Menurutku, seni yang baik adalah yang mampu membawa penikmat
seni tersebut kepada sebuah penciptaan seni selanjutnya, terlebih kepada sebuah
eksplorasi rasa dan pemikiran, mengenai apapun yang ada di sekitar kita.
Menarik sekali jika mengikuti yang Edgar Egas katakan, bahwa seni bukanlah apa
yang kita (sebagai pencipta seni) lihat, melainkan orang lain (penikmat seni)
liat. Maka benar, bahwa kemerdakaan interpretasi adalah hal paling substansif
bagi sebuah seni.
Pada dini hari ini, Aku mendapat hidangan sahur yang sangat
memuaskanku sebagai sebuah penikmat seni. Walaupun Aku hanya menonton
pertunjukan seni ini di sebuah stasiun televisi di hotel tempatku transit
malam ini, Aku dapat merasakan sebuah kemerdekaan sekaligus keberuntungan. Maka
aku, ingin sekali segera menuangkannya menjadi sebuah puisi, atau paling tidak
sebuah tulisan. Ada beberapa deret kata yang muncul liar setelah melihat
pertunjukan seni tari dari negeri gingseng ini. Penciptaan seni lain setelah menonton pertunjukan seni
tari ini menjadi sangat mudah. Namun, kali ini, Aku tidak akan banyak membahas
kepada detail mengenai seni tari ini. Aku akan menuliskan mengenai
pemikiran atau efek yang Aku dapatkan setelah menikmati pertunjukan ini.
Pada awal menonton pertunjukan seni tari ini, Aku langsung
dapat menarik satu hal, yaitu sebuah keseragaman atau kepemilikan atas suatu
hal yang sama. Maksudku adalah keseragaman asesoris dan atribut masing-masing
dari penari itu seakan ingin disimbolkan sebagai kesamaan hal yang dimiliki
oleh setiap individu oleh koreografernya. Hal tersebut bisa dilihat pada sebuah
benang yang diikatkan di bagian paha masing-masing penari dan menjadi obyek
atau alat utama dalam koreografi. Apa hal tersebut? Aku dengan kasual
menghubungkan kepada cinta atau perasaan. Ya masing-masing dari kita pasti
memiliki cinta dan perasaan yang masing-masing kita tanggapi, kita artikan,
kita beri porsi, kita gunakan, kita eksplorasi, kita ekpresikan dengan
berbeda-beda. Ada yang lugu dalam menyambut perasaannya, ada yang pongah dalam
mengesampingkannya, ada yang seronok dalam menampakkannya, ada yang khawatir,
minder, takut bahkan benci ketika harus dihadapkan pada kejujuran perasaannya
sendiri.
Namun, Aku tidak puas dengan interpretasiku sendiri soal
cinta pada tarian ini. Karena gerakan-gerakan yang muncul terus saja
mengeksplorasi bagian tubuh tertentu para penari, yang kesemuanya adalah wanita. Pun, eksplorasinya bukan
tentang keerotisan, tapi sesuatu yang lebih bisa kurasakan, sebuah fungsi tubuh
wanita dan menyangkut derivasi sosialnya. Aku merasa pertunjukan tersebut
berkutat pada organ-organ reproduksi wanita yang berdampak pada peran dan
kewajiban sosialnya, terkhusus lagi tarian tersebut seakan menyinggung mengenai
keperawanan.
Aku mengartikannya begitu karena yang digunakan pada tarian
tersebut adalah sebuah benang, sebuah hal yang tipis. Kita tentu sering
mendengar bagaimana keperawanan seringkali diidentikkan dengan selaput dara.
Sebuah hal yang belum terbukti benar, tetapi telah berhasil menciptakan sebuah
batasan, sebuah penghubung dan sebuah ikatan bagi banyak wanita. Batasan bahwa
jika hal yang tipis itu telah tertembus maka ada perubahan fungsi dan hak
sosial seorang wanita. Penghubung bagi wanita yang masih belum tertembus dan
sudah tertembus, bagaimana seorang wanita mampu merasa lebih baik dari yang
lain karena masih terus menjaga keperawanannya. Dan sebuah ikatan,
ikatan-ikatan ketakutan, ikatan-ikatan keraguan tentang keperawanan. Seorang
wanita ada yang bisa sadar menggunakan fungsi reproduksinya dan memilih untuk
perawan atau tidak, di lain hal, ada yang tidak mampu memilih, karena terampas
tanpa bisa melawan. Bagaimana benang tipis itu telah mengiris-iris hubungan,
menciptakan kelompok tipis, membangun tembok pongah, saling curiga di antara
kehidupan wanita. Benang yang akhirnya menjadi fokus wanita-wanita tersebut
untuk bergerak, dengan malu-malu, dengan ragu, dengan sombong, dengan liar. Sebuah
fungsi produksi yang harusnya bisa lebih sederhana pada akhirnya menjadi sebuah
momok bagi wanita-wanita tersebut. Sebuah benang yang mampu menyalurkan
resonansi getaran yang menggelisahkan atau yang menggoda. Yang mampu diekplorasi
atau dieksploitasi. Yang mampu menciptakan kesempatan untuk menjadikannya
komoditas.
Penari terus menari. Perasaanku terus terserak di antara
gerakan mereka. Aku melihat diriku dulu dan sekarang, diriku yang masih terus
saja menghakimi wanita lain. Aku mengingat-ingat lagi bagaimana caraku
berinteraksi dengan wanita-wanita lain, wanita yang aku tidak pernah tahu
peperangan macam apa yang sedang mereka hadapi. Seorang penari meliuk
kebingungan sedangkan yang lain meliuk menantang, mereka berinteraksi, seakan
ada sebuah percakapan, seakan ada sebuah transfer pemikiran, mungkin berawal
dari penghakiman atau penasaran. Hatiku lega, aku melihat bagaimana wanita
begitu cair dan lugu dengan perasaannya. Di suatu ketika bisa sangat mudah
menghakimi, kemudian disadarkan dengan perasaan. Siapa lagi yang mampu menggunakan
perasaannya secara sadar? Aku tidak bermaksud seksis, tetapi wanita adalah
juaranya.
Gerakan selanjutnya adalah sebuah gerakan yang selaras. Aku menjadi
lebih antusias. Mereka sudah tidak menggunakan benang lagi! Penari-penari
tersebut sudah tidak menari sendiri-sendiri, tidak ada yang seronok sendiri,
menantang sendiri, ragu-ragu sendiri, ketakutan sendiri, bingung sendiri.
Mereka sudah selaras, gerakan mereka semakin tegas, semakin mengeksplorasi
fungsi-fungsi tubuh mereka, tubuh yang berbeda-beda ukuran tetapi mampu
menghasilkan hal yang sama. Beberapa kali gerakan-gerakan tarian tersebut
menyentuh bagian pantat, perut, pinggul, dada. Aku mengartikan gerakan-gerakan
sebagai murni fungsi reproduksi, menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui. Lalu
kemudian disusul dengan gerakan kaki, tangan, kepala yang kuartikan sebagai
fungsi sosial, sebuah peran wanita dalam bekerja dan berpikir di ruang publik,
di proses produksi dan proses pengembangan pengetahuan, sejajar dan melengkapi
lelaki. Keduanya, baik berjalan bersama, masing-masing atau salah satu saja membuat wanita
menjadi manusia sepenuhnya, bukan setengah manusia.
Pertunjukan seni tari tersebut seharusnya memang menjadi
tontonan yang biasa saja ketika Aku sahur, tetapi penciptanya begitu jenius
mampu membawaku menari sendiri dengan pikiranku. Dan di akhir pertunjukan
tersebut aku bahagia, aku mendapat sebuah harapan, bahwa kehidupan wanita
selanjutnya akan selalu baik-baik saja, wanita akan selalu saling menguatkan
pada akhirnya. Tentu saja itu sebuah optimisme, yang mungkin kenyataannya tidak
seindah itu. Bahwa advokasi adalah hal yang masih sangat perlu untuk menemani
mereka yang ketakutan dan kebingungan sendiri.
Kuta, 27 Juni 2016
Kuta, 27 Juni 2016





Tidak ada komentar:
Posting Komentar