Pernahkah kamu berada di hari yang terik dan menyempatkan mendongak ke atas sebuah pohon? Tiba-tiba batang pohon yang saling silang dan daun yang hijau muda maupun tua melambai membuatmu berpikir, "Apa yang bisa kulihat dari atas sana?" Angin menyapu lirih itu pasti, oh tidak, mungkin sedikit kencang, atau kencang sekali? Ah, aku tidak tahu. Namun, membayangkan aku adalah seekor burung dan sedang bersantai di salah satu dahannya, melihat ke bawah, di tempat anak manusia sedang memperjuangkan hidupnya dalam hiruk pikuk waktu yang tak pernah cukup, pasti membuatku tersenyum. Jika aku burung, mungkin aku tidak terlalu ingin terbang jauh, kesana-kemari, mencari makan. Aku burung yang masih sendiri, aku tidak sedang mencarikan makan untuk anak-anakku di sarang. Maka aku makan secukupnya apa yang ada di sekelilingku. Maka aku akan memilih salah satu batang pohon, menghabiskan siang yang terik di bawah daun yang agak tua supaya lebih rindang, dan tersenyum kepada sapuan angin.
Jika aku burung, aku juga akan membusungkan dadaku sembari bersiul, aku masih akan di dahan yang sama mungkin sedikit agak lama. Seorang anak manusia mendongak dengan mata menyipit karena matahari yang menerjang dari sela-sela daun pohon ini membuat matanya silau. Aku akan berkata, bahwa aku memang kecil, bahwa aku tidak sedang berburu apapaun, bahwa aku tidak sedang memiliki apapun, tapi aku melihat yang tidak manusia lihat. Aku melihat semuanya dengan teduh dari sini, jika, ya jika tidak ada gangguan dari manusia dengan membangun rumah-rumah penuh cermin atau mengecat mobil terlalu cemerlang. Ah barang-barangmu wahai manusia, memantulkan cahaya secara berlebih, aku takut buta.
Manusia, kamu bisa menyombongkan diri juga kepada burung jika mau. Katakan bahwa burung bisa disangkar kapanpun, bisa siap ditembak mati langsung atau ditembak dengan kamera lalu disebarkan foto cantiknta yang pada akhirnya tetap diburu untuk ditembak mati dan diawetkan. Kamu bisa sekali menciptakan bentuk lain dari sebuah deskripsi keindahan jika mampu menangkapnya. Namun, mengapa kamu memilih mendongak ke atas dan menyipitkan matamu? Padahal kamu tahu untuk melihat sesuatu yang di luar matamu biasa jangkau adalah usaha yang menyakitkan.
Tapi jika aku burung, maka aku akan berkata kepadamu manusia, bahwa aku mengagumi keteguhanmu dalam menikmati sakit matamu itu, mengatasi lehermu yang tengeng karena mendongak, menahan panas, hanya untuk merasakan, atau malah hanya membayangkan sentuhan angin yang sama dengan yang kurasa di atas sini, hanya untuk, hmm, mungkin terciptanya sebuah puisi. Maka, pohon ini adalah untukmu, maka aku berhenti di batang pohon ini tidak lagi untuk bersantai saja, aku burung bebas, aku tidak harus kembali ke sangkar. Jadi, seberapa lama kau inginkan aku di sini wahai manusia untuk membuatmu berpuisi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar