Selasa, 23 Juli 2013

Aku ingin Jogja Mencintai dirinya sendiri


Jogja adalah kota yang membuatku penasaran sejak jaman SD. Kecintaanku pada majalah bekas menarikku membaca sebuah artikel tentang kota Jogja. Sebuah kota yang memberi ruang publik yang lebih banyak bagi para pesepeda, pejalan kaki dan kutu buku. Membayangkan bersepeda di bawah pohon-pohon rindang yang jauh dari polusi sambil menikmati anggunnya Merapi dari kejauhan. Lalu duduk di sebuah taman kota untuk membaca buku. Dalam benakku memang tertanam image bahwa Jogja adalah kota Pelajar. Lalu Mengapa wisatawan berbondong-bondong ke Jogja?

Ternyata Mereka sebut juga Jogja sebagai kota Budaya. Aku yakin warga Jogja asli tidak begitu merasa spesial disebut seperti itu. Karena warga Jogja hanya menjalani kehidupan dengan tradisi yang mereka cintai dan mendapatkan kenyamanan selama ini. Namun, warga dari luar kota berbondong-bondong ingin mengetahui resep rahasia “Jogja Berhati Nyaman” tersebut. Wisatawan mancanegara maupun domestik datang ke Jogja untuk wisata Budaya.

Harapanku semoga Masyarakat Jogja asli memahami daya tarik yang mereka miliki. Bukan pembangunan fisik dan kemudahan-kemudahan bertransaksi seperti kota Metropolitan lainnya yang harusnya ditingkatkan. Namun budaya-budaya dan nilai luhur keseharian mereka yang selama ini menjadi panutan masyarakat dari kota lain. Aku ingin Jogja nyaman menjadi dirinya sendiri sebelum memberi kenyamanan bagi pendatang. Aku ingin Jogja mencintai budayanya sendiri tetapi juga berwawasan luas. Sehingga seluruh masyarakat Jogja percaya diri menyambut wisatawan sebagai dirinya sendiri. Bukan menjual “Bakso Solo”, “Pecel Madiun”, “Penyetan Lamongan” walaupun sebenarnya mereka asli Jogja. Aku yakin kekhasan budaya lokal mampu membawa kesejahteraan ekonomi bagi warga Jogja sebagai dampak pariwisata.

Jika masyarakat Jogja telah mampu percaya diri dengan budayanya, aku yakin banyaknya pendatang musiman (Wisatawan) dan pendatang semi permanen (Pelajar) tidak membuat warga Jogja risih. Aku ingin warga Jogja mau terbuka bagi kami para pendatang. Membagi budaya jawa yang arif dan sangat kaya. Mengajak memakai batik yang modis dari pada hotpants, mengajak makan di angkringan, mengajak menonton pertunjukkan tarian Ramayana dan sebagainya. Namun kecintaan tersebut tidak membawa masyarakat Jogja menjadi primordialis dan kaku. Justru sebaliknya juga mampu mebuat warga Jogja menghargai budaya para pendatang untuk bekerja bersama-sama demi kemajuan Kota Jogja.


Dan hal terakhir yang tidak kalah penting adalah Aku ingin Jogja menjaga dan melestarikan alamnya. Mencintai budaya seharusnya diperindah dengan mecintai alam.  Karena Alam lah yang selama ini menaungi kita untuk mengembangkan Budaya. Jika kita tidak bisa membuatnya tumbuh subur, paling tidak  janga merusaknya, jangan menyakitinya. Lakukan hal-hal kecil yang tidak perlu mengambil waktu kita yang katanya mahal. Ini semua bukan tentang menanam mangrove dan pohon jati untuk diliput media atau dibawa ke jejaring sosial. Ini lebih pada berkegiatan dan berwisata dengan arif. Tidak membuang sampah itu harus, namun kerusakan vegetasi adalah masalah serius. Kadang arti mencintai yang sejati adalah rela memujanya dari kejauhan dan membiarkan dia tumbuh senatural mungkin. Mampukah kita membiarkan alam kita lestari menggeliat indah tanpa ke sok tahuan kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar