Rabu, 24 Agustus 2016

Tulisan ini untukmu Re.

Hari ini, pagi ini, aku bahagia.

Mendapati seorang teman angkatan yang berangkat sekolah ke Korea, mendapat beasiswa!
Dia yang selama beberapa tahun ke belakangan ini mengawal studi ekonomi kerakyatan di kampus.

Tulisan singkat ini untukmu, Re. Seorang teman yang pertama membuatku senang di hari pertama menginjakkan kaki di kampus, karena dia adalah orang malang dengan bahasa medhok selevel aku tau lebih parah dariku. Mendapati teman sedaerah membuatku merasa di rumah walaupun sedang berada di kota yang berjarak ratusan kilometer. Teman yang tengil di kelompok ospek, meningkatkan sedikit kepedeanku untuk bertemu teman-teman dari daerah lain.

Seorang teman yang diam-diam aku menjadi kagum dengannya, Ya aku ngefans sama kamu, Re! hahahaha

Seorang teman yang tidak pernah dijagokan jadi apa-apa, tapi mampu bertengger di hati setiap orang di jurusan, bahkan kampus. Riang, free soul, ngawur, sak-sak e, manis, cerdas. Seorang teman yang akhirnya terpilih menjadi ketua jurusan ketika aku menjadi panitia pemilihan di kampus. Seorang teman yang berhasil merangkul kawan-kawan dari dua kutub yang berbeda, dari yang kanan dan yang kiri, dari yang timur dan barat, dari yang borjuis hingga proletar, dari cah bonbin sampai cah kafetaria, agamis dan atheis, antagonist dan protagonist.

Seorang teman yang aku bilang ke pacar pertamaku, bahwa aku ngefans sekali sama dia hingga membuat pacarku sedikit insecure waktu itu.

Seorang teman yang membuat video lipsync konyol sekali tapi berhasil tetap super cute dan video itu sukses menjadi konsumsi satu sekreku, dan aku berkali-kali memutarnya.

Seorang teman yang akhirnya pacaran dengan teman sekelasku, dan aku melihat mereka manis sekali bersama, aku sedikit envy bukan jealous. Betapa eksentriknya mereka ngedate di burjo, tapi akhirnya kebiasaan dia makan di burjo membuatnya tumbang, opname karena lambungnya luka.

I was happy for both of them, hingga mereka putus. Aku pun ikut sedih banget :(

Seorang teman yang nyampah sekali di timeline line, baper kebangetan, super galau, geblek, sampai bikin aku ngerasa kasihan karena menyangka dia belum move on hingga mantannya menikah. Semua orang menjadikannya bulan-bulanan karena dia belum move on, menjadikannya ikon patah hati.

Seorang teman yang aku sangat ikut senang ketika melihat dia berbagi foto bahwa dia mampu menghadiri pernikahan mantannya, dan semua orang mendukungnya.

Seorang teman yang ketika aku bertemu lagi di bonbin setelah lama tidak ketemu dan kulihat dia dalam keadaan yang sangat gak ganteng, pathetic, makan indomie dan coffemix, sendirian, jauh dari dia yang kukagumi dulu. Aku tidak menghampirinya, bukan karena aku sedang bersama teman-temanku, dan melihatnya menyedihkan, tetapi karena, aku masih saja kagum dengannya dalam keadaan yang seperti itu. Terlalu kagum hingga agak kikuk untuk menghampirinya haha

Dan ternyata, di antara kepayahannya, dia sedang mempersiapkan sesuatu, dia mendapat beasiswa ke korea!

Re, selamat berangkat, selamat menempuh studimu, aku selalu kagum denganmu. Semoga kamu menjadi ekonom yang lebih humanis dari yang lain. Masih banyak yang ingin kutulis sebenarnya, tapi sudahi saja nanti alay dan aku harus kerja.

Semoga suatu saat aku bisa menyusul untuk mendapat beasiswa di luar negeri. Semoga suatu saat kita bisa berdiskusi untuk sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat di sekitar kita. Semoga aku tidak akan menyerah dengan ilmu ekonomi, seperti kamu, seperti teman-teman yang lain. Mari warnai jagat ilmu ekonomi di Indonesia!

Kamu pasti datang

Aku tahu dan aku yakin,
Bahwa kamu pasti datang setelah ijazah sarjana strata satuku sudah benar-benar di tangan.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan draft rencana implementasi programku.
Kamu pasti datang setelah berat badanku mencapai ideal, 50kg.
Kamu pasti datang setelah jam tidurku teratur.
Kamu pasti datang setelah sholat lima waktuku sudah tepat waktu dan khusyu tak mengingi apapun.
Kamu pasti datang setelah tabunganku sudah cukup untuk aku membangun sebuah keluarga kecil sejahtera asyik dan bahagia.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan buku-buku yang baru kubaca seperempat dari total halamannya.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan lukisanku.
Kamu pasti datang setelah aku khatam Al-qur'an.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan mini paper dan laporan hasil penilitianku.
Kamu pasti datang setelah seminar internasional yang aku berjanji aku membantu di dalamnya selesai dan sukses dilaksanakan.
Kamu pasti datang setelah aku rutin memberi kabar kepada bapak dan ibukku.
Kamu pasti datang setelah aku sudah berhasil memutar gajiku dan membantu mbakku membesarkan usahanya.
Kamu pasti datang setelah aku berhasil meninggalkan sesuatu kepada adik-adik organisasi pecinta alamku.

Kamu pasti datang ketika aku sudah tidak gelisah menunggumu.
Setelah aku tidak bermimpi buruk tentangmu, tentang apa yang membuatmu membenciku.
Setelah aku tidak lagi merasakan insecure dan rendah diri baik ketika bangun maupun dalam tidur karena kamu tidak memberi kabar.
Kamu pasti datang setelah aku mengalahkan segala kerumitan otakku dan egoku yang begitu tinggi.
Kamu pasti datang setelah aku berdamai dengan keinginanku-keinginanku yang tak ada habisnya.

Kamu pasti datang ketika aku berhenti menunggumu.

Aku yakin kamu pasti datang di hari yang sangat biasa.
Mengejutkanku di minggu pagi yang harusnya aku masih tertidur nyenyak atau memilih tidur lagi walaupun sudah terbangun.
Kamu mengirim pesan singkat bahwa Kamu sudah di depan pintu kostku.

Dan pagi itu aku merasa itu hanya mimpi. Namun aku terlalu putus asa hingga berani mencoba memastikan, siapa tau itu bukan mimpi?
Aku percaya bahwa hari yang bukan mimpi itu akan datang. Hari aku benar-benar akan bertemu denganmu sekali lagi.
Dan ketika aku menemuimu, kau tidak berubah, tidak tambah kurus dan tidak tambah gemuk.
Kau terlihat haus. Atau ada yang tercekat di tenggorokanmu.
Aku tidak akan bertanya tentang drama tidak masuk akal yang selama ini bermain produktif sekali, episode demi episode di dalam otakku. Aku tidak akan bertanya kemana saja kamu selama ini. Aku hanya akan mengambilkanmu segelas air putih. Sebelum kamu bicara apapun yang dapat menumpahkan air mataku.

Satu hal yang kuucapkan, Aku belum pernah menunggu seseorang seperti aku menunggumu. Dulu aku terheran-heran bagaimana seseorang madmpu bertahan dalam cinta yang tak bersambut dalam waktu yang lama. Dan sial, sekarang Aku merasakannya. Aku mencintaimu. Sungguh. Dan itu yang membuatku percaya bahwa kamu pasti datang.

Sabtu, 20 Agustus 2016

The Antagonist

I think i Begin to consider myself as the Antagonist. What If i’m the Heartbreaker, the troublemaker in the people's pathways? Make the good people feel uneasy. Although, people around me or maybe in the wider circle think that i’m nice and they adore all my moves, and support my confession of Love to a person, but at the end, it’s just not meant to be. That in the end, the universe decide it’s not mine, it’s not my story and i have to end up here. Because every effort i made is only another kind of antagonist’s moves in the plot. That This is not my story. That i’m pretty well known, i don’t want to give up easily for the thing i think is right. But this is just not my story. I’m here because the plot twist, to make someone become stronger, better and wiser. And in the end, i have to give someone applause or just let them happy, and cry in the helpless and lonely night, thinking how bad i am. Because i’m only the antagonist.

Minggu, 14 Agustus 2016

note for myself

It's just a short note that i have to write it down before i forget.

Saya terlalu ragu menuliskannya di sosial media, karen takut kemudian ada beberapa orang yang mengkhawatirkan kesehatan mental saya. Saya tidak terlalu suka dikhawatirkan karena saya peduli dengan orang-orang yang menyayangi saya, saya peduli dengan "society" yang sangat tulus peduli kepada saya dan menginginkan yang terbaik untuk saya. Well intronya jadi agak panjang haha padahal saya sudah wudhu untuk sholat maghrib dan ini udah agak telat.

Jadi intinya, kali ini saya berusaha untuk terus mengingatkan diri saya sendiri, bahwa ketika saya membayangkan diri saya akan menjadi sedih dan tidak bisa bertahan lama hidup di kota seperti jakarta, bukan berarti saya bisa menilai atau menyatakan bahwa orang-orang yang tinggal di jakarta pasti mengalami kesedihan-kesedihan seperti bayangan saya. Mas Galang pernah mengatakan kepada saya bahwa, ketika saya tidak pernah berada di posisi tersebut, tidak pernah menggantungkan hidup kepada suatu hal tersebut, sebaiknya saya tidak seenaknya menilai. Yang saya tangkap dari ucapannya adalah bahwa ketika saya tidak pernah merasakan mengingini suatu hal (lalu berusaha untuk menjangkaunya dengan sepenuh jiwa saya, yang kemudian usaha saya itu membawa keberhasilan dan membuat saya bahagia) maka jangan berani-berani mengukur kebahagiaan orang lain. Saya pun menyadari bahwa hal itulah yang sering saya sebut dengan dont try to dress people the way we dress. Bahwa standard hidup kita berbeda dengan yang lain. Hal itu berlaku di semua kasus, tak terkecuali kita minoritas atau mayoritas, kita idealis atau opportunis, eksentrik atau normal. Jadi memang lucu membayangkan manusia-manusia yang semakin pintar berlomba untuk bicara mana yang terbaik dan menyatakan bahwa mereka adalah produk dari yang terbaik itu, kemudian mulai meyakini dan menilai bahwa orang lain yang hidup dengan cara yang berbeda tentu saja tidak bahagia atau paling tidak, tidak sebahagia mereka.

