Aku mulai mengutuki bagaimana otakku sangat kesusahan jika harus berpikir sedikit lebih rumit. Malam ini aku merasa terancam, menyadari bahwa prosesku untuk mengedukasi diri mudah saja bisa tergantikan dengan hal yang lebih menggiurkan, mencari uang.
Aku mulai merasa dua puluh empat jam menjadi sangat amat kurang. Sedangkan dalam menjalani hari, aku terus saja mengantuk dan lapar jika otakku kupakai untuk berpikir keras. Bagaimana pada akhirnya malam-malamku selalu berujung dengan membuka laman website yang menjadi pasar business to business seantero jagat. Di sana aku tinggal melakukan hal yang disebut copy-paste atas tanggapan-tanggapan terdahulu. Membosankan, Namun aku juga berharap segera mendapatkan balasan dari pembeli di sana. Gila. Kupikir orang macam apa yang berpikir sebesar ini, mereka mempertemukan kebutuhan-kebutuhan manusia di luar sana, dan kami di sini yang sangat antusia menyambutnya, dalam rangka mencari sesuap nasi. Pasti mereka bukan sekumpulan manusia yang hanya ingin sesuap nasi. Ah, mencari sesuap nasi kubilang? apa iya itu yang mendesak saat ini bagiku?
Jika sudah sangat jengah dengan apa yang kulakukan, aku memilih untuk mengadu kepada-Nya. Wah aku terlihat alim bukan? Aku sendiri ragu, aku bersujud untuk merayu-Nya agar email balasan segera datang, atau aku ingin curhat saja karena hal yang berhubungan dengan mencari uang menjadi sangat menjengahkan.
Di saat yang bersamaan, selalu ada excuse bahwa apa yang kulakukan adalah hal baik, aku mencarikan sesuap nasi untuk orang yang membutuhkan di sini, penjahit-penjahitku. Dan Alhamdulillah, sudah sewajarnya jika aku pun kebagian. Hmm. Mendadak pikiranku terganggu dengan kata "kebagian", ya mendapat bagian. Sampai berapa banyak? Karena deskripsi "kebagian" juga sering kali menjadi sebuah harapan terhadap digit yang lebih besar dan besar lagi. Ketika aku mulai memasukkan kebutuhan ini dan itu, aku ingin kebagian yang lebih banyak, dan aku menjadi makin tidak tenang, dan dua puluh empat jam makin kurang, dan aku semakin takut tidak bisa lagi curhat sama Dia, Dzat Yang Merangkulku ketika aku menggigil kebingungan sendiri. Aku takut, sangat takut meninggalkannya tanpa sadar, tanpa menyesal, bahkan dalam perasaan bahwa aku sudah benar.
Semalam, tanpa sadar aku menceramahi temanku, kami tidak terlalu dekat sebelumnya. Ah tapi aku baru sadar, aku selalu banyak bicara ketika merasa sudah cukup dekat dengan seseorang. Tapi yang lucu ketika melihat kembali pembicaraanku kemarin, lebih kepada curhat daripada ceramah. Aku dengan yakinnya bicara agar dia tidak menjadikan uang sebagai tujuan utamanya. Bagaimana dengan bijaknya aku berujar bahwa uang itu sangat mudah dicari, jika kau minta uang, Allah akan memberikan uang. Seketika kata-kataku menampar halus pipiku sendiri, ya benar, akhir-akhir ini aku mudah saja mencari uang, memang tidak banyak, tapi cukup, selalu cukup untuk hidup sebagai Aku yang suka mengada-ada kebutuhan. Menjadi hal yang mengerikan ketika mengingat bahwa jaminan itu nyata, setiap aku minta uang, maka Allah akan memberi uang. Jangan-jangan selama ini aku hanya minta uang sehingga dengan mudah dia memberiku uang, ya hanya uang.
Detik ini, aku masih terus menggali-gali apa yang tersisa di otakku. Aku menyebut kata ilmu, rejeki dan keinginan menjadi shaliha dalam doaku yang kadang basah, kadang sangat kering. Aku mengingat-ingat lagi, bagian mana yang membuatku lebih semangat, lebih khawatir dan lebih percaya diri. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, bahwa aku tak pernah benar-benar meminta yang lain, selain rasa aman karena uang. Aku bersumpah detik ini, aku khawatir dengan diriku sendiri.
Maka Aku berlindung pada Sang Maha Pemurah, apa-apa yang terbaik untukku hanya untuk menjadi lebih dekat dengan-Nya. Aku memohon dijadikan hambanya yang mampu mengkonversi harapannya atas kata rejeki dari sederet digit menjadi sederet yang lain, sederet orang-orang baik misalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar