Jogja adalah kota yang membuatku
penasaran sejak jaman SD. Kecintaanku pada majalah bekas menarikku membaca
sebuah artikel tentang kota Jogja. Sebuah kota yang memberi ruang publik yang
lebih banyak bagi para pesepeda, pejalan kaki dan kutu buku. Membayangkan
bersepeda di bawah pohon-pohon rindang yang jauh dari polusi sambil menikmati
anggunnya Merapi dari kejauhan. Lalu duduk di sebuah taman kota untuk membaca
buku. Dalam benakku memang tertanam image bahwa Jogja adalah kota Pelajar. Lalu
Mengapa wisatawan berbondong-bondong ke Jogja?
Ternyata Mereka sebut juga Jogja
sebagai kota Budaya. Aku yakin warga Jogja asli tidak begitu merasa spesial
disebut seperti itu. Karena warga Jogja hanya menjalani kehidupan dengan tradisi
yang mereka cintai dan mendapatkan kenyamanan selama ini. Namun, warga dari
luar kota berbondong-bondong ingin mengetahui resep rahasia “Jogja Berhati
Nyaman” tersebut. Wisatawan mancanegara maupun domestik datang ke Jogja untuk
wisata Budaya.
Harapanku semoga Masyarakat Jogja
asli memahami daya tarik yang mereka miliki. Bukan pembangunan fisik dan
kemudahan-kemudahan bertransaksi seperti kota Metropolitan lainnya yang
harusnya ditingkatkan. Namun budaya-budaya dan nilai luhur keseharian mereka yang
selama ini menjadi panutan masyarakat dari kota lain. Aku ingin Jogja nyaman
menjadi dirinya sendiri sebelum memberi kenyamanan bagi pendatang. Aku ingin
Jogja mencintai budayanya sendiri tetapi juga berwawasan luas. Sehingga seluruh
masyarakat Jogja percaya diri menyambut wisatawan sebagai dirinya sendiri.
Bukan menjual “Bakso Solo”, “Pecel Madiun”, “Penyetan Lamongan” walaupun
sebenarnya mereka asli Jogja. Aku yakin kekhasan budaya lokal mampu membawa
kesejahteraan ekonomi bagi warga Jogja sebagai dampak pariwisata.
Jika masyarakat Jogja telah mampu percaya diri dengan
budayanya, aku yakin banyaknya pendatang musiman (Wisatawan) dan pendatang semi
permanen (Pelajar) tidak membuat warga Jogja risih. Aku ingin warga Jogja mau
terbuka bagi kami para pendatang. Membagi budaya jawa yang arif dan sangat
kaya. Mengajak memakai batik yang modis dari pada hotpants, mengajak makan di angkringan, mengajak menonton
pertunjukkan tarian Ramayana dan sebagainya. Namun kecintaan tersebut tidak
membawa masyarakat Jogja menjadi primordialis dan kaku. Justru sebaliknya juga
mampu mebuat warga Jogja menghargai budaya para pendatang untuk bekerja
bersama-sama demi kemajuan Kota Jogja.
Dan hal terakhir yang tidak kalah penting adalah Aku ingin
Jogja menjaga dan melestarikan alamnya. Mencintai budaya seharusnya diperindah
dengan mecintai alam. Karena Alam lah
yang selama ini menaungi kita untuk mengembangkan Budaya. Jika kita tidak bisa
membuatnya tumbuh subur, paling tidak
janga merusaknya, jangan menyakitinya. Lakukan hal-hal kecil yang tidak
perlu mengambil waktu kita yang katanya mahal. Ini semua bukan tentang menanam
mangrove dan pohon jati untuk diliput media atau dibawa ke jejaring sosial. Ini
lebih pada berkegiatan dan berwisata dengan arif. Tidak membuang sampah itu
harus, namun kerusakan vegetasi adalah masalah serius. Kadang arti mencintai
yang sejati adalah rela memujanya dari kejauhan dan membiarkan dia tumbuh
senatural mungkin. Mampukah kita membiarkan alam kita lestari menggeliat indah
tanpa ke sok tahuan kita?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar