Sebaris Penemuan yang tak pernah baru dalam menerjang petang / Sebaris kesadaran bahwa kau merindukan pemikiranku / Sebaris pencitraan seorang anak jaman yang tak pernah begitu utuh / Sebaris pelarian pikiran yang mengayun-ayun dalam rebah.
Senin, 12 Oktober 2015
Selamat!
Selasa, 06 Oktober 2015
Ketidakpedulian
Udah kasihan, jangan dilihat.
Kamis, 03 September 2015
Mimpi
Adalah mimpi yang menjaga tetap hidup.
Bangun, terjaga dan siaga.
Setelah berkawan dengan negeri penuh utopia,
Yang dengan menyedihkan disebut delusi di dunia yg mengagungkan wujud.
Aku terlalu berani
Menimbang segala ketidakmungkinan menjadi irama yg bisa saja indah,
Pada suatu masa yang dengan ciut kutebak.
Berbekal sebuah janji, dari Dia Yang Maha Pengasih.
Ada sebuah dimensi lain di pangkal otakku.
Bukan, bukan otak, aku tidak sebebal itu.
Mungkin jurang hatiku.
Ah tapi aku terlalu payah dalam menavigasinya.
Sudah berapa kali aku terpleset ke dalamnya?
Bahwasannya itu memang mungkin.
Menggetarkan alamraya, yang kini bergerak begitu selaras.
Begitu indah, bahkan mungkin burung akan tercekat nyanyiannya jika keselarasan itu terhenti.
Namun, atas dasar apa aku tergoda?
Atas kesombongan sebelah mana lagi aku terpanggil?
Atas bentuk keputusasaan seburuk apa aku mendamba?
Kutuangkan air dalam gelas. Kuteguk dengan rakus. Kering menjadi lebih basah.
Kutelusuri aliran air dalam rongga hingga lambung.
Kucoba bangun-bangunkan apa yang belum tersadar.
Hentikan mimpi ini Ya Tuhan, Atau aku menuntut sebuah kenyataan!
Kusujudkan sekali lagi malam ini, apa-apa yang terlampau besar dari mimpiku untuk bertemu dengan-Nya.
Rabu, 26 Agustus 2015
Rindu
Maka mereka akan bertanya lagi dan lagi.
Bagaimana perseteruan bak drama sinetron itu bisa mulai?
Bagaimana pada akhirnya?
Aku menelan kepahitan, masih.
Aku bisa saja mengurainya dengan riang seperti gossip yang dibawa penjual jajanan pagi hari di pojok-pojok kampung.
Atau aku memilih mengisahkannya dengan kesenduan bagai kekasih yang dijanjikan manis tanpa bukti.
Namun, untuk apa?
Mungkin aku lah kekasih yang berkhianat itu.
Seringkali itu hanya berujung pada aku yang menimbang-nimbang.
Seberapa besar sebenarnya?
Entah sebentuk apakah yg sedang kutimbang, aku berharap sesuatu yg mampu menutup rinduku, sepenuh-penuhnya tanpa celah.
Mereka tidak salah, aku yang pernah tergesa-gesa bercerita.
Kamu tahu kan? Tahu sedikit selalu membangkitkan kreatifitas otak mereka.
Mungkin ini hanya ketakutanku, aku curiga mereka menebak-nebak lebih dari yg aku bayangkan.
Ahh.. aku seharusnya mencurigai diriku sendiri,
Penyakit macam apa yg kujejalkan di hati ini.
Malam ini aku hanya rindu.
Sudah kuantisipasi berkali-kali, bung.
Namun Tuhan Memang Maha becanda.
Dihidangkannya manusia-manusia yang dengan seenaknya menggali-gali apa yg telah coba aku kubur.
Jika kau membaca ini, kau bisa terbahak.
Sungguh lugas sekali sajak ini. Kering.
Mungkin begitulah, apa yg coba kugali malam ini sebagai rindu ternyata tak terlalu dalam.
Aku bersyukur untuk itu.
Bersyukur atas kekeringan sajak rindu ini.
Karena kau harus tahu, sudah bukan kau yang kudamba.
Aku mendambakan aku sendiri, aku yang mencintaimu tidak lebih dari mencintai Sang Maha Pemeluk hati.
Aku hanya rindu.
Dan kau tak perlu risau, bung.
Kupulangkan rindu ini pada-Nya, malam ini juga, detik ini juga.
Rabu, 19 Agustus 2015
Tanda
Syarat tak lagi hanya tersirat.
Dalam sangkar fana rasa,
Kumengembarakan rupa rupa.
Hai pemburu sekelumit aksara jiwa,
Apa yang kau ingin bawa pulang?
Pada siapa kau ingin hidangkan?
Tentang degub yang selalu mengganggu rebah.
Aku akan berkisah dengan gagah.
Tentang aku yang mampu menyujudkan gemuruh.
Pada malam yang sudah terlalu tua,
Untuk memaksa manusia menyandarkan lelap.
Ingatkan kamu tentang sajak murahan yg menyebut kupu-kupu?
Pernah menjeratku dalam ramu.
Merah jambu melengkapi segala semu.
Aku menantang juang berbekal segala tahu.
Kuhibahkan masa, raga, angan, cita
Pada ciptaNya yang mendesirkan rona
Kuremahkan seluruh yang bergerak
Tak kuimani setiap rambu.
Aku mempercayai, nafas selanjutnya adalah darinya, detik setelah ini adalah dengannya.
Bisa kah kau menebak hai pecandu kisah purba?
Kemana ujung segala kerling dan rayuku?
Aku pun pernah menanyakan itu padanya.
Dalam bahasa yang terlalu mudah kupahami sebagai habis,
Masih saja kurajut entah apa di udara yang menghidupi kami hari itu.
Maka kujanjikan sebuah pengusahaan.
Penghidupan yang kuharap dijemputnya pada suatu bilangan waktu.
Aku menyesak; Mengapa ada harap?
Namun sekali lagi,
Aku telah membutakan diri dari seluruh rambu.
Apakah kau penasaran tentang bagaimana dia?
Bagaimana dia berlaku? Berkata? Bersyair? Berharap? Bergumam? Bersiul? Atau apa saja yg bisa menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Semua harapku menuai sambut dengan mudah detik itu.
Dan detik-detik selanjutnya menjadi tak pernah cukup.
Nyatanya dia mendekap dengan baik apapun yang kuhembuskan dalam waktu yang kami siasati.
Namun, tak satupun menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Ria dan lara semena-mena bergantian menyeruak. Nyeri.
Gemuruh tak akan pernah mau diam, bukan dia tempatnya berpulang.
Gemuruh dalam jalan panjang ini menuntut Penakluk yang lebih besar.
Maka aku tundukkan dia dalam kehancuran tersuramku.
Kurebahkannya dalam ucap yang berulang-ulang.
Berulang-ulang tentang sesiapa seharusnya pemilik semua ini.
Hingga dia mampu melembut bahkan hilang, ketika aku mengingatNya.
Dan begitulah, pada sesemuanya terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.
Semanu, 20 Agustus 2015