Akhir-akhir ini di lini masa, perdebatan ego itu muncul lagi, tentang full day school dan non full day school, sama yang terjadi dengan ibu rumah tangga versus wanita karir, sama yang terjadi dengan hidup di kota besar dan hidup di desa. Ego trap bertebaran di mana-mana, diperburuk dengan kebenaran atas nama golongan. Saya akhir-akhir ini menjadi penyedih. Dan kesedihan saya membawa saya untuk lebih menahan komentar. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih banyak mendengar setelah ini, karena manusia-manusia ini hanya ingin didengarkan sebenarnya. Mereka ingin dihargai, itu saja.

Catatan random seperti ini saya rasa akan sangat berguna suatu hari nanti ketika saya terjebak oleh ego saya sendiri. Saya sangat berharap tulisan-tulisan saya sendirilah yang akan menampar saya ketika lidah saya sudah hampir atau sudah menyakiti ego maupun hati orang lain.

Jumat, 12 Agustus 2016

Berbagai Cara

Maka akan tiba suatu waktu aku memilih berbagai cara untuk tidak lagi meraihmu.
Dan mungkin ketika saat itu tiba, kau teringat bagaimana saat aku berusaha meraihmu dengan berbagai cara.
Saat kau dengan berbagai cara memilih tidak mendengarku, dengan berbagai cara mengabaikanku.
Dan jika ketika saat itu tiba, berjanjilah, kau akan selalu bahagia dengan berbagai cara.

Minggu, 07 Agustus 2016

Outcomes are not a goal

Saya begidik, merasa ngeri ketika menyadari bahwa semakin banyak pelajar ilmu ekonomi - Suatu ilmu sosial yang diharapkan bisa menjadi pemberi solusi atas keterbatasan sumber daya dan kebutuhan manusia yang tak terbatas - berpikir bahwa belajar ekonometrika adalah tujuan utama atau bagian paling penting dari mempelajari ekonomi. Padahal ekonometrika hanya salah satu alat saja. Walaupun saya sadar bahwa pemodelan itu sangat penting untuk menyederhanakan segala kompleksitas permasalahan pembagian sumber daya ini, namun menjadikannya fokus utama dan terus berkutat dalam permainan-permainan pemodelan tanpa pemahaman konteks dan karakteristik sumberdaya maupun manusianya adalah suatu blunder yang membuat saya ngeri. Kegagalan pemahaman konteks itu tak ubahnya membawa kita kepada masalah besar seperti memberi garam di air laut, sia-sia dan malah menghabiskan sumber daya itu sendiri. Saya sendiri masih lemah dalam mempelajari tools. Penelitian butuh tools, program pun butuh evidence untuk mendukung segala kegelisahan. Namun, konteks, teori dan tools tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, seorang analys, seorang assesor, seorang peneliti harus mau dan mampu memahami konteks dan membaca lagi segala teori yang filosofis maupun memberi ruang kepekaan diri yang seluas-luasnya. Mau turun ke masyarakat dan lapangan, mendengar kebisingan akar rumput akan mempertajam pemahaman seorang pelajar dan peneliti ilmu sosial terhadap konteks. Jadi, gumunan terhadap tools yang ada itu sangat menjebak. Saya khawatir saja, karena kefanatikan seorang peneliti terhadap tools, mereka akan patah hati atau malah tidak mau mengakui bahwa tools tersebut tidak mampu menjawab dan menceritakan pertanyaan mendasar dan keadaan sebenarnya. Saya khawatir kegandrungan terhadap tools tersebut membawa kita menutup mata atas kondisi yang sebenarnya terjadi di luar ruangan kita, di luar layar komputer kita. Dan saya khawatir demi membangun tools dan mempercantik tools tersebut - yang sering disebut sedang memasak oleh peneliti- kita memang hanya akan mengambil bumbu-bumbu yang kita kehendaki.

Dan kemarin malam, sebelum tidur, saya mendapati berita bahwa mentri pendidikan yang terpilih saat ini menyarankan agar pelajar kita untuk menghabiskan waktu sehari penuh di sekolah, full day school, yang berarti menurut saya fool day school. Saya jadi berpikir, kegumunan dan kegandrungan orang-orang terhadap alat semakin menggila, mereka lupa untuk apa bersekolah. Mereka hanya mefokuskan bagaimana membuat sistem sekolah yang baik tapi lupa untuk apa dan untuk siapa. Berkutat pada alat bukan esensi dan tujuan. Begitu juga tentang caver yang berkutat pada single rope technique, begitu juga tentang manusia yang berkutat untuk terus mencari uang yang hanya salah satu alat untuk mencapai tujuan akhirnya. Outcomes are not a goal.