Kamis, 28 April 2016

Komposisi

Kamu adalah paduan ketidakberdayaan dan kekuataan tersembunyi,
rasa takut dan penasaran,
tanda tanya dan jawaban,
keraguan dan kemengertian,
kelemahan dan kekokohan,
keanggunan dan keserampangan,
ketidakamanan dan penerimaan.

Kamu adalah sebuah komposisi spektrum warna diri yang sangat pas,
yang bisa saja berubah-ubah kapanpun,
tanpa mampu ditebak dan dikendalikan,
bisa terbuka dan siap bersinggungan dengan warna apapun,
Namun selalu pas.

Kamu adalah secukup-cukupnya komposisi ini itu, 
kamu adalah gegap rasa membawa gempita suka.
Kamu yang tak pernah cukup tercecap namun segera mengisi kekosongan.
Kamu adalah komposisi yang sangat pas.

Mencandumu adalah bahaya yang dinantikan.
Maka, seseorang bisa memilih menanti rasa lain darimu,
atau mengantisipasi untuk menyudahi.
Masing-masing dari kamu,
wanitaku terkasih, tercipta dengan komposisi yang sudah pas.
Maka, sungguh rayakanlah rasa diri itu!

Menelpon Bapak

Seharusnya tulisan ini aku tulis dan unggah tepat ketika aku menunggu antrian di sebuah bank swasta pada hari Senin, tiga hari lalu. Namun, setelah menulis begitu panjang, telepon genggamku berhenti berfungsi, ngehang, terpaksa saya setel ulang. Menyebalkan.

Menelpon bapak tidak pernah menjadi serumit ini. Baru kali ini aku merasakan rindu yang begitu menggantung. Aku ingin sekali memulangkan rinduku padanya. Namun, ini menjadi sangat tidak sederhana.Gengsiku, perasaan bersalahku, perasaan kecewaku, semuanya beradu. Seakan aku tidak berhak lagi berkata rindu padanya. Seakan dia tidak berhak lagi mengetahui keadaanku. Setelah pertengkaran hampir dua bulan lalu, setelah aku mengeluarkan semua yang sudah aku pendam selama ini, setelah dia mendadak menjadi orang yang begitu asing buatku. Lelaki pertamaku tidak mempercayai aku bisa melewati semua ini. Lelaki yang aku harap menerimaku setiap saat aku pulang, tidak lagi percaya aku sedang berusaha mewujudkan mimpinya juga mimpiku.

Ditemani suara mesin pencetak kertas antrian, ditemani suara operator yang manis, ditemani anak manusia yang tergesa-gesa untuk menyelesaikan berbagai urusan perniagannya, aku termenung. Aku menimbang-nimbang telepon genggamku. "Siapa yang harus kuhubungi?", pikirku.

Siang itu aku harus segera mencairkan uang yang dikirim oleh salah seorang pelangganku dari negeri nun jauh di sana, Irlandia, negeri yang entah suatu hari nanti aku bisa sampai sana atau tidak. Pelangganku yang sangat bawel dan begitu banyak permintaan, andai saja dia tidak melakukan pemesanan dalam jumlah besar, aku pasti sudah menyerah dari awal. Di sini aku bersyukur mendapati diriku yang masih termotivasi dengan uang, pada titik ini aku merasa menjadi manusia normal. Aku normal karena aku juga melakukan urusan perniagaan, seperti manusia-manusia di usia produktif lainnya. Pelangganku itu telah mengirim uangnya melalu salah satu penyedia layanan yang harus dicarikan melalu salah satu bank swasta. Biasanya dia mengirimnya langsung ke rekening bank yang aku miliki dan menunggu 3 hari kerja sebelum aku bisa menarik uang tersebut. Kali ini aku harus mengambilnya sendiri ke bank swasta tersebut. Sudah terbayang dari awal bahwa ini akan sedikit merepotkan. Mengapa? Karena aku yang ceroboh dan pemalas ini hingga detik ini tidak sedang memegang KTP. Aku menghilangkannya beberapa tahun lalu dan malas mengurusnya. Beberapa kali aku pulang, bapak sudah mengingatkanku untuk segera mengurus kembali KTPku, tetapi entahlah, aku memang pemalas yang sangat bebal. Beberapa kali merasa lolos dari urusan administrasi yang mengharuskan memakai KTP hanya berbekal surat kehilangan dari kantor kepolisian membuatku merasa santai saja walau tak memegang KTP.

Siang itu, aku juga sudah membawa bekal surat kehilangan dari kantor kepolisian. Sialnya, di surat tersebut pak polisi yang sudah aku upah lima ribu rupiah tidak menuliskan nomor KTP-ku. Jadi pihak bank ragu untuk mengabulkan permohonan pencairan danaku. Petugas memintaku untuk menyertai permohonanku dengan kartu keluarga. Aku mengiyakan karena aku pikir aku memilikinya di akun surat elektronikku. Namun, ternyata aku tidak punya.

Aku terduduk lemas, aku ingat rumah, aku ingat bapak. Namun, aku ragu untuk segera menelpon. Kupikir-pikir, aku yakin petugas bank yang cantik-cantik jelita dapat memandangi wajahku yang kusut dan bingung. Kuhela nafas, kuberanikan diri menekan tombol nomor rumah. Suara lelaki di seberang sana, berat, dan menghentikan detak jantungku. Bapak bicara. Hampir tumpah air mataku. Aku atur nafasku. Bapak aku rindu. Namun, dengan busuknya aku tanpa basa-basi meminta tolong agar bapak segera mengirim foto kartu keluargaku. Aku yang sombong, terlalu angkuh untuk memulangkan rindu, meminta bantuan untuk dilegitimasi bahwa aku adalah anggota keluarga dari keluargaku, bahwa aku adalah anaknya.

Bapak menawariku untuk bicara dengan ibuk. Ibuk yang entahlah seluas apa hatinya mendapati anak perempuannya yang begitu bebal. Lebih bebal dari anak laki-lakinya. Anak perempuannya yang sombong, sok pintar dan sok bisa bediri di kaki sendiri. Anak perempuannya yang akan mencarinya hanya dan hanya jika dia terjatuh. Ibuk yang kubuat menangis karena pertengkaranku dengan bapak.

Hari itu, aku lega telah menelpon bapak. Namun, di sisi lain aku merasa brengsek, menelpon bapak hanya untuk membereskan urusanku.

Bagaimana aku bisa dengan muda menelpon seorang lelaki yang baru aku kenal dalam hitungan bulan, dan begitu berat menelpon cinta pertamaku?

Bapak, Apa yang kau rasakan ketika pertama mendengar suaraku? Ketika tidak mendengar suaraku? Dan ketika mendengar suaraku dalam keadaan marah?

Minggu, 24 April 2016

Imaji

Dalam kelok liar badan jalan,
Gerimis membasuh tubuh sang hayat.
Angin membelai setiap bulu halus dari sebuah imaji.
Pendar cahaya memecah kekosongan jiwa, ia menyeruak tajam mengundang mata untuk memandang sebuah garis, yang meliuk gagah, ingin kusentuh.
Tak cukup, masih saja ada yang kurang, Aku mencari bau yang kukenal.
Hanya kudapati bau rumput dan dedaunan basah.
Kau sembunyikan di mana bau yang biasa mengajakku berdansa sepanjang kelok tempatmu biasa pamer ketangguhan?

Mungkin, perjalanan kali ini tidak seperti biasanya. Kau memilih menghempaskan kisah diam kita. Kisah diam kita yang lebih gaduh dari kata dan tawa kita yang sudah pernah satu ritme. Setelah lama tak berjumpa, kurasakan kekekalan canggung menyerupai benteng. Kau memenjarakan imaji.

Namun aku, dalam beberapa waktu tertentu aku terus menghidupi apapun yang mampu menghiburku. Imaji terliar dari sudut batang otak mengaliri darahku dan menghangat membuatku sedikit berani bertanya padamu, "mengapa diam saja?"

Aku menebak kau bermain imajimu sendiri. Sedang aku terkantuk-kantuk menikmati rinduku dalam bentuk lain. Aku ingin terlelap di belakangmu. Dalam hujan yang tak pernah reda. Dalam jalanan yang gelap dan sejauh-jauhnya. Aku tak peduli kau tak lagi menunjukkan aroma khasmu itu. Aku tak peduli kau tak lagi mau berbagi imaji.

Sabtu, 23 April 2016

Memilih

Selamat malam mas, semoga semua yang kan perjuangkan selalu lancar di sana.

Mas, mencintaimu adalah sebuah pilihan. Aku memilihmu, bukan orang lain. Aku memilih mencintaimu, bukan mengabaikanmu. Aku memilih menerimamu, bukan meninggalkanmu. Aku memilih percaya padamu, bukan curiga kepadamu. Mencintaimu adalah sebuah kesadaran. Aku wanita yang mampu memilih dengan sepenuh kesadaran untuk melakukan hal apapun, termasuk segala konsekuensi di dalamnya. Sehingga suatu saat nanti jika pilihanku salah, aku sudah mampu memetakan di bagian mana aku berbuat kesalahan, aku tak perlu mencari-cari kesalahan orang lain. 

Aku memilih percaya kepadamu mas, ketika semua orang berkata bahwa mungkin saja kamu berbohong kepadaku. Aku tak pernah menanyakanmu kepada orang lain, karena kamu telah berusaha meyakinkanku, aku memilih berpegang kepada kata-katamu. Mereka berusaha mengisi pikiranku dengan hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu katakan. Aku menolak percaya kepada mereka, aku tidak mau mencari fakta lain dari orang lain, sampai mereka menunjukkan langsung kepadaku. Mas, mengapa berbohong?

Aku masih bertanya "Mengapa?" karena aku masih memilih mendengar pernyataan darimu bahwa apa yang mereka katakan tidak benar, atau mendengar penjelasan yang melegakanku, atau mendengar alasanmu, atau hanya ingin melihat usahamu untuk meyakinkanku. Aku hanya ingin kamu peduli sepenuhnya bahwa aku di sini menunggu kabarmu.

Seharusnya, aku bisa saja memilih berhenti menunggu kabarmu. Karena itu memang seringkali menguras hati dan pikiranku. Seharusnya aku mampu mengisi ruang-ruang besar yang mungkin kau tinggalkan dengan teman-teman yag lebih seru dan asik, yang mampu menciptakan tawa atau menggiring kepada obrolan-obrolan dalam yang mengurai kegelisahan. Atau aku juga bisa fokuskan pikiranku kepada pekerjaanku dan mencari uang sebanyak-banyaknya. Namun aku memilih membiarkan ruang itu di sana, supaya kamu bisa selalu pulang dan beristirahat di sana. Aku merindukanmu mengisinya dengan sesuatu yang tak pernah penting, namun tak kudapati dari siapapun sejauh ini.

Aku bercerita ke beberapa teman tentang kejadian ini. Mungkin kamu memang tidak berbohong, tetapi kamu mengkondisikan seakan-akan pernyataanmu benar tapi kenyataan tidak seperti itu. Setidaknya tidak seperti yang aku tahu saat ini. Yang membuatku bertanya adalah buat apa kamu mengkondisikan sesuatu yang menciptakan kesalahpahaman di antara kita? Tidak pentingkah aku?

Teman-teman berkata, aku tak perlu membalas pesanmu, mereka berkata semakin detail data yang digunakan seseorang semakin besar kemungkinan dia berbohong, beberapa di antara mereka menertawakanku. Aku memakan habis harga diriku, aku memilih mempercayaimu dan terlihat bodoh di depan teman-temanku.

Setelah membaca penjelasanmu, Aku paham posisiku sekarang mas. Aku bukan prioritasmu. Kamu tak merindukanku sebanyak aku merindukanmu. Kamu memilih untuk meminggirkanku untuk saat ini. Jika itu yang sedang kamu lakukan untuk menggapai mimpimu yang lebih besar dari aku mas, aku tidak akan mengganggumu. Aku akan menulis dan menulis, aku akan memilih bertarung dengan rasa rinduku, menjinakkannya supaya tidak pernah membuatmu gelisah. Tapi kamu harus tau mas, Aku juga mampu membunuhnya detik ini juga. Kapan? Jika kamu sudah tidak berminat menjelaskan apapun lagi kepadaku.

Mas, jika kamu membaca ini dan merindukanku, aku berharap kamu bisa memilih memulangkannya kepadaku, mengatakan apa yang kamu rasakan. Aku memilih menunggumu mas. Sampai detik ini. Dan aku tidak tahu hal seperti apa lagi yang aku harus terima sebagai konsekuensi atas pilihanku.

Hari ini aku memilih untuk percaya kepadamu. Karena aku tahu masih banyak yang lebih besar daripada ini. Aku tak mau kalah hari ini. Aku akan tetap bebal, mencintaimu dengan segala hal yang kamu yakini akan membuat orang lain membencimu. Aku masih akan bebal hari ini. Namun, berjanjilah kepada dirimu sendiri untuk segera pulang atau setidaknya memberi kabar. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.

Jumat, 22 April 2016

Selamat jalan Guru!

Guru, seseorang yang digugu dan ditiru. Aku pada akhirnya memahami konsep seorang guru yang sebenarnya ketika aku bertemu seseorang yang benar-benar membawa satu perubahan besar dalam hidupku. Bagiku, seorang Guru tidak selalu benar, tetapi dalam tingkatannya sebagai manusia biasa, dia mampu menciptakan dan terus memproduksi kurikulum-kurikulum kehidupan yang selalu membuatku harus belajar lebih dalam lagi. Menggugu dan menirunya tidak serta merta membuat diri kita menjadi orang lain dan harus menyamai dirinya. Menggugu setiap tindakan kecilnya, caranya bicara, komunikasi, menyapa, menegur, memandang, berterimakasih, tidak setuju kepada orang lain membuat kita merasa bahwa manusia diciptakan unik dan berbeda, menggugu bagaimana dia menghargai setiap perbedaan itu. Meniru? ah entahlah. Pada tahap meniru aku pasti tidak akan mampu, tapi tindakan seorang guru telah mampu paling menciptakan sebuah standard yang ingin kita capai. Tanpa dia banyak bicara, kita menjadi sungkan sendiri jika kita menyadari apa yang kita lakukan terlalu jauh dari apa yang dibaginya bersama kita.

Pada akhirnya, aku merasa mencari seorang guru yang tepat adalah hal yang tidak salah. Bahkan pada beberapa hal aku merasakan manfaatnya, suatu progress yang sangat krusial bagiku untuk menjadi manusia yang semakin kompleks dan semakin luas menerima apapun yang hadir dalam hidupku.

Ilmu adalah salah satu variabel paling penting seseorang layak disebut guru. Seorang guru yang sudah menggeluti satu cabang ilmu bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk mengarungi lebih dalam apa yang menarik perhatiannya. Namun, tahukah kau apa yang harus dibayarnya untuk pengetahuan yang dengan ringan dan riang sekali dibagikan kepada kita itu? Kegelisahan tanpa henti. Di malam hari, di siang hari, di saat dia harus bersama keluarganya, di saat dia berkumpul dengan teman-temannya, otaknya pasti sangat penuh dan hatinya tak berhenti bertanya "Apa yang salah? Apa yang bisa dilakukan? Apa aku di jalan yang tepat? Apa aku merugikan orang lain?" Dan dia harus terlihat sebagai manusia normal untuk membaur dengan siapa saja.

Menemukan atau ditemukan oleh orang-orang berkualitas Guru seperti itu adalah rejeki yang luar biasa. Bagaimana dia mampu mengakomodasi prosesmu dan membuatmu merasa bahwa kamu sendirilah yang membuat perubahan hebat dalam dirimu. Padahal, jika kamu mau mengakui, tidak ada yang pernah benar-benar keluar dari dirimu sendiri, tidak ada yang orisinal dari masing-masing diri kita. Guru-guru itulah yang memberi pengaruh kepada kita. Maka aku memilih akan terus memberi ruang khusus bagi mereka, rasa terimakasih yang tak pernah cukup aku katakan.

Namun, seringkali, aku harus siap bahwa setiap pertemuan harus berujung pada perpisahan. Seorang guru di bidang Speleologi pergi hari ini. Aku merasa harus menuliskan catatan tentang Beliau. Aku ingin mencatatnya di luar ingatanku yang mungkin akan pudar. Aku belum terlalu jauh mengenalnya dan tidak berkesempatan terlalu banyak untuk belajar bersamanya. Namun sekali lagi, Beliau adalah salah satu guru bagiku, Beliau membawa perubahan besar, Beliau tanpa perlu bicara langsung kepada tentang apa yang telah dilakukannya untuk masyarakat, menantang ego intelektualitasku, akademikku.

Seorang yang hanya lulusan kampus kecil, seorang yang mungkin tidak banyak belajar teori-teori ekonomi klasik maupun mutakhir, mampu bertahun-tahun mengabdi untuk masyarakat. Mampu mengajak ahli-ahli geologi, biologi, geografi, sosial dari kampus-kampus besar lainnya membaur untuk bersama-sama memberikan sumber kehidupan masyarakat, memberikan mereka air yang berada jauh di perut bumi. Beliau, membuatku semakin yakin, ilmu yang mampir kepadaku adalah milik mereka yang membutuhkan.

Ah, aku benar-benar merasa rugi tidak memiliki lebih banyak kesempatan berdiskusi dengannya. Perasaan sedih yang aku takut salah artikan sebagai kekecewaan tak sempat mencuri sepenuhnya ilmunya. Aku mendapati tiga bidadari cantik yang selalu menemaninya dari mengikuti rasa penasaranku tentang seperti apa sosok Beliau di keluarganya. Sekarang aku bisa menyimpulkan bahwa, waktu Beliau sudah cukup, Tiga bidadari tersebut yang mungkin akan meneruskan mimpinya. Toh jika tidak, berapa banyak orang sepertiku yang menganggap Beliau Guru. Aku yakin diluar ketidaksetujuan, baik-buruknya Beliau, banyak yang tidak rela mimpi Beliau dan kegelisahan Beliau berakhir begitu saja. Aku tentu saja berharap punya kesempatan untuk bersama-sama mewujudkan apa yang belum selesai dengan mereka yang segelisah aku hari ini.

"Siapa yang melanjutkan? Apa akan ada?"

Harus ada, jika tidak ada, mungkin aku yang harus melanjutkannya? Bukankah setiap pertemuan selalu memiliki tujuan besar?

Begitulah aku memahami sosok guru yang Allah mampirkan ke kehidupanku, seperti Mas Nikki, Seperti Mas Nyos, Seperti Pak Ratno, Pak Bud, dan Guru-Guruku yang telah pergi lainnya. Dan untuk Guru-Guruku yang masih ada waktu aku bersamanya, kucuri waktu untuk bersama mereka, karena hati dan jiwaku benar-benar butuh nutrisi untuk tetap waras.

Selamat jalan Mas Bagus Yulianto, Seorang Speleolog Indonesia, Speleolog yang dicintai kawan, masyarakat dan keluarga. Allah tentu saja sangat mencintaimu. Terimakasih ilmunya.



Kamis, 21 April 2016

Alam, Manusia dan Uang

Seorang ahli lingkungan, Henry David Thoreau, di awal tahun 70-an telah mengampanyekan untuk mulai merasakan karunia sumber daya alam lebih pada nilai intrinsiknya, bukan pada kebermanfaatan ekonominya. Hal tersebut adalah satu-satunya cara untuk melestarikan alam menurut Thoreau. Selain itu, Menurut ahli-ahli lingkungan terdahulu, Kegiatan ekonomi telah melampaui batas penggunaan sumber dayanya dan sudah mencapai pada tujuan-tujuan spiritual. Jika Thoreau menganggap hal tersebut adalah solusi untuk melestarikan alam, seorang ilmuwan sosial kontemporer di tahun 80-an, Baudrillard malah menganggap hal tersebut adalah sumber masalah. Bergesernya nilai guna kepada nilai simbol pada kegiatan ekonomi membuat proses produksi akan terus merespon permintaan konsumsi tak terbatas. Hal ini dikarenakan sensasi dan tujuan-tujuan spiritual memang pada dasarnya tidak terbatas.

Lalu dengan apik seorang Ahli lingkungan, Muir, mengatakan bahwa, masalah utamanya ada pada pemujaan terhadap komersialisasi yang merusak. Produsen akan terus merespon pergeseran nilai guna kepada nilai simbol atau nilai-nilai yang lain sesuai dengan pergerakan tren permintaan konsumen. Selama kita masih tidak merasa cukup “Memuja” Gunung yang gagah dan indah dan mulai mencari “Pemujaan” lain, yaitu uang dan materi, selama itu pula nilai intrinsik-pun pada akhirnya diperdagangkan, dan kembali lagi alam adalah sumber komoditasnya.

Susah payah ekonom berusaha merumuskan tingkat kepuasaan konsumen, agar lebih bijak mengatur sumber daya. Ekonom konvensional selalu berpendapat bahwa kepuasaan atas suatu komoditas akan turun pada titik tertentu. Namun, ada yang luput dari perhatian ekonom konvensional, yaitu keinginan konsumen untuk melakukan “distinction”, keinginan untuk terus menjadi berbeda dari yang lain, dan itu mungkin yang mulai harus dirumuskan oleh ekonom jika mampu. Karena jika kepuasaan atas komoditas mampu turun pada titik tertentu, kepuasaan menjadi berbeda akan terus bergulir dan alam adalah satu-satunya batasan manusia di bumi. Selama masih ada tempat-tempat yang dianggap perawan tak terjamah di alam ini, maka manusia akan terus berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan memproduksi simbol-simbol yang membuatnya berbeda dari yang lain. Sebagai contohnya menggunakan perhiasan-perhiasan hasil ekstraksi dari bumi atau malah berbondong-bondong berwisata di alam yang dianggapnya liar.

Kritik keras Muir mengenai jiwa-jiwa pemuja komersialisasi sebagai inti dari permasalahan sumber daya alam ini, membuat saya mulai berpikir bahwa segala usaha ekonom dalam menawarkan berbagai formula dan model untuk masalah sumber daya alam dan lingkungan ini malah menuju kepada arah yang salah. Kritik keras Muir menurut saya, jelas bukan sebuah panggilan kepada kita semua untuk merumuskan analisa manfaat dan biaya. Menominalkan nilai intrinsik, sensasi, simbol, spiritual dan variabel sosial lainnya malah membawa kita menciptakan sumber-sumber komersial baru seperti yang banyak dibahas oleh Baudrillard dalam bukunya mengenai Masyarakat Konsumsi. 

Bagi Ahli Lingkungan pada abad 19, alam adalah sumber dari segala hal spiritual, yang mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta Semesta Alam. Sehingga seharusnya menurut mereka, komitmen untuk melakukan pelestarian alam maupun konservasi, lebih didasarkan kepada tanggung jawab moral, rasa cinta kita kepada alam, bukan kepada hitung-hitungan ekonomi dan hanya menjadikan alam sebagai sumber bahan baku komoditas tertentu yang siap diperdagangkan. Namun, Mampukah Kita menjaganya karena cinta, bukan karena manfaat?

Ah, Ekonom lingkungan sepertinya memang sudah terlalu asik dengan terus menominalkan seluruh ketidakpastian rasa, sensasi, dan segala variabel sosial yang ada menggunakan skenario pemodelan kaum utilitarian yang sering kali mereka kritik. Seakan ekonom lingkungan adalah termasuk golongan pahlawan yang sedang berusaha menjaga alam, tetapi kenyataannya adalah segala usaha itu supaya alam mampu menunjang proses produksi komoditas tertentu sedikit lebih lama. Skenario penunda kehabisan sumber daya itu yang sering digadang-gadang dengan nama Keberlanjutan. Lebih menarik dan mengerikan lagi, semua skenario tersebut masih bisa ditawar, tergantung kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Mungkin begitulah manusia diciptakan, bukan hanya untuk melestarikan alam, tetapi juga memanfaatkannya. Namun sayangnya batas memanfaatkan itu benar-benar tak terhingga dan alam pada akhirnya memang pasti menyerah. Kita hanya harus menunggu dalam ketakutan tanpa usaha, berusaha untuk menjadi semakin takut, menikmati tanpa harus tau dan takut, atau mamahami dan berusaha berdamai dengan ketakutan. I dont know~

Rabu, 20 April 2016

Jalan

Rasanya Aku harus segera mengambil suatu perjalanan jauh sendiri. Aku banyak membaca akhir-akhir ini, bacaan yang jauh dari realita di sekitarku. Dan di akhir halaman buku-buku tersebut Aku menjadi penggerutu. Aku merasa betapa Aku hidup di lingkungan yang sebenarnya sudah ideal, namun pongah, dan berjarak kepada mereka yang lemah. Bahkan di sisi lain, Aku mendapati betapa sistem yang Aku ikut berlari setiap hari di dalamnya, menindas bahkan merampas milik mereka yang ingin hidup biasa saja. Kita merekonstruksi ideal di pikiran kita, mengejar kepuasan-kepuasan yang tak terhingga, memunculkan dan menyembah simbol-simbol baru. Siapa bilang kepuasan akan turun? Ya kepuasan terhadap komoditas atau barang tertentu akan turun? Tapi kepuasan akan simbol, suatu yang menarik untuk kita, sepertinya tidak akan turun. Kita mulai tercandu betapa nikmatnya menjadi berbeda, dipuji, dihormati, dicintai, maka dengan berbagai alat kita merangkak, memanjat, saling meninginjak satu sama lain untuk mendapatkan tepuk tangan di puncak sana.

Ah, benar saja kata lelaki yang pernah mencintaiku dulu di usia 20 tahun, Dia melarangku untuk membaca buku. Dia akan lebih mengajakku jalan-jalan daripada membiarkanku membaca buku yang menurutnya tidak tepat. Karena setelah membaca buku Aku akan terus mengomel sepanjang waktu dan mulai tidak bisa menerima betapa bodohnya sistem yang ada di masyarakat. Aku akan menjadi sedih setelahnya, sedih karena Aku tak mampu mendapatkan memahami mengapa sebuah sistem harus langgeng dan dilanggengkan jika kita mampu untuk menghentikannya. Hidupku, sebagai kelas menengah, tentu saja tak cukup buruk, sehingga aku menjadi tidak mudah mengerti betapa rumitnya dunia dan seisinya ini. Aku hanya bisa menerka-nerka dari sensasi yang aku rasakan sendiri, Apakah itu buruk, Apakah itu baik, kata seorang teman itu bahaya karena bisa menjebakku menjadi seorang yang Orientalis.

Hari ini, sekali lagi, setelah Aku memutuskan sedikit me-zoom out beberapa masalah minor yang awalnya adalah mayor, Aku menjadi banyak bertanya. Pertanyaanku membawa Aku kepada diskusi-diskusi yang kadang random. Aku juga memaksa diri membaca buku-buku apapun, berharap menemukan sejumlah titik terang atau pun petunjuk. Aku adalah gadis yang lumayan taat (jika bukan naif) untuk percaya kepada Tuhan. Maka Aku memegang teguh pernyataan bahwa Tuhan Maha Pemberi Petunjuk. Seperti mengais-ngais tumpukan jerami atau pasir untuk menemukan jarum emas yang harus kugunakan menambal compang-campingnya pemikiranku. Aku percaya, suatu hari jarum itu akan kutemukan.

Namun, tahukan apa yang paling brengsek dari membaca? Tentu saja menjadi gelisah, Bung! Tahapan jebakan dari membaca menurutku adalah sebuah perasaan yang membuncah setelah kita sedikit lebih tahu, pada titik itu biasanya seseorang akan terjebak pada ke-soktahu-an bahwa dia sudah cukup tahu. Beruntunglah mereka yang mampu untuk soktahu saja, karena ada yang lebih mengancam yaitu perasaan bahwa kita tidak tahu apa-apa, semakin tidak mengerti, dan gelisah tak berujung. Betapa malam-malam panjang lalu ku gunakan untuk memblender dan menyendok satu-satu formula atau informasi atau teori baru yang Aku dapat dari buku. Aku mencoba menikmati teksturnya dan mencoba memahami rasanya. Aku mencoba mencari, “Jadi intinya Dia mau bikin Apa sih?” Kadang, aku merasakan manisnya, pahitnya, asamnya, pedasnya. Kadang, aku merasa mual sendiri akan campuran rasa itu.

Maka rasa-rasanya, sudah cukup bacaan dan diskusi di sekitarku. Bukan cukup untuk selamanya, karena itu tidak pernah cukup. Aku ingin sekali mencukupkan beberapa makanan pembuka ini, yang kucerna sekarang ini, sesegera mungkin. Aku ingin berjalan yang jauh sekali. Aku ingin membenturkan kepala kepada dinding-dinding ketidaknyamanan hidup di luar sana, di luar mereka yang mungkin tidak pernah nyaman tapi terlihat bahagia. Tentu saja, aku juga harus membekali diri bahwa kenyataannya di manapun akan sama saja. Di sini ada orang yang menderita dan tidak bersyukur sepertiku, ada juga mereka yang mampu bersulang walau air tidak pernah datang membayar dahaga mereka.

Hanya saja, Ya, Aku harus berjalan jauh. Sangat jauh mungkin. Supaya tidak ada lagi yang mampu kurindukan karena setiap pertemuan menjadi sama saja. Mereka yang datang pada akhirnya pergi. Aku akan datang kemudian juga pergi. Supaya Aku tahu bagaimana tidak terikat kepada suatu tempat, suatu hal, suatu rumah, tetapi di saat aku berada di dalamnya, Aku mampu menikmati setiap detail dan denting waktu yang berjalan. Aku mampu menghirup aroma, menyimpan bebunyian, merasakan hembus udara menyapu kulitku, bersitegang, tidak percaya dan tertawa untuk saat itu saja. Tidak usah pedulikan esok. Karena esok perjalanan baru bisa sangat menyenangkan atau menyedihkan, maka kubersiap menerima apapun itu.

Aku ingin berjalan jauh, pada akhirnya memang bukan untuk siapa-siapa, tetapi kesadaran atas penguasaan diriku sendiri seutuhnya. Karena kamu tahu, kehilangan setengah dirimu itu bisa menjadi buruk jika kamu tak siap.

Bagaiman romantisme mengenai alam yang liar, embun pagi hari, daun kering menguning, ulat berjalan mencari yang hijau? Ya Tuhan, percayalah, romantisme adalah produk yang sangat bisa diciptakan, didaur ulang dan diproduksi massal. Aku merasa mampu kalau hanya harus memproduksi untuk diriku sendiri. Aku jelas tidak memerlukan orang lain untuk menciptakan romantisme seperti itu. Aku akan menciptakannya sendiri, jika suatu hari nanti ada yang tertarik dan memintaku berbagi, tentu saja aku akan memberinya dengan sangat mudah. Karena selama aku tidak kehilangan kekuasaan atas diriku sendiri, Aku tidak akan kehabisan romantisme dalam bentuk apapun. Namun, Aku takut seseorang akan merenggut diriku, faktor produksi romantisme-romantisme itu. Cara menghindarinya adalah, berjalan jauh bertemu sebanyak orang, supaya aku semakin mengenal siapa yang akan merenggut diriku dariku. Kekhawatiranku adalah bertemu dengan orang yang aku mau dengan sadar memberikan diriku padanya dan berharap dia mampu memproduksi romantisme sesuai dengan yang biasanya aku produksi.







Minggu, 10 April 2016

Dear Ibuk

Ibuk. Aku takut.

Bolehkah?

Ibuk, ketika engkau seusiaku, pernah kau mengalami hal semacam yang aku alami hari ini? Akhir-akhir ini aku berangkat tidur dalam keadaan menangis, terbangun juga menangis. Seperti ada saja hal yang ingin menguras habis air mataku. Aku tidak mau kalah, kuperbanyak air putih seperti pesanmu.

Ibuk, berada di usia lebih dari seperempat abad tanpa prestasi, apakah drama jika aku terus menangis dan ketakutan? Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku hebat dan aku bisa melewati ini semua. Hanya saja, aku berpikir, sepertinya aku terlalu payah menjadi seorang wanita. Pernahkah kau ada di kondisi seperti ini?

Ibuk, ketenanganmu itu dari mana datangnya? Kapan aku bisa mewarisinya? Ketika tidak ada yang percaya denganku, Mengapa kau teguh berada di sisiku? Menjawab semua pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan keyakinanmu. Ibuk, harus kulewati badai seperti apa lagi untuk mewarisi ketenangan semacam itu darimu?

Ibuk, Aku takut. Aku kehabisan kata-kata, mungkin aku mulai meracau dan mungkin kau tidak akan paham apa yang kukatakan. Aku bisa paham jika kau memilih untuk marah. Ibuk, aku rindu. Aku menciptakan jarak di antara kita. Aku merasa seperti seorang brengsek yang tetus-terusan berusaha membunuh rindu karena tidak cukup berani memulangkannya.

Ibuk, dia pergi, dia tak memberi kabar. Inikah rindu yang kau rasakan padaku? Ketika aku bisa saja melewati hatiku tanpamu, sedang kau menunggu kabar di sana? Ibuk. Aku ingin pulang, ke hari biasa, bertanya lagi, inikah mimpimu?

Akukah kebanggaanmu?

Clueless

I'm waiting and you're not calling. My heart shaking thinking that you will go chasing after something i don't like. It's just clueless sometimes, what i hate the most, is it the distance or the aim? 

I'll keep writing, my brain is just overcrowd, but i promise to my self to handle it. I won't bother you, i need my self, only my self.

Today, i want to let you go, you're not mine, your body, heart, and soul is belong to you. Everybody's body, mind and soul is never belong to anyone else. So you can make a plan as you pleased and chase after your dream as far as you want.

But someday, if you're coming back, i hope you bring a great stories that wipe away all my worries, shaking my heart with another way. You're someone i miss the most today, someone from another time scape. You'll do a great thing, i trust you, you're not doing it like the others.

Wait what? Am i hoping to much? Yes i think you do darling. Stop here.