Jumat, 17 Juni 2016

Guilty

Selamat malam kekasihku, seandaianya kamu di sini, aku ingin bercerita.

Syifa sakit lagi. Kata Mbakku syifa terkena demam berdarah. Aku yang sedang merampungkan pekerjaanku mendadak lemas. Aku hanya merasa sangat bersalah. Aku merasa bersalah karena lebih memilih bekerja dan memenuhi rasa penasaranku sendiri daripada pulang ke rumah dan membantu Mbakku untuk mengurus produksi busana muslim miliknya.

Aku mencintai pekerjaanku, aku mendapat banyak ilmu di sini. Pemikiranku benar-benar ditantang untuk diimplementasikan pada suatu rencana detail dan jangka panjang. Kepada sebuah aksi yang nyata. Berada di pekerjaan ini, di kota ini adalah sebuah kesempatan untuk memanifestasikan kegelisahan dan sebuah aktualisasi diri yang tak terbatas. Aku bisa membayangkan diriku akan terus bertemu orang-orang hebat, kesempatan untuk bertemu dengan berbagai kelas manusia. Dari para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan yang ketika mereka hanya duduk bersama dan tersenyum, ketika mereka berkumpul untuk makan bersama, ketika mereka menjetikkan sebelah tangannya, nasib banyak orang bisa ditentukan saat itu juga. Aku akan bertemu manusia-manusia yang kepanjangan tangan dari Tuhan. Manusia yang merupa Tuhan. Di sisi lain aku akan bertemu manusia dari kelas bawah juga. Mereka yang siang dan malam berlari kencang tetapi akan berada di situ-situ saja. Mereka yang berada di antara hidup dan mati setiap harinya. Mereka yang berdoa untuk diberi sebuah kesehatan sepenuhnya atau jika tidak kematian sepenuhnya saja. Aku hanya ingin belajar di antara keduanya. Di antara tarik menarik keduanya.

Mbakku bertanya, berapa gaji yang kuminta, dan Dia tertawa. Aku tidak bisa marah. Dia tidak mengerti. Uang yang kudapat dari pekerjaanku sangat lumayan untuk tinggal dan hidup sejahtera seorang diri di kota ini. Namun, mbakku merasa dia mampu membuatku mendapatkan jauh lebih dari itu jika aku bersamanya. Bersama-sama membangun mimpi yang pernah kami miliki berdua. Mimpi yang saat ini tidak lebih besar dari penasaranku.

Namun, tahukah kamu merasa bersalah itu kadang rumit. Serumit aku merasa seharusnya aku berada di sampingnya. Sama ketika kita merasa seharusnya kita menemani orang-orang terkasih untuk melewati masa sulitnya. Sekarang ini aku sibuk. Pekerjaanku serasa tidak ada habisnya. Aku berjanji akan memanajemen waktuku untuk lebih baik. Semoga 6 bulan ke depan aku mampu menemukan ritme dan membantu Mbakku lagi.

Aku pernah memimpikan syifa menatapku tajam, seperti sedang marah kepadaku. Di mimpiku dia sama sekali tidak mau kusentuh, tidak mau kugendong. Aku memiliki keterikatan sendiri dengan syifa. Aku sempat menemani dia sebulan lebih ketika dia terbangun tengah malam. Aku yang mengganti popoknya, aku yang menenangkan tangis di malam hari. Ketika Mbakku terlelap dalam lelahnya seharian. Aku menangis ketika bangun setelah bermimpi syifa menatapku seperti itu.

Mbakku sibuk sekali. Seharusnya dia memang memiliki seorang partner, tapi dia terlalu ragu untuk memperkejakan orang baru. Paling tidak sebagai kepala produksi. Dia ingin aku segera pulang ke Surabaya, dan aku ragu aku bisa memenuhi permintaannya.

Tahukah kamu sayang, tidak bisa memenuhi permintaan orang yang sangat kita sayang itu menyakitkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar