Minggu, 26 Juni 2016

Wanita: Fungsi Reproduksi dan Sosial

Menurutku, seni yang baik adalah yang mampu membawa penikmat seni tersebut kepada sebuah penciptaan seni selanjutnya, terlebih kepada sebuah eksplorasi rasa dan pemikiran, mengenai apapun yang ada di sekitar kita. Menarik sekali jika mengikuti yang Edgar Egas katakan, bahwa seni bukanlah apa yang kita (sebagai pencipta seni) lihat, melainkan orang lain (penikmat seni) liat. Maka benar, bahwa kemerdakaan interpretasi adalah hal paling substansif bagi sebuah seni.

Pada dini hari ini, Aku mendapat hidangan sahur yang sangat memuaskanku sebagai sebuah penikmat seni. Walaupun Aku hanya menonton pertunjukan seni ini di sebuah stasiun televisi di hotel tempatku transit malam ini, Aku dapat merasakan sebuah kemerdekaan sekaligus keberuntungan. Maka aku, ingin sekali segera menuangkannya menjadi sebuah puisi, atau paling tidak sebuah tulisan. Ada beberapa deret kata yang muncul liar setelah melihat pertunjukan seni tari dari negeri gingseng ini. Penciptaan seni lain setelah menonton pertunjukan seni tari ini menjadi sangat mudah. Namun, kali ini, Aku tidak akan banyak membahas kepada detail mengenai seni tari ini. Aku akan menuliskan mengenai pemikiran atau efek yang Aku dapatkan setelah menikmati pertunjukan ini.


Pada awal menonton pertunjukan seni tari ini, Aku langsung dapat menarik satu hal, yaitu sebuah keseragaman atau kepemilikan atas suatu hal yang sama. Maksudku adalah keseragaman asesoris dan atribut masing-masing dari penari itu seakan ingin disimbolkan sebagai kesamaan hal yang dimiliki oleh setiap individu oleh koreografernya. Hal tersebut bisa dilihat pada sebuah benang yang diikatkan di bagian paha masing-masing penari dan menjadi obyek atau alat utama dalam koreografi. Apa hal tersebut? Aku dengan kasual menghubungkan kepada cinta atau perasaan. Ya masing-masing dari kita pasti memiliki cinta dan perasaan yang masing-masing kita tanggapi, kita artikan, kita beri porsi, kita gunakan, kita eksplorasi, kita ekpresikan dengan berbeda-beda. Ada yang lugu dalam menyambut perasaannya, ada yang pongah dalam mengesampingkannya, ada yang seronok dalam menampakkannya, ada yang khawatir, minder, takut bahkan benci ketika harus dihadapkan pada kejujuran perasaannya sendiri.


Namun, Aku tidak puas dengan interpretasiku sendiri soal cinta pada tarian ini. Karena gerakan-gerakan yang muncul terus saja mengeksplorasi bagian tubuh tertentu para penari, yang kesemuanya adalah wanita. Pun, eksplorasinya bukan tentang keerotisan, tapi sesuatu yang lebih bisa kurasakan, sebuah fungsi tubuh wanita dan menyangkut derivasi sosialnya. Aku merasa pertunjukan tersebut berkutat pada organ-organ reproduksi wanita yang berdampak pada peran dan kewajiban sosialnya, terkhusus lagi tarian tersebut seakan menyinggung mengenai keperawanan.


Aku mengartikannya begitu karena yang digunakan pada tarian tersebut adalah sebuah benang, sebuah hal yang tipis. Kita tentu sering mendengar bagaimana keperawanan seringkali diidentikkan dengan selaput dara. Sebuah hal yang belum terbukti benar, tetapi telah berhasil menciptakan sebuah batasan, sebuah penghubung dan sebuah ikatan bagi banyak wanita. Batasan bahwa jika hal yang tipis itu telah tertembus maka ada perubahan fungsi dan hak sosial seorang wanita. Penghubung bagi wanita yang masih belum tertembus dan sudah tertembus, bagaimana seorang wanita mampu merasa lebih baik dari yang lain karena masih terus menjaga keperawanannya. Dan sebuah ikatan, ikatan-ikatan ketakutan, ikatan-ikatan keraguan tentang keperawanan. Seorang wanita ada yang bisa sadar menggunakan fungsi reproduksinya dan memilih untuk perawan atau tidak, di lain hal, ada yang tidak mampu memilih, karena terampas tanpa bisa melawan. Bagaimana benang tipis itu telah mengiris-iris hubungan, menciptakan kelompok tipis, membangun tembok pongah, saling curiga di antara kehidupan wanita. Benang yang akhirnya menjadi fokus wanita-wanita tersebut untuk bergerak, dengan malu-malu, dengan ragu, dengan sombong, dengan liar. Sebuah fungsi produksi yang harusnya bisa lebih sederhana pada akhirnya menjadi sebuah momok bagi wanita-wanita tersebut. Sebuah benang yang mampu menyalurkan resonansi getaran yang menggelisahkan atau yang menggoda. Yang mampu diekplorasi atau dieksploitasi. Yang mampu menciptakan kesempatan untuk menjadikannya komoditas.

Penari terus menari. Perasaanku terus terserak di antara gerakan mereka. Aku melihat diriku dulu dan sekarang, diriku yang masih terus saja menghakimi wanita lain. Aku mengingat-ingat lagi bagaimana caraku berinteraksi dengan wanita-wanita lain, wanita yang aku tidak pernah tahu peperangan macam apa yang sedang mereka hadapi. Seorang penari meliuk kebingungan sedangkan yang lain meliuk menantang, mereka berinteraksi, seakan ada sebuah percakapan, seakan ada sebuah transfer pemikiran, mungkin berawal dari penghakiman atau penasaran. Hatiku lega, aku melihat bagaimana wanita begitu cair dan lugu dengan perasaannya. Di suatu ketika bisa sangat mudah menghakimi, kemudian disadarkan dengan perasaan. Siapa lagi yang mampu menggunakan perasaannya secara sadar? Aku tidak bermaksud seksis, tetapi wanita adalah juaranya.


Gerakan selanjutnya adalah sebuah gerakan yang selaras. Aku menjadi lebih antusias. Mereka sudah tidak menggunakan benang lagi! Penari-penari tersebut sudah tidak menari sendiri-sendiri, tidak ada yang seronok sendiri, menantang sendiri, ragu-ragu sendiri, ketakutan sendiri, bingung sendiri. Mereka sudah selaras, gerakan mereka semakin tegas, semakin mengeksplorasi fungsi-fungsi tubuh mereka, tubuh yang berbeda-beda ukuran tetapi mampu menghasilkan hal yang sama. Beberapa kali gerakan-gerakan tarian tersebut menyentuh bagian pantat, perut, pinggul, dada. Aku mengartikan gerakan-gerakan sebagai murni fungsi reproduksi, menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui. Lalu kemudian disusul dengan gerakan kaki, tangan, kepala yang kuartikan sebagai fungsi sosial, sebuah peran wanita dalam bekerja dan berpikir di ruang publik, di proses produksi dan proses pengembangan pengetahuan, sejajar dan melengkapi lelaki. Keduanya, baik berjalan bersama, masing-masing atau salah satu saja membuat wanita menjadi manusia sepenuhnya, bukan setengah manusia.





Pertunjukan seni tari tersebut seharusnya memang menjadi tontonan yang biasa saja ketika Aku sahur, tetapi penciptanya begitu jenius mampu membawaku menari sendiri dengan pikiranku. Dan di akhir pertunjukan tersebut aku bahagia, aku mendapat sebuah harapan, bahwa kehidupan wanita selanjutnya akan selalu baik-baik saja, wanita akan selalu saling menguatkan pada akhirnya. Tentu saja itu sebuah optimisme, yang mungkin kenyataannya tidak seindah itu. Bahwa advokasi adalah hal yang masih sangat perlu untuk menemani mereka yang ketakutan dan kebingungan sendiri.

Kuta, 27 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar