Kamis, 30 Juni 2016

Malam di Bima

Malam ini di Bima sekali lagi terjadi perang antar kampung seperti yang diceritakan semua pihak yang aku temui dalam melakukan survei program untuk pekerjaanku ini. Mereka bercerita dengan menarik sekali, bahkan tidak ada ketakutan di wajah mereka. Seorang pria manis tertawa melihat wajahku yang refleks menyeringai ketika pada siang itu mereka bercerita mengenai perang antar kampung itu terlalu detail. "Jadi takut mbak ya?" Haha aku tertawa, entahlah, aku tidak takut hanya heran.

Besok pagi aku berencana jogging pagi di Lapangan merdeka. Aku sudah mulai merasakan bosan di hotel. Sedangkan untuk merencanakan perjalan 4 jam ke kaki gunung Tambora aku terlalu malas. Aku mengganti jadwal penerbanganku hari ini, yang seharusnya sabtu pukul 5 sore menjadi sabtu pukul 8 pagi. Aku berencana menghabiskan waktu lebih banyak ketika mampir di lombok. Jadi, di tengah aku mengerjakan laporan, kupikir aku butuh sedikit olahraga, dan jogging pagi di lapangan merdeka dan berfoto sedikit di bekas istana sulthan Bima pasti menarik. Namun, baru saja tadi manajer area programku ini mengatakan bahwa sebaiknya aku hati-hati jika jadi jogging besok pagi karena tengah terjadi perang antar kampung. Ah sialan sekali!

Dari dalam kamarku aku dapat mendengarkan suara ledakan, kupikir itu adalah salah satu bukti bahwa di luar memang sedang bergejolak. Men! di depan hotel aku menginap ada perang antar kampung, dan mungkin malam ini sebuah nyawa melayang, seorang anak manusia berpamitan dari hiruk pikuk kota Bima, seorang ibu kehilangan anaknya, dan petugas rumah sakit yang kudampingi siap menerimanya dalam keadaan terluka parah maupun mayat. Pun sekali lagi,besok pagi semua berjalan wajar. Mereka tetap berdagang seperti biasanya, seolah tak ada sesuatu yang terampas dari sebuah siklus kehidupan. Mereka bercerita dengan riang, kebiasaan mereka bertarung dengan menyebutnya hiburan, dengan menyebutnya hobi. Mereka tau itu salah, mereka tak mampu mengatasinya segera. Mereka yang sedang berperang tak akan membunuh atau merampas hak orang yang bukan menjadi musuh mereka. Bukan orang yang dianggap tak bersalah yang menjadi sasaran amuk mereka. Mereka tidak berniat membunuh fungsi dan kehidupan mereka sendiri, mereka baik-baik saja. Kadang, kita harus bisa menertawakan keburukan kita sendiri memang, menikmati kelucuan diri kita. Warga Bima, juara dalam hal ini, bencana sosial di depan mata, mereka menolak kalah, merek menolak teror dan rasa tidak aman.

Aku tidak sedang menghina atau mengkritik mereka. Malam di Bima, aku disuguhkan dua hal yang seharusnya adalah musibah, tetapi itu tak membuat mereka gentar. Banjir karena hujan yang sehari penuh tidak berhenti dan sekarang perang antar kampung. Mereka baik-baik saja, mereka tidak mengalami gagal fungsi. Lalu, malam ini aku berusaha memahami, apa yang bisa kuberi untuk mereka? Aku tidak ingin datang bersama sekelompok malaikat dan menjanjikan surga. Atau membawa setumpuk gambaran hidup ideal yang seharusnya mereka miliki dan jalani di tempat ini. Aku hanya ingin sekali lagi menemukan tempat pulang. Tempat yang mungkin di luar kebiasaan dan akal pikirku bisa terima. Tempat yang tidak selalu nyaman tetapi membuatku rindu.

