Selasa, 11 Agustus 2015

uang

Aku mulai mengutuki bagaimana otakku sangat kesusahan jika harus berpikir sedikit lebih rumit. Malam ini aku merasa terancam, menyadari bahwa prosesku untuk mengedukasi diri mudah saja bisa tergantikan dengan hal yang lebih menggiurkan, mencari uang.

Aku mulai merasa dua puluh empat jam menjadi sangat amat kurang. Sedangkan dalam menjalani hari, aku terus saja mengantuk dan lapar jika otakku kupakai untuk berpikir keras. Bagaimana pada akhirnya malam-malamku selalu berujung dengan membuka laman website yang menjadi pasar business to business seantero jagat. Di sana aku tinggal melakukan hal yang disebut copy-paste atas tanggapan-tanggapan terdahulu. Membosankan, Namun aku juga berharap segera mendapatkan balasan dari pembeli di sana. Gila. Kupikir orang macam apa yang berpikir sebesar ini, mereka mempertemukan kebutuhan-kebutuhan manusia di luar sana, dan kami di sini yang sangat antusia menyambutnya, dalam rangka mencari sesuap nasi. Pasti mereka bukan sekumpulan manusia yang hanya ingin sesuap nasi. Ah, mencari sesuap nasi kubilang? apa iya itu yang mendesak saat ini bagiku? 

Jika sudah sangat jengah dengan apa yang kulakukan, aku memilih untuk mengadu kepada-Nya. Wah aku terlihat alim bukan? Aku sendiri ragu, aku bersujud untuk merayu-Nya agar email balasan segera datang, atau aku ingin curhat saja karena hal yang berhubungan dengan mencari uang menjadi sangat menjengahkan.

Di saat yang bersamaan, selalu ada excuse bahwa apa yang kulakukan adalah hal baik, aku mencarikan sesuap nasi untuk orang yang membutuhkan di sini, penjahit-penjahitku. Dan Alhamdulillah, sudah sewajarnya jika aku pun kebagian. Hmm. Mendadak pikiranku terganggu dengan kata "kebagian", ya mendapat bagian. Sampai berapa banyak? Karena deskripsi "kebagian" juga sering kali menjadi sebuah harapan terhadap digit yang lebih besar dan besar lagi. Ketika aku mulai memasukkan kebutuhan ini dan itu, aku ingin kebagian yang lebih banyak, dan aku menjadi makin tidak tenang, dan dua puluh empat jam makin kurang, dan aku semakin takut tidak bisa lagi curhat sama Dia, Dzat Yang Merangkulku ketika aku menggigil kebingungan sendiri. Aku takut, sangat takut meninggalkannya tanpa sadar, tanpa menyesal, bahkan dalam perasaan bahwa aku sudah benar.

Semalam, tanpa sadar aku menceramahi temanku, kami tidak terlalu dekat sebelumnya. Ah tapi aku baru sadar, aku selalu banyak bicara ketika merasa sudah cukup dekat dengan seseorang. Tapi yang lucu ketika melihat kembali pembicaraanku kemarin, lebih kepada curhat daripada ceramah. Aku dengan yakinnya bicara agar dia tidak menjadikan uang sebagai tujuan utamanya. Bagaimana dengan bijaknya aku berujar bahwa uang itu sangat mudah dicari, jika kau minta uang, Allah akan memberikan uang. Seketika kata-kataku menampar halus pipiku sendiri, ya benar, akhir-akhir ini aku mudah saja mencari uang, memang tidak banyak, tapi cukup, selalu cukup untuk hidup sebagai Aku yang suka mengada-ada kebutuhan. Menjadi hal yang mengerikan ketika mengingat bahwa jaminan itu nyata, setiap aku minta uang, maka Allah akan memberi uang. Jangan-jangan selama ini aku hanya minta uang sehingga dengan mudah dia memberiku uang, ya hanya uang.

Detik ini, aku masih terus menggali-gali apa yang tersisa di otakku. Aku menyebut kata ilmu, rejeki dan keinginan menjadi shaliha dalam doaku yang kadang basah, kadang sangat kering. Aku mengingat-ingat lagi, bagian mana yang membuatku lebih semangat, lebih khawatir dan lebih percaya diri. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, bahwa aku tak pernah benar-benar meminta yang lain, selain rasa aman karena uang. Aku bersumpah detik ini, aku khawatir dengan diriku sendiri.

Maka Aku berlindung pada Sang Maha Pemurah, apa-apa yang terbaik untukku hanya untuk menjadi lebih dekat dengan-Nya. Aku memohon dijadikan hambanya yang mampu mengkonversi harapannya atas kata rejeki dari sederet digit menjadi sederet yang lain, sederet orang-orang baik misalnya.

Rabu, 26 Februari 2014

aku dan wanita

Hari ini sekali lagi muncul kegelisahanku terkait wanita, pun aku merasa aku bukanlah feminist. Setidaknya aku tidak benar-benar mempelajari faham atau gerakan itu terlalu dalam. Kegelisahanku hanya muncul karena melihat permasalahan di sekitarku, sebagai sesama wanita, dan seringkali sangat personal dan emosional.
                                                                                                     
Diam-diam aku mengikuti beberapa gadis di jejaring sosial dan mengamati beberapa gadis lainnya di dunia nyata. Mereka tak bisa disebut sebagai temanku, tapi menarik perhatianku. Begitulah aku begitu mudah jatuh cinta dengan hal sepele. Dan cinta itu merambah pada rasa sayang secara virtual lalu sering tanpa sengaja mereka muncul pada saat-saat yg memiliki kasualitas yang dekat.
                                                                                             
Mereka adalah gadis-gadis yang mungkin seumurku, bahkan ada yang lebih mudah dariku, namun tidak seberuntung aku. Tidak mendapat pendidikan, kehangatan keluarga yang cukup, lingkungan yang baik. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda yang dengan semena-mena kusebut sebagai ketidakberuntungan. Pada waktu-waktu tertentu aku ingin menangis dan memeluk mereka ketika mereka sendiri mampu berfoto atau muncul dengan make up tebal, senyum mengembang, rokok di tangan, baju super seksi.

Mungkin aku lah yang bisa disebut berpikir sempit atau suudzon, melihat mereka berpenampilan seperti itu mendadak mengkaitkan dengan hal buruk, dan timbul rasa kasihan. Naif.        
                                                       
Aku pun bukan sebaik-baiknya gadis, karena jika aku sangat baik mungkin aku tidak sedekat itu dengan kenyataan pahit yang selama ini mudah kujumpai. Tapi sekali lagi, aku mengklaim diri sebagi gadis yang lebih beruntung, hingga tak ada kepahitan sempurna yang mampu membuatku mendzalim diri sendiri.

Keresahanku semakin dalam ketika mendapati kenyataan bahwa mereka wanita yang lebih beruntung cenderung turut meremehkan bahkan memperolok gadis yang kurang beruntung. Berbagai sebutan buruk diberikan, seperti ingin menghakimi dan menghukum. Entah apa yang ada di pikiran mereka para wanita terhormat itu? Apa begitu sulit pengorbanan dan perjuangan mereka berada pada posisi itu sehingga ingin memotivasi seperti " jika aku bisa kamu juga bisa, jangan rendahkan diri sendiri". Jika iya, mungkin aku yang masih harus banyak belajar menjadi wanita. Karena mengapa mereka bisa sangat lembut jika jatuh cinta kepada lelaki, sedang sangat kasar dan seakan penuh benci kepada sesama wanita?

__Tulisan ini akan terus mengalir membuncahkan kegelisahan terdalamku yang selama ini muncul dan menghilang dalam keseharianku. Kadang aku merasa jangan-jangan aku yang "sakit" karena toh mereka selama ini baik-baik saja, tak ada yang begitu salah.__

Aku gadis yang tumbuh bebas, tetapi terpantau. Aku bagai tanaman yang dibiarkan tumbuh meliuk-liuk mengikuti cahaya matahari namun terus dipupuk hingga akarku menghujam dalam, dalam sekali ke tanah. Orangtuaku lebih senang menyebut teori mereka merawat anak sebagai bermain layang-layang. Selama tali dipegang dengan tarik ulur mereka percaya layang-layang mereka tidak akan putus walaupun terbang tinggi.

Entah apapun yang sihir yang mereka lakukan padaku, tak pernah lepas sedetikpun pesan mereka dari ingatanku. "Doa kami yang selalu menjagamu, kamu pasti bisa merasakannya"

"Lalu apa yang membuat mereka seperti itu buk?" Tanyaku.
"Mereka tidak mendapat doa yang cukup dari orangtuanya." Jawab Ibuku.

Sejak saat itu aku menyimpulkan aku gadis beruntung dan tidak semua gadis beruntung, beberapa dari mereka telah ditinggalkan orangtua mereka dengan berbagai macam carita, baik yang masih hidup maupun tiada. Lalu apa yang membuat kita merasa berhak memperolok-olok mereka sedang kita tidak tau betul apa yang ada di belakang mereka?

"Keluarganya baik-baik aja kok, dia aja yang..." , we never know, we will never know.

Aku jatuh cinta pada senyum mereka. Aku menangis membayangkan apa yang terpaksa mereka lakukan, yang tak akan mampu kulakukan. Aku berdoa semoga Tuhan mengirimkan lelaki terbaik yang mampu memuliakan mereka. Aku berharap memiliki keberanian berkata langsung pada mereka: kuatkan, jaga, edukasi, hargai dirimu sendiri! Aku bermimpi suatu hari nanti aku akan memeluk mereka, bertanya apa yang bisa kubantu?

Namun aku takut jika mendapat jawaban, "Kau tak akan mengerti" , karena aku memang tak mengerti, tak akan mengerti.






                                                     

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
                                           
                                                                                           

Sabtu, 27 Juli 2013

Enjoy your Lunch, It's all about Social Networking

Have you ever really hard to hold yourself on tweeting and posting all the things that pass your mind? Or you've been trying so hard to keep your good image, even your bad image in social network? Yap! these times, even to be a bad boy you need to sharp your own self and the people opinion. I don't really understand, since when did it become so important, building the image on the public. Or maybe you're the kind of people who daily and loyally scroll down the timeline of someone you like? let's simply call it stalking. hahaha i'm one of them.

But for me, the most fun part of Social Networking is not the opportunity to build an image for yourself, even it works well indeed. For me, it's fun when you're enjoy playing alter ego and let people respond your stupid attitude with a serious view while you can only laugh. They act like they know all the best, start to say what is good for you and what they probably do if they were you. Hey, you have to appreciate their good willing for you anyway, but you have the right to take or leave it, it's all up to you. And the right to laugh freely in the back is your biggest joy :D

Sometimes, it's quite surprising that even your closest person start to respond with a serious way as well and worry about what people might think, like she/he doesn't know you at all. Yes sometimes, these little things grow to be some massive problems. And you're just keep wondering, "how could you judge me like that? Who you are, stranger of my life?"

I remind you, don't really get surprised if the purpose of your attitude just for fun. Fun for you, it's not always fun for them. And maybe this is the time to know who can really understand you.

Life is fun, too much fun, and social networking make it complete (if you don't wanna say make it stupid) ...



