Malam ini di Bima sekali lagi terjadi perang antar kampung seperti yang diceritakan semua pihak yang aku temui dalam melakukan survei program untuk pekerjaanku ini. Mereka bercerita dengan menarik sekali, bahkan tidak ada ketakutan di wajah mereka. Seorang pria manis tertawa melihat wajahku yang refleks menyeringai ketika pada siang itu mereka bercerita mengenai perang antar kampung itu terlalu detail. "Jadi takut mbak ya?" Haha aku tertawa, entahlah, aku tidak takut hanya heran.
Besok pagi aku berencana jogging pagi di Lapangan merdeka. Aku sudah mulai merasakan bosan di hotel. Sedangkan untuk merencanakan perjalan 4 jam ke kaki gunung Tambora aku terlalu malas. Aku mengganti jadwal penerbanganku hari ini, yang seharusnya sabtu pukul 5 sore menjadi sabtu pukul 8 pagi. Aku berencana menghabiskan waktu lebih banyak ketika mampir di lombok. Jadi, di tengah aku mengerjakan laporan, kupikir aku butuh sedikit olahraga, dan jogging pagi di lapangan merdeka dan berfoto sedikit di bekas istana sulthan Bima pasti menarik. Namun, baru saja tadi manajer area programku ini mengatakan bahwa sebaiknya aku hati-hati jika jadi jogging besok pagi karena tengah terjadi perang antar kampung. Ah sialan sekali!
Dari dalam kamarku aku dapat mendengarkan suara ledakan, kupikir itu adalah salah satu bukti bahwa di luar memang sedang bergejolak. Men! di depan hotel aku menginap ada perang antar kampung, dan mungkin malam ini sebuah nyawa melayang, seorang anak manusia berpamitan dari hiruk pikuk kota Bima, seorang ibu kehilangan anaknya, dan petugas rumah sakit yang kudampingi siap menerimanya dalam keadaan terluka parah maupun mayat. Pun sekali lagi,besok pagi semua berjalan wajar. Mereka tetap berdagang seperti biasanya, seolah tak ada sesuatu yang terampas dari sebuah siklus kehidupan. Mereka bercerita dengan riang, kebiasaan mereka bertarung dengan menyebutnya hiburan, dengan menyebutnya hobi. Mereka tau itu salah, mereka tak mampu mengatasinya segera. Mereka yang sedang berperang tak akan membunuh atau merampas hak orang yang bukan menjadi musuh mereka. Bukan orang yang dianggap tak bersalah yang menjadi sasaran amuk mereka. Mereka tidak berniat membunuh fungsi dan kehidupan mereka sendiri, mereka baik-baik saja. Kadang, kita harus bisa menertawakan keburukan kita sendiri memang, menikmati kelucuan diri kita. Warga Bima, juara dalam hal ini, bencana sosial di depan mata, mereka menolak kalah, merek menolak teror dan rasa tidak aman.
Aku tidak sedang menghina atau mengkritik mereka. Malam di Bima, aku disuguhkan dua hal yang seharusnya adalah musibah, tetapi itu tak membuat mereka gentar. Banjir karena hujan yang sehari penuh tidak berhenti dan sekarang perang antar kampung. Mereka baik-baik saja, mereka tidak mengalami gagal fungsi. Lalu, malam ini aku berusaha memahami, apa yang bisa kuberi untuk mereka? Aku tidak ingin datang bersama sekelompok malaikat dan menjanjikan surga. Atau membawa setumpuk gambaran hidup ideal yang seharusnya mereka miliki dan jalani di tempat ini. Aku hanya ingin sekali lagi menemukan tempat pulang. Tempat yang mungkin di luar kebiasaan dan akal pikirku bisa terima. Tempat yang tidak selalu nyaman tetapi membuatku rindu.
Malam di Bima, sebuah negeri yang tak terbayangkan ada. Melewati gunung-gunung dan hutan yang lebat, berbatasan dengan laut yang biru dan lepas. Hatiku terpaut dalam rasa penasaran semangat mereka untkuk hidup lebih baik, mereka berusaha untuk siaga, mereka menyimpan dalam-dalam kegelisahan mereka mengenai seluruh fakta resiko bencana yang mereka miliki, mereka tertawa di siang hari, mereka memperjuangkan harga diri di malam hari.
Malam di Bima, segera aku akan kembali lagi di sini. Mungkin tidak dengan mendengar suara perang hanya dari hotel, tetapi berada di tengah-tengah mereka, di rumah seorang warga, dan keesokan paginya menikmati perjanjian perdamaian tanpa kata yang hanya ketika matahari bersinar.