Malam di Bima, sebuah negeri yang tak terbayangkan ada. Melewati gunung-gunung dan hutan yang lebat, berbatasan dengan laut yang biru dan lepas. Hatiku terpaut dalam rasa penasaran semangat mereka untkuk hidup lebih baik, mereka berusaha untuk siaga, mereka menyimpan dalam-dalam kegelisahan mereka mengenai seluruh fakta resiko bencana yang mereka miliki, mereka tertawa di siang hari, mereka memperjuangkan harga diri di malam hari.

Malam di Bima, segera aku akan kembali lagi di sini. Mungkin tidak dengan mendengar suara perang hanya dari hotel, tetapi berada di tengah-tengah mereka, di rumah seorang warga, dan keesokan paginya menikmati perjanjian perdamaian tanpa kata yang hanya ketika matahari bersinar.

Rabu, 29 Juni 2016

More

You want something more
You adore something more
You learn something more
You demand something more
You fight something more
You force something more
You draw something more
You run something more

Me is less

And you won't be there for me

Me is less

And you don't want more for me

Me is less

You don't hear more from me

Me is less

There's no more about me and you

But i miss you more

How could i get it less?


Bima, 30 Juni 2016

Minggu, 26 Juni 2016

Wanita: Fungsi Reproduksi dan Sosial

Menurutku, seni yang baik adalah yang mampu membawa penikmat seni tersebut kepada sebuah penciptaan seni selanjutnya, terlebih kepada sebuah eksplorasi rasa dan pemikiran, mengenai apapun yang ada di sekitar kita. Menarik sekali jika mengikuti yang Edgar Egas katakan, bahwa seni bukanlah apa yang kita (sebagai pencipta seni) lihat, melainkan orang lain (penikmat seni) liat. Maka benar, bahwa kemerdakaan interpretasi adalah hal paling substansif bagi sebuah seni.

Pada dini hari ini, Aku mendapat hidangan sahur yang sangat memuaskanku sebagai sebuah penikmat seni. Walaupun Aku hanya menonton pertunjukan seni ini di sebuah stasiun televisi di hotel tempatku transit malam ini, Aku dapat merasakan sebuah kemerdekaan sekaligus keberuntungan. Maka aku, ingin sekali segera menuangkannya menjadi sebuah puisi, atau paling tidak sebuah tulisan. Ada beberapa deret kata yang muncul liar setelah melihat pertunjukan seni tari dari negeri gingseng ini. Penciptaan seni lain setelah menonton pertunjukan seni tari ini menjadi sangat mudah. Namun, kali ini, Aku tidak akan banyak membahas kepada detail mengenai seni tari ini. Aku akan menuliskan mengenai pemikiran atau efek yang Aku dapatkan setelah menikmati pertunjukan ini.


Pada awal menonton pertunjukan seni tari ini, Aku langsung dapat menarik satu hal, yaitu sebuah keseragaman atau kepemilikan atas suatu hal yang sama. Maksudku adalah keseragaman asesoris dan atribut masing-masing dari penari itu seakan ingin disimbolkan sebagai kesamaan hal yang dimiliki oleh setiap individu oleh koreografernya. Hal tersebut bisa dilihat pada sebuah benang yang diikatkan di bagian paha masing-masing penari dan menjadi obyek atau alat utama dalam koreografi. Apa hal tersebut? Aku dengan kasual menghubungkan kepada cinta atau perasaan. Ya masing-masing dari kita pasti memiliki cinta dan perasaan yang masing-masing kita tanggapi, kita artikan, kita beri porsi, kita gunakan, kita eksplorasi, kita ekpresikan dengan berbeda-beda. Ada yang lugu dalam menyambut perasaannya, ada yang pongah dalam mengesampingkannya, ada yang seronok dalam menampakkannya, ada yang khawatir, minder, takut bahkan benci ketika harus dihadapkan pada kejujuran perasaannya sendiri.


Namun, Aku tidak puas dengan interpretasiku sendiri soal cinta pada tarian ini. Karena gerakan-gerakan yang muncul terus saja mengeksplorasi bagian tubuh tertentu para penari, yang kesemuanya adalah wanita. Pun, eksplorasinya bukan tentang keerotisan, tapi sesuatu yang lebih bisa kurasakan, sebuah fungsi tubuh wanita dan menyangkut derivasi sosialnya. Aku merasa pertunjukan tersebut berkutat pada organ-organ reproduksi wanita yang berdampak pada peran dan kewajiban sosialnya, terkhusus lagi tarian tersebut seakan menyinggung mengenai keperawanan.


Aku mengartikannya begitu karena yang digunakan pada tarian tersebut adalah sebuah benang, sebuah hal yang tipis. Kita tentu sering mendengar bagaimana keperawanan seringkali diidentikkan dengan selaput dara. Sebuah hal yang belum terbukti benar, tetapi telah berhasil menciptakan sebuah batasan, sebuah penghubung dan sebuah ikatan bagi banyak wanita. Batasan bahwa jika hal yang tipis itu telah tertembus maka ada perubahan fungsi dan hak sosial seorang wanita. Penghubung bagi wanita yang masih belum tertembus dan sudah tertembus, bagaimana seorang wanita mampu merasa lebih baik dari yang lain karena masih terus menjaga keperawanannya. Dan sebuah ikatan, ikatan-ikatan ketakutan, ikatan-ikatan keraguan tentang keperawanan. Seorang wanita ada yang bisa sadar menggunakan fungsi reproduksinya dan memilih untuk perawan atau tidak, di lain hal, ada yang tidak mampu memilih, karena terampas tanpa bisa melawan. Bagaimana benang tipis itu telah mengiris-iris hubungan, menciptakan kelompok tipis, membangun tembok pongah, saling curiga di antara kehidupan wanita. Benang yang akhirnya menjadi fokus wanita-wanita tersebut untuk bergerak, dengan malu-malu, dengan ragu, dengan sombong, dengan liar. Sebuah fungsi produksi yang harusnya bisa lebih sederhana pada akhirnya menjadi sebuah momok bagi wanita-wanita tersebut. Sebuah benang yang mampu menyalurkan resonansi getaran yang menggelisahkan atau yang menggoda. Yang mampu diekplorasi atau dieksploitasi. Yang mampu menciptakan kesempatan untuk menjadikannya komoditas.

Penari terus menari. Perasaanku terus terserak di antara gerakan mereka. Aku melihat diriku dulu dan sekarang, diriku yang masih terus saja menghakimi wanita lain. Aku mengingat-ingat lagi bagaimana caraku berinteraksi dengan wanita-wanita lain, wanita yang aku tidak pernah tahu peperangan macam apa yang sedang mereka hadapi. Seorang penari meliuk kebingungan sedangkan yang lain meliuk menantang, mereka berinteraksi, seakan ada sebuah percakapan, seakan ada sebuah transfer pemikiran, mungkin berawal dari penghakiman atau penasaran. Hatiku lega, aku melihat bagaimana wanita begitu cair dan lugu dengan perasaannya. Di suatu ketika bisa sangat mudah menghakimi, kemudian disadarkan dengan perasaan. Siapa lagi yang mampu menggunakan perasaannya secara sadar? Aku tidak bermaksud seksis, tetapi wanita adalah juaranya.


Gerakan selanjutnya adalah sebuah gerakan yang selaras. Aku menjadi lebih antusias. Mereka sudah tidak menggunakan benang lagi! Penari-penari tersebut sudah tidak menari sendiri-sendiri, tidak ada yang seronok sendiri, menantang sendiri, ragu-ragu sendiri, ketakutan sendiri, bingung sendiri. Mereka sudah selaras, gerakan mereka semakin tegas, semakin mengeksplorasi fungsi-fungsi tubuh mereka, tubuh yang berbeda-beda ukuran tetapi mampu menghasilkan hal yang sama. Beberapa kali gerakan-gerakan tarian tersebut menyentuh bagian pantat, perut, pinggul, dada. Aku mengartikan gerakan-gerakan sebagai murni fungsi reproduksi, menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui. Lalu kemudian disusul dengan gerakan kaki, tangan, kepala yang kuartikan sebagai fungsi sosial, sebuah peran wanita dalam bekerja dan berpikir di ruang publik, di proses produksi dan proses pengembangan pengetahuan, sejajar dan melengkapi lelaki. Keduanya, baik berjalan bersama, masing-masing atau salah satu saja membuat wanita menjadi manusia sepenuhnya, bukan setengah manusia.





Pertunjukan seni tari tersebut seharusnya memang menjadi tontonan yang biasa saja ketika Aku sahur, tetapi penciptanya begitu jenius mampu membawaku menari sendiri dengan pikiranku. Dan di akhir pertunjukan tersebut aku bahagia, aku mendapat sebuah harapan, bahwa kehidupan wanita selanjutnya akan selalu baik-baik saja, wanita akan selalu saling menguatkan pada akhirnya. Tentu saja itu sebuah optimisme, yang mungkin kenyataannya tidak seindah itu. Bahwa advokasi adalah hal yang masih sangat perlu untuk menemani mereka yang ketakutan dan kebingungan sendiri.

Kuta, 27 Juni 2016

Jumat, 17 Juni 2016

Guilty

Selamat malam kekasihku, seandaianya kamu di sini, aku ingin bercerita.

Syifa sakit lagi. Kata Mbakku syifa terkena demam berdarah. Aku yang sedang merampungkan pekerjaanku mendadak lemas. Aku hanya merasa sangat bersalah. Aku merasa bersalah karena lebih memilih bekerja dan memenuhi rasa penasaranku sendiri daripada pulang ke rumah dan membantu Mbakku untuk mengurus produksi busana muslim miliknya.

Aku mencintai pekerjaanku, aku mendapat banyak ilmu di sini. Pemikiranku benar-benar ditantang untuk diimplementasikan pada suatu rencana detail dan jangka panjang. Kepada sebuah aksi yang nyata. Berada di pekerjaan ini, di kota ini adalah sebuah kesempatan untuk memanifestasikan kegelisahan dan sebuah aktualisasi diri yang tak terbatas. Aku bisa membayangkan diriku akan terus bertemu orang-orang hebat, kesempatan untuk bertemu dengan berbagai kelas manusia. Dari para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan yang ketika mereka hanya duduk bersama dan tersenyum, ketika mereka berkumpul untuk makan bersama, ketika mereka menjetikkan sebelah tangannya, nasib banyak orang bisa ditentukan saat itu juga. Aku akan bertemu manusia-manusia yang kepanjangan tangan dari Tuhan. Manusia yang merupa Tuhan. Di sisi lain aku akan bertemu manusia dari kelas bawah juga. Mereka yang siang dan malam berlari kencang tetapi akan berada di situ-situ saja. Mereka yang berada di antara hidup dan mati setiap harinya. Mereka yang berdoa untuk diberi sebuah kesehatan sepenuhnya atau jika tidak kematian sepenuhnya saja. Aku hanya ingin belajar di antara keduanya. Di antara tarik menarik keduanya.

Mbakku bertanya, berapa gaji yang kuminta, dan Dia tertawa. Aku tidak bisa marah. Dia tidak mengerti. Uang yang kudapat dari pekerjaanku sangat lumayan untuk tinggal dan hidup sejahtera seorang diri di kota ini. Namun, mbakku merasa dia mampu membuatku mendapatkan jauh lebih dari itu jika aku bersamanya. Bersama-sama membangun mimpi yang pernah kami miliki berdua. Mimpi yang saat ini tidak lebih besar dari penasaranku.

Namun, tahukah kamu merasa bersalah itu kadang rumit. Serumit aku merasa seharusnya aku berada di sampingnya. Sama ketika kita merasa seharusnya kita menemani orang-orang terkasih untuk melewati masa sulitnya. Sekarang ini aku sibuk. Pekerjaanku serasa tidak ada habisnya. Aku berjanji akan memanajemen waktuku untuk lebih baik. Semoga 6 bulan ke depan aku mampu menemukan ritme dan membantu Mbakku lagi.

Aku pernah memimpikan syifa menatapku tajam, seperti sedang marah kepadaku. Di mimpiku dia sama sekali tidak mau kusentuh, tidak mau kugendong. Aku memiliki keterikatan sendiri dengan syifa. Aku sempat menemani dia sebulan lebih ketika dia terbangun tengah malam. Aku yang mengganti popoknya, aku yang menenangkan tangis di malam hari. Ketika Mbakku terlelap dalam lelahnya seharian. Aku menangis ketika bangun setelah bermimpi syifa menatapku seperti itu.

Mbakku sibuk sekali. Seharusnya dia memang memiliki seorang partner, tapi dia terlalu ragu untuk memperkejakan orang baru. Paling tidak sebagai kepala produksi. Dia ingin aku segera pulang ke Surabaya, dan aku ragu aku bisa memenuhi permintaannya.

Tahukah kamu sayang, tidak bisa memenuhi permintaan orang yang sangat kita sayang itu menyakitkan.


Sabtu, 04 Juni 2016

Puisi

Pernahkah kamu berada di hari yang terik dan menyempatkan mendongak ke atas sebuah pohon? Tiba-tiba batang pohon yang saling silang dan daun yang hijau muda maupun tua melambai membuatmu berpikir, "Apa yang bisa kulihat dari atas sana?" Angin menyapu lirih itu pasti, oh tidak, mungkin sedikit kencang, atau kencang sekali? Ah, aku tidak tahu. Namun, membayangkan aku adalah seekor burung dan sedang bersantai di salah satu dahannya, melihat ke bawah, di tempat anak manusia sedang memperjuangkan hidupnya dalam hiruk pikuk waktu yang tak pernah cukup, pasti membuatku tersenyum. Jika aku burung, mungkin aku tidak terlalu ingin terbang jauh, kesana-kemari, mencari makan. Aku burung yang masih sendiri, aku tidak sedang mencarikan makan untuk anak-anakku di sarang. Maka aku makan secukupnya apa yang ada di sekelilingku. Maka aku akan memilih salah satu batang pohon, menghabiskan siang yang terik di bawah daun yang agak tua supaya lebih rindang, dan tersenyum kepada sapuan angin.

Jika aku burung, aku juga akan membusungkan dadaku sembari bersiul, aku masih akan di dahan yang sama mungkin sedikit agak lama. Seorang anak manusia mendongak dengan mata menyipit karena matahari yang menerjang dari sela-sela daun pohon ini membuat matanya silau. Aku akan berkata, bahwa aku memang kecil, bahwa aku tidak sedang berburu apapaun, bahwa aku tidak sedang memiliki apapun, tapi aku melihat yang tidak manusia lihat. Aku melihat semuanya dengan teduh dari sini, jika, ya jika tidak ada gangguan dari manusia dengan membangun rumah-rumah penuh cermin atau mengecat mobil terlalu cemerlang. Ah barang-barangmu wahai manusia, memantulkan cahaya secara berlebih, aku takut buta.

Manusia, kamu bisa menyombongkan diri juga kepada burung jika mau. Katakan bahwa burung bisa disangkar kapanpun, bisa siap ditembak mati langsung atau ditembak dengan kamera lalu disebarkan foto cantiknta yang pada akhirnya tetap diburu untuk ditembak mati dan diawetkan. Kamu bisa sekali menciptakan bentuk lain dari sebuah deskripsi keindahan jika mampu menangkapnya. Namun, mengapa kamu memilih mendongak ke atas dan menyipitkan matamu? Padahal kamu tahu untuk melihat sesuatu yang di luar matamu biasa jangkau adalah usaha yang menyakitkan.

Tapi jika aku burung, maka aku akan berkata kepadamu manusia, bahwa aku mengagumi keteguhanmu dalam menikmati sakit matamu itu, mengatasi lehermu yang tengeng karena mendongak, menahan panas, hanya untuk merasakan, atau malah hanya membayangkan sentuhan angin yang sama dengan yang kurasa di atas sini, hanya untuk, hmm, mungkin terciptanya sebuah puisi. Maka, pohon ini adalah untukmu, maka aku berhenti di batang pohon ini tidak lagi untuk bersantai saja, aku burung bebas, aku tidak harus kembali ke sangkar. Jadi, seberapa lama kau inginkan aku di sini wahai manusia untuk membuatmu berpuisi?

Jumat, 03 Juni 2016

Rindu untuk Kalisuci

Aku meringkuk sendiri di sebuah kamar hotel malam ini. Pendingin ruang di sebuah ruangan yang sempit sebenarnya sangat mubadzir. Tubuhku yang mungil dan tidak dikaruniai banyak lemak sebagai penghangat alami tentu saja agak menggigil. Aku mengenakan jaket walaupun pendingin ruangan ini sudah kusetel pada angka 28 derajat. Udara Jogja di luar kamar sepertinya juga sudah mulai dingin menjemput bulan Juni.

Aku masih ingin menulis, beberapa hal yang sebenarnya penting sekali untuk aku tuliskan sebagai pembelajaran di masa mendatang terbengkalai dengan kesibukanku akhir-akhir ini. Bahkan aku belum menyelesaikan sebuah pekerjaan utamaku untuk digunakan dalam beberapa hari ke depan. Mataku sudah mengantuk sekali. Aku ingin tidur. Namun, aku memaksa untuk menuliskan ini. Paling tidak aku akan segera melengkapinya. 

Ah sudah berapa kali aku berkata demikian. Berjanji menulis sesuatu dengan lebih runtun dan dituliskan setelah melakukan research yang lebih mendalam. Pada akhirnya aku hanya mampu menceritakannya kepada beberapa orang terdekat. Semoga, ceritaku itu sederhana, runtut, dan mudah dipahami. Karena aku berharap apa yang ada di pikiranku ini tidak hanya lewat saja. Sehingga menularkan kegelisahan adalah hal yang sangat tepat ketika aku merasa sok sibuk.

Sebulan lalu aku mendapati kabar kurang menyenangkan dari teman-teman Kalisuci terkait pembangunan Bendungan yang tentu saja mengancam kegiatan pariwisata mereka. Pengelola Kalisuci, yaitu Kelompok Sadar Wisata Kalisuci agak semacam kebaran jenggot. Grup whatsapp yang aku ikuti yang berisi pemandu-pemandu dan kelompok pemerhati, pengawal, penggembira Kalisuci menjadi semarak. Beberapa teman dari ilmu fisik kemudian menyarankan untuk melakukan penghitungan debit air. Dan seorang yang memiliki akses kepada pemerintah Gunung Kidul berupaya mendapat penjelasan atau paling tidak melakukan advokasi sehingga pembangunan bendungan tersebut tidak sampai terjadi.

Aku, waktu itu tidak kalah gelisah. Buru-buru aku mengajak diskusi beberapa teman yang kupikir kompeten untuk mencari jalan keluarnya. Namun, alih-alih aku mendapatkan solusi, mereka bilang santai saja. Beberapa teman dari ilmu fisik berargumen bahwa, pembangunan bendungan tidak terlalu berdampak kepada kegiatan pariwisata Kalisuci, tetapi lebih pada dampak lingkungan, contohnya pendangkalan sungai dan yang lebih dikhawatirkan adalah dampak sosial ketika bendungan tersebut terbangun.

Bulan lalu aku ingin sekali ke Kalisuci, mendiskusikan ini lebih jauh. Selain itu aku juga merindukan mereka semua. Namun, aku ketrima kerja dan rencana itu agak terbengkalai. Serius, ini topik yang menarik jika ingin bermain-main dengan pengetahuan kita terhadap teori. Walaupun, tentu saja, aku juga gelisah karena mas-masku Kalisuci terancam pendapatan utamanya.

Dan malam ini aku mendapati teman saya, berhasil menuliskannya dengan baik di blognya dengan judul "Wacana Wisata" (Silahkan klik linknya jika ingin membaca). Sekali lagi aku bersyukur ada yang sudah menuliskannya dan aku lumayan merasa terwakili. Namun, aku berjanji segera menuliskan pendapatku atau beberapa hal yang aku tau, aku rasa, selama aku berada atau bermain di Kalisuci, selama kurang lebih lima tahun terakhir. Benar, Kalisuci punya pesona yang membuat kita bisa terikat kepadanya. Orang-orangnya, semuanya.

Ohya, ada satu hal lagi terkait sikap warga Kalisuci terhadap kegiatan pariwisata di Kalisuci, yaitu warga merasa belum mendapat dampak langsung atas adanya kegiatan wisata di Desanya selama lima tahun terakhir. Tapi ya, Kalisuci masih merangkak, memberikan beban kepadanya untuk memberi makan sebuah Desa adalah tidak adil. Tapi juga, ini adalah sebuah tamparan keras untuk pengelola Kalisuci memangkas jurang kesenjangan perekonomian yang malah muncul setelah ada kegiatan pariwisata. Aku jadi teringat dengan uraian pemikiranku mengenai konflik horisontal. Bagaimana faktor eksternal masuk dan memberi sebuah konstruksi sosial baru. Dan pariwisata telah sangat berhasil membuat sebuah konstruksi sosial baru, baik secara finansial maupun budaya, baik ke arah yang positif maupun negatif.

Ah sudah aku sudah tidak tahan oleh kantukku. Akan aku sambung segera. InsyaAllah.

Btw, ya aku rindu pulang ke Kalisuci dan disambut preman-preman berhati berlian itu. Semoga aku segera menemukan ritme kerja yang baik, sehingga di akhir pekan aku bisa datang dan mentraktir mereka semua dengan cinta!


*maaf jika alur tulisan dan kalimatnya buruk sekali. Ah mengantuk memang seharusnya tidur, bukan menulis,.

Kamis, 02 Juni 2016

Distraksi

Aku sedang hectic banget, kerjaan seperti tidak ada habisnya. Aku bahagia dan bersyukur Allah memberi kepercayaan seperti ini. Sebuah tanggungjawab yang tidak kecil dan menuntut stamina dan pikiran yang bugar. Sebulan sudah terlewati dengan pekerjaan dari pagi hingga malam. Sebualn ke depan sepertinya tidak ada bedanya, Aku mungkin akan lebih sibuk dan pekerjaan lebih hebat akan segera menantang. Aku seharusnya menyiapkan itu semua, tidak ada yang boleh dikecewakan oleh kinerjaku. Aku harus mampu memenuhi harapan orang-orang yang telah memberiku kepercayaan. Aku harus mampu memenuhi standardku sendiri.

Namun, dengan bodohnya aku teringat kamu dan menyempatkan diri untuk melihat foto-fotomu. Aku mendadak melemah. Aku tidak habis pikir kenapa ada orang seperti kamu. Aku tidak habis pikir kenapa aku terus merindu. Aku tidak habis pikir kenapa aku diperlakukan seperti itu.

Sudah begitu saja yang ingin kularikan dari pikiranku hari ini. Aku masih mencintaimu. Masih dan selalu. Semoga harimu indah. Ohya aku bermimpi semalam kamu memberi kabar. Kapan itu bisa terjadi, Bung? Empat bulan lagi bukan? Ah tidak lama. Aku akan menunggu!

Selamat hari jumat sayangku, sehat selalu, dan jangan lupa sholat.