Jumat, 26 Juli 2013

For you My Girl

Aku ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini telah membantuku merasa sangat bahagia satu tahun ini. Satu tahun yang kupikir sebelumnya akan sangat berat untuk dilewati. Satu tahun yang membayangkan saja aku ngeri. Satu tahun setelah kita kehilangan orang yang pernah berada di separuh hatimu. Aku tidak bermaksud mengenang masa lalu dan mengabaikan bagaimana perasaan pasanganku sekarang jika membaca ini.
Aku malah ingin berterimakasih pada dia yang sekarang telah membantuku melewati semua ini.

Aku ingin menulis untuk salah satu sahabat terbaikku yang mungkin sedang mengalami saat terberat yang pernah kualami. Ini bukan tulisan melankolik seperti yang kamu harapkan, tapi akan terlihat cengeng sekaligus arogan di beberapa tempat.

.................

Dear you my girl, i don't know how should i start to tell you about this. I mean if i said that i lost my half heart one year ago, maybe you'll say that you lost your full heart some months ago. Love is all about giving all the best for someone you think really special at the time that we hope to be eternal flame. The best is the best for us who has been giving so much effort to make it work. But whe should realize at the very end, the ammount for the best sometimes pretty blur at all. We said it's all my best, but for him that's nothing, not enough and there are so much better than we gave. He could gave us much more better effort and sure he ask the worth pay with his own standard.

Actually that's not a big problem if the communication works well. But sometimes how much you say that you love him, there still a big wall stand up beyond you and him. There are so much points that you force to fit on him. Then you're getting too bussy ignoring and merging your differences because both of you had already said that you accept and love him just the way he is. But how long it would last for "just the way you are?" One year, two years, three years, four years? Waiting the time bomb to explode. And you forgot to enjoy the togetherness itself, with all kind the differences still exist. That's love who let both of you live with your own characters, no need too much change to love each other.

You have so much pain, so has your boyfriend. When you feel so tired you have to recognize that the love is disappear right now. There should be no tired in loving! And both of you pushing it so hard to add just one more time, one more year, one more chance to find that miracle. You said it miracle, because now you understand how hard it is to reunite the broken glass. What are you looking for right now? The existence of relationship?

Let it go.. I know you've been trying so hard, giving all the best, so has him.

It's the time when you have to find the answer by yourself. Could you let someone you love go when he said you hurt him? When he ask you just go away and leave him alone? When he tell you there's someone better than you right now? When he tell you that you make him feel so tired? When he give up on everything that you've been pushing together?

Girl, hold up your head high. We're too young for being too sad and feel sorry too deep on this life. And we never really know what is love so clear. But when you're trying to understand your own heart, it's you who could free all his pain.

There are so much ways to make yourself stronger right now, after a half your heart went away. I think every girl knows well how to wipe the grey away. Let yourself get the joy and the optimism, see even your fingers are beautiful. Do your hobbies with your beautiful fingers, now it's completely yours. Those fingers that you used to get the scar tissues before. Well, there are will be some stage of sadness who come and go anytime they want. They'll ruin your mood easily, bring you back to some sweet memories that hurt your heart. And you cry again and again, make you swear this is the last cry, but it won't.

Then you keep wondering how could someone go to another heart easily. You curse at them, say that they are ignorant and heartless people. Hey honey, i'm one of them. I let someone come in to my heart again too fast, too early, that's what i thought before. Maybe God love me as well, or maybe He tests my patience in waiting The Mr. Right. But, when you're in my position you'll understand this is your affirmation of your own said a long long time ago. "Maybe we have to meet the wrong person before we meet the right person".

I'm just so happy right now that i could let everything flow with my Trust in God. I'm not find the better person, but i've just found someone who fit me more. We have so much differences in taste and thought, but we hate the same things. We are not good people at all, do so much stupid things but we try find the way to get better, together. Not trying to change each other to be what we want, but listen more, learn  more, don't agree more, understand more.

You, just don't get too sad, let yourself happy. Let someone out there find your bright shines, let him find your unique character, you specific personality and try to do the same things on him.

Then the last thing, Why in hurry? we're just too young..



#Soundtrack: Bruno Mars - When i was your man, Hoobastank - The Reason, Billy Joel - Just The Way You Are





Selasa, 23 Juli 2013

Aku ingin Jogja Mencintai dirinya sendiri


Jogja adalah kota yang membuatku penasaran sejak jaman SD. Kecintaanku pada majalah bekas menarikku membaca sebuah artikel tentang kota Jogja. Sebuah kota yang memberi ruang publik yang lebih banyak bagi para pesepeda, pejalan kaki dan kutu buku. Membayangkan bersepeda di bawah pohon-pohon rindang yang jauh dari polusi sambil menikmati anggunnya Merapi dari kejauhan. Lalu duduk di sebuah taman kota untuk membaca buku. Dalam benakku memang tertanam image bahwa Jogja adalah kota Pelajar. Lalu Mengapa wisatawan berbondong-bondong ke Jogja?

Ternyata Mereka sebut juga Jogja sebagai kota Budaya. Aku yakin warga Jogja asli tidak begitu merasa spesial disebut seperti itu. Karena warga Jogja hanya menjalani kehidupan dengan tradisi yang mereka cintai dan mendapatkan kenyamanan selama ini. Namun, warga dari luar kota berbondong-bondong ingin mengetahui resep rahasia “Jogja Berhati Nyaman” tersebut. Wisatawan mancanegara maupun domestik datang ke Jogja untuk wisata Budaya.

Harapanku semoga Masyarakat Jogja asli memahami daya tarik yang mereka miliki. Bukan pembangunan fisik dan kemudahan-kemudahan bertransaksi seperti kota Metropolitan lainnya yang harusnya ditingkatkan. Namun budaya-budaya dan nilai luhur keseharian mereka yang selama ini menjadi panutan masyarakat dari kota lain. Aku ingin Jogja nyaman menjadi dirinya sendiri sebelum memberi kenyamanan bagi pendatang. Aku ingin Jogja mencintai budayanya sendiri tetapi juga berwawasan luas. Sehingga seluruh masyarakat Jogja percaya diri menyambut wisatawan sebagai dirinya sendiri. Bukan menjual “Bakso Solo”, “Pecel Madiun”, “Penyetan Lamongan” walaupun sebenarnya mereka asli Jogja. Aku yakin kekhasan budaya lokal mampu membawa kesejahteraan ekonomi bagi warga Jogja sebagai dampak pariwisata.

Jika masyarakat Jogja telah mampu percaya diri dengan budayanya, aku yakin banyaknya pendatang musiman (Wisatawan) dan pendatang semi permanen (Pelajar) tidak membuat warga Jogja risih. Aku ingin warga Jogja mau terbuka bagi kami para pendatang. Membagi budaya jawa yang arif dan sangat kaya. Mengajak memakai batik yang modis dari pada hotpants, mengajak makan di angkringan, mengajak menonton pertunjukkan tarian Ramayana dan sebagainya. Namun kecintaan tersebut tidak membawa masyarakat Jogja menjadi primordialis dan kaku. Justru sebaliknya juga mampu mebuat warga Jogja menghargai budaya para pendatang untuk bekerja bersama-sama demi kemajuan Kota Jogja.


Dan hal terakhir yang tidak kalah penting adalah Aku ingin Jogja menjaga dan melestarikan alamnya. Mencintai budaya seharusnya diperindah dengan mecintai alam.  Karena Alam lah yang selama ini menaungi kita untuk mengembangkan Budaya. Jika kita tidak bisa membuatnya tumbuh subur, paling tidak  janga merusaknya, jangan menyakitinya. Lakukan hal-hal kecil yang tidak perlu mengambil waktu kita yang katanya mahal. Ini semua bukan tentang menanam mangrove dan pohon jati untuk diliput media atau dibawa ke jejaring sosial. Ini lebih pada berkegiatan dan berwisata dengan arif. Tidak membuang sampah itu harus, namun kerusakan vegetasi adalah masalah serius. Kadang arti mencintai yang sejati adalah rela memujanya dari kejauhan dan membiarkan dia tumbuh senatural mungkin. Mampukah kita membiarkan alam kita lestari menggeliat indah tanpa ke sok tahuan kita?

Senin, 15 Juli 2013

Barang Hilang

Hari ini ku kehilangan dompet jajan yang berisi kartu atm dan uang sekitar 30ribuan.
Pacarku mengomel sepanjang jalan
Aku masih tidak paham mengapa dia terus mengataiku
Kenapa dia terus berusaha membuatku tidak ikhlas dalam keikhlasanku
Padahal sering dia bilang, daripada mengomeliku beri saja aku uang
Aku tidak minta uang, aku minta diantar pulang
Dia terus menyuruhku mengingat-ingat
Kami pun lalu menyusuri tempat kami sesorean tadi satu-satu
Kalaupun ketinggalan pasti sudah diambil orang katanya
Aku heran saja, sudah tau begitu kenapa mengajak mencari?
Sepertinya dia hanya bingung dengan kekesalannya sendiri
Kekesalan atas kenyataan bahwa aku tidak kesal

Kekesalan bahwa aku mudah saja membiarkan "yang berharga" hilang begitu saja
Jangan lagi bilang, "kalau dengan barangmu saja kau seenaknya, bagaimana dengan cintamu?"
Aku sudah pernah dengar sayang, ketika sepedaku hilang
Ketakutan seseorang yang menyamakan dirinya sendiri dengan barang
...yang memang layak hilang
Kamu jangan takut :)

Ingatkah ketika kau kutraktir makan ketika sepatu reebokmu hilang?
Kreatiflah dalam mencinta, it's all about timing!






Kamis, 27 Juni 2013

Catatan Pendakian Gunung Indonesia

Selamat malam.

Tulisan ini sungguh tak bermaksud membunuh semangat-semangat pendaki atau petualang muda yang ingin mengenal tanah airnya lebih dalam. Tentu saja karena Soe Hok Gie dengan indahnya telah menginspirasi pemuda-pemudi Indonesia untuk cinta tanah air dengan cara mengenalnya secara langsung, bukan melalui slogan-slogan melulu. Dan generasi pendaki/petualang terdahulu yang telah terfasilitasi dengan teknologi sehingga menularkan candu atas keindahan alam indonesia bukan hanya bermaksud pamer semata.

Beberapa minggu lalu saya mendapat kiriman foto dari teman-teman di gunung Semeru Jawa Timur. Siapa yang saat ini tidak ingin pergi kesana? Teman-teman awam pun sekarang merencanakan perjalanan hebat untuk meraih puncak Mahameru. Kiriman foto tersebut berisi Ranu Kumbolo yang penuh dengan tenda warna-warni, "Kayak cendol" kata teman saya. Bahkan untuk di beberapa titik jalur pendakian terjadi keantrian. Ya, sekarang macet tidak hanya di jalanan kota, tapi di gunung. Dulu keindahan city light yang sering diposting di jejaring sosial, sekarang di gunung. Jejaring sosial, generasi trending topic hehehe

Kata teman saya Lebhus, "awakmu pernah delok wong munggah gunung nggae rok?munggah gunung gendong bayi? nang pos istirahat nyusui bayine? (Kamu pernah lihat naik gunung pake rok? naik gunung gendong bayi? di pos istirahat menyusui bayinya?). Jujur jika ketemu langsung di sana, pasti saya mikir ahh so sweet bawa bayinya ke gunung, saya juga mau besok kalau punya anak bayi saya ajak ke gunung. Pasti saya semangatin mbak-mbak yang maksa naik gunung pake rok, semangat mbak, mbak pasti bisa mencapai puncak.

Ya bagaimanapun caranya, saat ini kita berbondong bondong menuju puncak, dengan berbagai macam tujuan. Saya tidak perlu membahas tujuan tersebut, setiap orang memiliki tujuannya masing-masing seperti note tentang gunung yang pernah saya tulis 2 tahun lalu. Yang pasti seperti selera pasar yang bergeser kepada petualang (ekstrim ?) ini meningkatkan permintaan akan wisata di daerah tersebut. Sekilas ini terasa positif. Dengan begitu masyarakat akan mendapat penghasilan tambahan dari warung, transportasi, dan segala tetek bengek yang dibutuhkan para pendaki ini. Dan pendapatan retribusi yang diperoleh desa akan naik. Selanjutnya akan terjadi pembangunan desa dan masyarakat akan sejahtera bahagia selamanya. Manis bukan?

Namun kenyataannya tidak seindah harapan, konon katanya (semoga ini gossip, tapi saya yakin ini bukan gossip), bahwa kas yang masuk untuk kepentingan masyarakat desa tidaklah banyak. Mungkin ini menjawab komentar seorang teman kemarin, "kenapa harus membatasi kuota pendaki, padahal warga Ranupane (warga sekitar beskem pendakian) pasti senang kalau banyak pendaki?". Kenyataannya, banyak atau tidak pendaki, tidak terlalu menambah kesejahteraan masyarakat di sana. Saya bicara memang tidak menggunakan data, hanya cerita-cerita dari beberapa teman yang menjadikan gunung seakan halaman belakang rumahnya untuk bermain. Seakan rumahnya untuk pulang di kala penat kota, bertemu penduduk asli, bukan sekali, tapi sudah sejak lama sekali.

Duh, mungkin benar pendapat bahwa seakan pariwisata menggeliat, makin semarak dan masyarakat lokal akan segera mendapatkan trickle down effectnya. Namun sesungguhnya yang memegang dan mendapat hasil manisnya hanya orang-orang itu saja. Tetap saja para pemodal besar dan pemerintah yang sering datang terlambat untuk meminta retribusi.

Kalau sama-sama tidak mendapat hasil kesejahteraan ekonomi yang membaik ya mending wisata petualangan ini kembali seperti dulu. Ketika tidak sebanyak ini orang yang datang, ketika setiap pendaki mengenal penduduk-penduduk di sekitar beskem, ketika pendaki mengenal Mbah Pujo - Mbah Pujo dan mampir ngopi/ngeteh. Ketika pendaki tidak hanya keluar masuk desa untuk lewat dan transit sebelum mendaki. Saat ini saya rasa penduduk sekitar sudah tidak peduli pendaki keluar masuk desanya, mereka mungkin hanya membatin apa yang orang-orang ini cari sembari tetap melakukan aktivitas sehari-harinya. Sedang kita berjalan gagah dengan atribut pendaki yang serba trendi tanda petualang sejati. Tak ada pembicaraan, tak ada berbagi pikiran, hanya numpang lewat.

Ya sekian mungkin ini hanya sebuah wake up call bagi saya sendiri sebagai pendaki baru dan teman-teman yang memang berniat tulus menikmati alam indonesia. Saya sendiri termasuk orang-orang yang dulu sering posting foto-foto di puncak dan manas-manasi teman-teman saya untuk naik gunung. "Seumur hidup sekali saja kau harus naik gunung, dan kau akan ketagihan" Kata saya 2 tahun lalu. Saya yang tidak terlalu dewasa dan masih sangat bangga mengibarkan bendera di Puncak.

Mari kita kawal bersama-sama peraturan-peraturan indah yang dibuat pengurus Taman Nasional - Taman Nasional tersebut. Sampah bawah turun, safety first, hindari peak season, bayar retribusi! Dan satu hal, berinteraksilah dengan para tuan rumah di sana. Saya yakin pendaki-pendaki hebat yang mencintai alamnya pasti paham kapan harus tinggal di rumah, kapan harus mendaki.