Aku meringkuk sendiri di sebuah kamar hotel malam ini. Pendingin ruang di sebuah ruangan yang sempit sebenarnya sangat mubadzir. Tubuhku yang mungil dan tidak dikaruniai banyak lemak sebagai penghangat alami tentu saja agak menggigil. Aku mengenakan jaket walaupun pendingin ruangan ini sudah kusetel pada angka 28 derajat. Udara Jogja di luar kamar sepertinya juga sudah mulai dingin menjemput bulan Juni.
Aku masih ingin menulis, beberapa hal yang sebenarnya penting sekali untuk aku tuliskan sebagai pembelajaran di masa mendatang terbengkalai dengan kesibukanku akhir-akhir ini. Bahkan aku belum menyelesaikan sebuah pekerjaan utamaku untuk digunakan dalam beberapa hari ke depan. Mataku sudah mengantuk sekali. Aku ingin tidur. Namun, aku memaksa untuk menuliskan ini. Paling tidak aku akan segera melengkapinya.
Ah sudah berapa kali aku berkata demikian. Berjanji menulis sesuatu dengan lebih runtun dan dituliskan setelah melakukan research yang lebih mendalam. Pada akhirnya aku hanya mampu menceritakannya kepada beberapa orang terdekat. Semoga, ceritaku itu sederhana, runtut, dan mudah dipahami. Karena aku berharap apa yang ada di pikiranku ini tidak hanya lewat saja. Sehingga menularkan kegelisahan adalah hal yang sangat tepat ketika aku merasa sok sibuk.
Sebulan lalu aku mendapati kabar kurang menyenangkan dari teman-teman Kalisuci terkait pembangunan Bendungan yang tentu saja mengancam kegiatan pariwisata mereka. Pengelola Kalisuci, yaitu Kelompok Sadar Wisata Kalisuci agak semacam kebaran jenggot. Grup whatsapp yang aku ikuti yang berisi pemandu-pemandu dan kelompok pemerhati, pengawal, penggembira Kalisuci menjadi semarak. Beberapa teman dari ilmu fisik kemudian menyarankan untuk melakukan penghitungan debit air. Dan seorang yang memiliki akses kepada pemerintah Gunung Kidul berupaya mendapat penjelasan atau paling tidak melakukan advokasi sehingga pembangunan bendungan tersebut tidak sampai terjadi.
Aku, waktu itu tidak kalah gelisah. Buru-buru aku mengajak diskusi beberapa teman yang kupikir kompeten untuk mencari jalan keluarnya. Namun, alih-alih aku mendapatkan solusi, mereka bilang santai saja. Beberapa teman dari ilmu fisik berargumen bahwa, pembangunan bendungan tidak terlalu berdampak kepada kegiatan pariwisata Kalisuci, tetapi lebih pada dampak lingkungan, contohnya pendangkalan sungai dan yang lebih dikhawatirkan adalah dampak sosial ketika bendungan tersebut terbangun.
Bulan lalu aku ingin sekali ke Kalisuci, mendiskusikan ini lebih jauh. Selain itu aku juga merindukan mereka semua. Namun, aku ketrima kerja dan rencana itu agak terbengkalai. Serius, ini topik yang menarik jika ingin bermain-main dengan pengetahuan kita terhadap teori. Walaupun, tentu saja, aku juga gelisah karena mas-masku Kalisuci terancam pendapatan utamanya.
Dan malam ini aku mendapati teman saya, berhasil menuliskannya dengan baik di blognya dengan judul "Wacana Wisata" (Silahkan klik linknya jika ingin membaca). Sekali lagi aku bersyukur ada yang sudah menuliskannya dan aku lumayan merasa terwakili. Namun, aku berjanji segera menuliskan pendapatku atau beberapa hal yang aku tau, aku rasa, selama aku berada atau bermain di Kalisuci, selama kurang lebih lima tahun terakhir. Benar, Kalisuci punya pesona yang membuat kita bisa terikat kepadanya. Orang-orangnya, semuanya.
Ohya, ada satu hal lagi terkait sikap warga Kalisuci terhadap kegiatan pariwisata di Kalisuci, yaitu warga merasa belum mendapat dampak langsung atas adanya kegiatan wisata di Desanya selama lima tahun terakhir. Tapi ya, Kalisuci masih merangkak, memberikan beban kepadanya untuk memberi makan sebuah Desa adalah tidak adil. Tapi juga, ini adalah sebuah tamparan keras untuk pengelola Kalisuci memangkas jurang kesenjangan perekonomian yang malah muncul setelah ada kegiatan pariwisata. Aku jadi teringat dengan uraian pemikiranku mengenai konflik horisontal. Bagaimana faktor eksternal masuk dan memberi sebuah konstruksi sosial baru. Dan pariwisata telah sangat berhasil membuat sebuah konstruksi sosial baru, baik secara finansial maupun budaya, baik ke arah yang positif maupun negatif.
Ah sudah aku sudah tidak tahan oleh kantukku. Akan aku sambung segera. InsyaAllah.
Btw, ya aku rindu pulang ke Kalisuci dan disambut preman-preman berhati berlian itu. Semoga aku segera menemukan ritme kerja yang baik, sehingga di akhir pekan aku bisa datang dan mentraktir mereka semua dengan cinta!
*maaf jika alur tulisan dan kalimatnya buruk sekali. Ah mengantuk memang seharusnya tidur, bukan menulis,.
*maaf jika alur tulisan dan kalimatnya buruk sekali. Ah mengantuk memang seharusnya tidur, bukan menulis,.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar