Guru, seseorang yang digugu dan ditiru. Aku pada akhirnya memahami konsep seorang guru yang sebenarnya ketika aku bertemu seseorang yang benar-benar membawa satu perubahan besar dalam hidupku. Bagiku, seorang Guru tidak selalu benar, tetapi dalam tingkatannya sebagai manusia biasa, dia mampu menciptakan dan terus memproduksi kurikulum-kurikulum kehidupan yang selalu membuatku harus belajar lebih dalam lagi. Menggugu dan menirunya tidak serta merta membuat diri kita menjadi orang lain dan harus menyamai dirinya. Menggugu setiap tindakan kecilnya, caranya bicara, komunikasi, menyapa, menegur, memandang, berterimakasih, tidak setuju kepada orang lain membuat kita merasa bahwa manusia diciptakan unik dan berbeda, menggugu bagaimana dia menghargai setiap perbedaan itu. Meniru? ah entahlah. Pada tahap meniru aku pasti tidak akan mampu, tapi tindakan seorang guru telah mampu paling menciptakan sebuah standard yang ingin kita capai. Tanpa dia banyak bicara, kita menjadi sungkan sendiri jika kita menyadari apa yang kita lakukan terlalu jauh dari apa yang dibaginya bersama kita.
Pada akhirnya, aku merasa mencari seorang guru yang tepat adalah hal yang tidak salah. Bahkan pada beberapa hal aku merasakan manfaatnya, suatu progress yang sangat krusial bagiku untuk menjadi manusia yang semakin kompleks dan semakin luas menerima apapun yang hadir dalam hidupku.
Ilmu adalah salah satu variabel paling penting seseorang layak disebut guru. Seorang guru yang sudah menggeluti satu cabang ilmu bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk mengarungi lebih dalam apa yang menarik perhatiannya. Namun, tahukah kau apa yang harus dibayarnya untuk pengetahuan yang dengan ringan dan riang sekali dibagikan kepada kita itu? Kegelisahan tanpa henti. Di malam hari, di siang hari, di saat dia harus bersama keluarganya, di saat dia berkumpul dengan teman-temannya, otaknya pasti sangat penuh dan hatinya tak berhenti bertanya "Apa yang salah? Apa yang bisa dilakukan? Apa aku di jalan yang tepat? Apa aku merugikan orang lain?" Dan dia harus terlihat sebagai manusia normal untuk membaur dengan siapa saja.
Menemukan atau ditemukan oleh orang-orang berkualitas Guru seperti itu adalah rejeki yang luar biasa. Bagaimana dia mampu mengakomodasi prosesmu dan membuatmu merasa bahwa kamu sendirilah yang membuat perubahan hebat dalam dirimu. Padahal, jika kamu mau mengakui, tidak ada yang pernah benar-benar keluar dari dirimu sendiri, tidak ada yang orisinal dari masing-masing diri kita. Guru-guru itulah yang memberi pengaruh kepada kita. Maka aku memilih akan terus memberi ruang khusus bagi mereka, rasa terimakasih yang tak pernah cukup aku katakan.
Namun, seringkali, aku harus siap bahwa setiap pertemuan harus berujung pada perpisahan. Seorang guru di bidang Speleologi pergi hari ini. Aku merasa harus menuliskan catatan tentang Beliau. Aku ingin mencatatnya di luar ingatanku yang mungkin akan pudar. Aku belum terlalu jauh mengenalnya dan tidak berkesempatan terlalu banyak untuk belajar bersamanya. Namun sekali lagi, Beliau adalah salah satu guru bagiku, Beliau membawa perubahan besar, Beliau tanpa perlu bicara langsung kepada tentang apa yang telah dilakukannya untuk masyarakat, menantang ego intelektualitasku, akademikku.
Seorang yang hanya lulusan kampus kecil, seorang yang mungkin tidak banyak belajar teori-teori ekonomi klasik maupun mutakhir, mampu bertahun-tahun mengabdi untuk masyarakat. Mampu mengajak ahli-ahli geologi, biologi, geografi, sosial dari kampus-kampus besar lainnya membaur untuk bersama-sama memberikan sumber kehidupan masyarakat, memberikan mereka air yang berada jauh di perut bumi. Beliau, membuatku semakin yakin, ilmu yang mampir kepadaku adalah milik mereka yang membutuhkan.
Ah, aku benar-benar merasa rugi tidak memiliki lebih banyak kesempatan berdiskusi dengannya. Perasaan sedih yang aku takut salah artikan sebagai kekecewaan tak sempat mencuri sepenuhnya ilmunya. Aku mendapati tiga bidadari cantik yang selalu menemaninya dari mengikuti rasa penasaranku tentang seperti apa sosok Beliau di keluarganya. Sekarang aku bisa menyimpulkan bahwa, waktu Beliau sudah cukup, Tiga bidadari tersebut yang mungkin akan meneruskan mimpinya. Toh jika tidak, berapa banyak orang sepertiku yang menganggap Beliau Guru. Aku yakin diluar ketidaksetujuan, baik-buruknya Beliau, banyak yang tidak rela mimpi Beliau dan kegelisahan Beliau berakhir begitu saja. Aku tentu saja berharap punya kesempatan untuk bersama-sama mewujudkan apa yang belum selesai dengan mereka yang segelisah aku hari ini.
"Siapa yang melanjutkan? Apa akan ada?"
Harus ada, jika tidak ada, mungkin aku yang harus melanjutkannya? Bukankah setiap pertemuan selalu memiliki tujuan besar?
Begitulah aku memahami sosok guru yang Allah mampirkan ke kehidupanku, seperti Mas Nikki, Seperti Mas Nyos, Seperti Pak Ratno, Pak Bud, dan Guru-Guruku yang telah pergi lainnya. Dan untuk Guru-Guruku yang masih ada waktu aku bersamanya, kucuri waktu untuk bersama mereka, karena hati dan jiwaku benar-benar butuh nutrisi untuk tetap waras.
Selamat jalan Mas Bagus Yulianto, Seorang Speleolog Indonesia, Speleolog yang dicintai kawan, masyarakat dan keluarga. Allah tentu saja sangat mencintaimu. Terimakasih ilmunya.