk, harus kulewati badai seperti apa lagi untuk mewarisi ketenangan semacam itu darimu?

Ibuk, Aku takut. Aku kehabisan kata-kata, mungkin aku mulai meracau dan mungkin kau tidak akan paham apa yang kukatakan. Aku bisa paham jika kau memilih untuk marah. Ibuk, aku rindu. Aku menciptakan jarak di antara kita. Aku merasa seperti seorang brengsek yang tetus-terusan berusaha membunuh rindu karena tidak cukup berani memulangkannya.

Ibuk, dia pergi, dia tak memberi kabar. Inikah rindu yang kau rasakan padaku? Ketika aku bisa saja melewati hatiku tanpamu, sedang kau menunggu kabar di sana? Ibuk. Aku ingin pulang, ke hari biasa, bertanya lagi, inikah mimpimu?

Akukah kebanggaanmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar