Senin, 12 Oktober 2015

Selamat!

Hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana harga diriku dan rasa bahagiaku harus beradu. Hari di mana aku tidak bisa datang memberikan apapun. Hari di mana aku harus mengakui bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak mampu membuktikan apa-apa.

Mungkin begitulah aku, tak pernah terlalu dalam dan tak pernah terlalu bersungguh-sungguh dalam membuktikan niatanku. Seandainya kamu tahu betapa buruknya rasa ini.

Aku hanya merasakan nyeri yang sangat dan ada gemetar di tanganku. Tak cukup buruk sebenarnya untuk menjadikan hari ini hari yang buruk. Tak cukup buruk untuk menangis. Namun ada kegetiran yang tak mampu aku sembunyikan. Aku ingin mengalahkanmu dengan berbagai cara, walaupun aku tahu aku telah kalah dalam berbagai cara. Aku ingin mengalahkan diriku sendiri yang ingin mengalahkanmu.

Bualan tentang pagi yang seru yang mungkin saja kita lewati bersama tentu saja tak akan pernah terjadi. Semakin jauh karena aku tidak bergerak ke arahmu. Karena kamu bergerak dalam dunia yang riuh, yang tak berani aku singgahi. Karena kamu bergerak tanpa menoleh apakah aku bergerak baik-baik saja. Karena aku yang tak percaya diri mampu menciptakan pagi yang seru.

Aku baik-baik saja, semua baik-baik saja, kamu pun baik-baik saja. Dalam angan yang tak perlu terbentuk rupa, seharusnya pagi yang seru itu telah terjadi, tentu saja dalam dimensi ruang kita masing-masing. Kau sahabatku, dalam suatu persinggungan yang hanya sebentar. Kau yang selalu kudoakan mendapati yang terbaik, tapi di sisi lain egoku berharap kau tak bahagia tanpaku, paling tidak tak lebih bahagia dariku. Sekarang aku tertawa, mendapati penyakit yang terus saja kujejalkan ke hatiku yang payah.


Maafkan aku. Namun percayalah manusia baik tak mempan doa buruk. Apalagi doa dari manusia yang ragu-ragu sepertiku. Selamat berkarya bung! Aku tahu kau akan menjadi sangat luar biasa, itulah mengapa aku pernah menghentikan waktu untukmu.

Selasa, 06 Oktober 2015

Ketidakpedulian

Udah kasihan, jangan dilihat.
(Kata Seseorang ketika melihat foto bocah yang matanya lebam kena kabut asap Riau)

Saya terkejut mendapati kalimat tersebut muncul dari lingkungan yang sangat dekat dengan saya sendiri. Saya memiliki kegelisahan yang mungkin memang berlebih mengenai ketidakpedulian, tetapi sayangnya mungkin saya kurang banyak ngobrol dengan lingkungan saya soal hal tersebut. Rasanya mendadak ada jarak ketika mendengar hal tersebut ternyata muncul dari orang terdekat. Saya mengutuki diri sendiri, saya sering koar-koar di luar tentang berbagi apapun yang kita punya, membantu apapun yang bisa kita lakukan, tetapi kepada orang terdekat saya tidak banyak bertukar pikiran. Di situ saya berpikir, ketidakpedulian nyata adanya, saya sendiri juga pelakunya, saya yang terlalu jauh dari mereka.

Saya harus berpikir berkali-kali untuk menuliskan ini. Berharap tidak ada yang tersakiti dengan kata-kata saya atau berharap tidak ada yang menyalahartikan sebagai ke-sokpeduli-an saya terhadap apapun. Namun keterkejutan saya dan rasa patah hati saya lebih besar dari ketakutan saya tentang penilaian orang lain. Saya harus menyampaikannya. Atau lebih tepatnya saya harus mencari jawaban yang bisa melegakan hati saya sendiri tentang mengapa kalimat tersebut sampai terlontar. Sebenarnya saya juga takut tulisan ini adalah bagian dari pelarian saya yang berujung pada ketidakpedulian saya lagi.

Pertama mendengar kalimat itu yang terlintas di otak saya adalah “Ignorance does exist”, ya saya merasa bahwa ketidakpedulian itu nyata-nyata hadir di tengah-tengah kita. Bahwa kesetujuan kita yang menyebut manusia sebagai manusia sosial karena gemar berkumpul dan bersenang-senang bersama, gemar bertanya kabar, gemar mengucapkan selamat dan duka cita, gemar melakukan update berita tentang pekerjaan, penghasilan, pasangan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kepemilikan rekan-rekan kita yang secara diam-diam maupun secara terang-terangan, tidak cukup memberikan keberanian kepada kita melihat atau memberi ruang lebih atas hal yang secara spontan menyentuh hati kita.

Kenapa tidak berani? Mungkin jawabannya adalah karena tidak tahu harus berbuat apa. Atau malah sebenarnya kita tahu harus berbuat apa, tetapi kemudian bersinggungan dengan kesadaran mendasar tentang “Siapa Saya?” dan jawaban kita yang entah merendahkan diri sendiri atau memang nyata-nyata tidak mampu membuat kita memutuskan untuk berhenti melihat, lalu memangkas kepedulian kita.

Pada tahap ini saya selalu berharap dan saya menenangkan pikiran saya bahwa ketidakpedulian memang hanya muncul karena keterbatasan informasi yang dimiliki seseorang akan suatu hal. Saya berharap bahwa ketidakpedulian bukan muncul karena seseorang memilih untuk tidak tahu dan tidak mencari tahu lebih lanjut.

Pada kasus lain mungkin ketidakpedulian seseorang sering kali bukan hanya karena keterbatasan informasi, tetapi juga informasi yang salah yang di milikinya (informasi yang salah menurut kita). Seseorang meyakini apa yang benar menurutnya, mungkin atas sesuatu yang telah berjalan dengan stabil dan baik, tetapi menurut kita salah dan perlu diluruskan. Perbedaan pendapat itu tentu saja membuatnya tidak mau repot-repot untuk bergerak bersama kita, dan kita bisa dengan mudah menyebutnya sebagai orang yang tidak peduli.

Namun sekali lagi benar bahwa kita bisa memilih menutup mata atas yang sesuatu hal yang bisa kita lihat, tapi kita tidak akan bisa menutup mata dari apa yang bisa kita rasakan, sesuatu yang menyentuh hati kita.

Bagaimanapun pernyataan di awal tulisan ini tetap saja membuat saya patah hati mengetahui kemungkinan bahwa banyak orang yang berpikiran sama seperti itu. Mungkin karena melihat hal yang terlalu buruk untuk dilihat membuat kita terlalu lemah untuk memikirkan kemungkinan untuk menolong. Karena kita merasa bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa maka kita tidak bertanggungjawab untuk menolong.

Ya walaupun kita tidak berhak sebenarnya menilai seseorang peduli atau tidak peduli, di luar hal-hal yang tidak kita ketahui, kadang kita menilai kecil apa yang telah dilakukan atau diberikan seseorang, tetapi sejatinya dia telah memberikan apapun yang dia miliki. Wallahualam.

Satu hal terakhir, jika seseorang di sekitar saya berkata "Udah kasihan, jangan dilihat." Saya sendiri akan menegurnya, karena apapun yang telah menyentuh hatinya tersebut ada indikasi bahwa ada sesuatu yang salah, dan kita selalu bisa menolong, sekecil apapun, sesedikit apapun. Saya pun optimis, masih banyak orang-orang yang memiliki kepedulian jauh jauh lebih tinggi dari saya dan mereka melakukan aksi nyata. Namun sekali lagi, pergerakan positif tersebut harus ada yang menyambungkan secara langsung melalui obrolan sehari-hari maupun tulisan-tulisan yang mudah saja tersebear secara viral di sosial media. Untuk menjadikan tulisan saya viral, saya tidak punya kemampuan, karena saya memang bukan siapa-siapa. Namun saya masih bisa bicara dengan orang-orang dekat di lingkungan saya.

Hanya saja jangan terjebak dengan parameter atas aksi nyata, karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati seseorang. Saya hanya berharap tidak ada alokasi yang salah atas kepedulian kita. Yaitu ketika kita mudah saja bermurah-murah atas kepedulian terhadap urusan orang lain sebagai makhluk sosial, kepedulian untuk terus bisa berkumpul-kumpul dalam kebahagian, kepedulian yang membutuhkan kedekatan-kedekatan emosional dan kepentingan tertentu. Namun, di sisi lain kita tidak berani peduli atas hal-hal yang membutuhkan pertolongan kita segera jika tidak ada semua alasan itu.




Kamis, 03 September 2015

Mimpi

Adalah mimpi yang menjaga tetap hidup.
Bangun, terjaga dan siaga.
Setelah berkawan dengan negeri penuh utopia,
Yang dengan menyedihkan disebut delusi di dunia yg mengagungkan wujud.

Aku terlalu berani
Menimbang segala ketidakmungkinan menjadi irama yg bisa saja indah,
Pada suatu masa yang dengan ciut kutebak.
Berbekal sebuah janji, dari Dia Yang Maha Pengasih.

Ada sebuah dimensi lain di pangkal otakku.
Bukan, bukan otak, aku tidak sebebal itu.
Mungkin jurang hatiku.
Ah tapi aku terlalu payah dalam menavigasinya.
Sudah berapa kali aku terpleset ke dalamnya?

Bahwasannya itu memang mungkin.
Menggetarkan alamraya, yang kini bergerak begitu selaras.
Begitu indah, bahkan mungkin burung akan tercekat nyanyiannya jika keselarasan itu terhenti.

Namun, atas dasar apa aku tergoda?
Atas kesombongan sebelah mana lagi aku terpanggil?
Atas bentuk keputusasaan seburuk apa aku mendamba?

Kutuangkan air dalam gelas. Kuteguk dengan rakus. Kering menjadi lebih basah.
Kutelusuri aliran air dalam rongga hingga lambung.
Kucoba bangun-bangunkan apa yang belum tersadar.
Hentikan mimpi ini Ya Tuhan, Atau aku menuntut sebuah kenyataan!

Kusujudkan sekali lagi malam ini, apa-apa yang terlampau besar dari mimpiku untuk bertemu dengan-Nya.

Rabu, 26 Agustus 2015

Rindu

Maka mereka akan bertanya lagi dan lagi.
Bagaimana perseteruan bak drama sinetron itu bisa mulai?
Bagaimana pada akhirnya?
Aku menelan kepahitan, masih.

Aku bisa saja mengurainya dengan riang seperti gossip yang dibawa penjual jajanan pagi hari di pojok-pojok kampung.
Atau aku memilih mengisahkannya dengan kesenduan bagai kekasih yang dijanjikan manis tanpa bukti.
Namun, untuk apa?
Mungkin aku lah kekasih yang berkhianat itu.

Seringkali itu hanya berujung pada aku yang menimbang-nimbang.
Seberapa besar sebenarnya?
Entah sebentuk apakah yg sedang kutimbang, aku berharap sesuatu yg mampu menutup rinduku, sepenuh-penuhnya tanpa celah.

Mereka tidak salah, aku yang pernah tergesa-gesa bercerita.
Kamu tahu kan? Tahu sedikit selalu membangkitkan kreatifitas otak mereka.
Mungkin ini hanya ketakutanku, aku curiga mereka menebak-nebak lebih dari yg aku bayangkan.
Ahh.. aku seharusnya mencurigai diriku sendiri,
Penyakit macam apa yg kujejalkan di hati ini.

Malam ini aku hanya rindu.
Sudah kuantisipasi berkali-kali, bung.
Namun Tuhan Memang Maha becanda.
Dihidangkannya manusia-manusia yang dengan seenaknya menggali-gali apa yg telah coba aku kubur.
Jika kau membaca ini, kau bisa terbahak.
Sungguh lugas sekali sajak ini. Kering.

Mungkin begitulah, apa yg coba kugali malam ini sebagai rindu ternyata tak terlalu dalam.
Aku bersyukur untuk itu.
Bersyukur atas kekeringan sajak rindu ini.
Karena kau harus tahu, sudah bukan kau yang kudamba.
Aku mendambakan aku sendiri, aku yang mencintaimu tidak lebih dari mencintai Sang Maha Pemeluk hati.

Aku hanya rindu.
Dan kau tak perlu risau, bung.
Kupulangkan rindu ini pada-Nya, malam ini juga, detik ini juga.

Rabu, 19 Agustus 2015

Tanda

Menggaung saung dalam relung,
Syarat tak lagi hanya tersirat.
Dalam sangkar fana rasa,
Kumengembarakan rupa rupa.

Hai pemburu sekelumit aksara jiwa,
Apa yang kau ingin bawa pulang?
Pada siapa kau ingin hidangkan?
Tentang degub yang selalu mengganggu rebah.

Aku akan berkisah dengan gagah.
Tentang aku yang mampu menyujudkan gemuruh.
Pada malam yang sudah terlalu tua,
Untuk memaksa manusia menyandarkan lelap.

Ingatkan kamu tentang sajak murahan yg menyebut kupu-kupu?
Pernah menjeratku dalam ramu.
Merah jambu melengkapi segala semu.
Aku menantang juang berbekal segala tahu.

Kuhibahkan masa, raga, angan, cita
Pada ciptaNya yang mendesirkan rona
Kuremahkan seluruh yang bergerak
Tak kuimani setiap rambu.

Aku mempercayai, nafas selanjutnya adalah darinya, detik setelah ini adalah dengannya.

Bisa kah kau menebak hai pecandu kisah purba?
Kemana ujung segala kerling dan rayuku?
Aku pun pernah menanyakan itu padanya.
Dalam bahasa yang terlalu mudah kupahami sebagai habis,
Masih saja kurajut entah apa di udara yang menghidupi kami hari itu.

Maka kujanjikan sebuah pengusahaan.
Penghidupan yang kuharap dijemputnya pada suatu bilangan waktu.
Aku menyesak; Mengapa ada harap?
Namun sekali lagi,
Aku telah membutakan diri dari seluruh rambu.

Apakah kau penasaran tentang bagaimana dia?
Bagaimana dia berlaku? Berkata? Bersyair? Berharap? Bergumam? Bersiul? Atau apa saja yg bisa menyelamatkanku dari kesia-siaan.

Semua harapku menuai sambut dengan mudah detik itu.
Dan detik-detik selanjutnya menjadi tak pernah cukup.
Nyatanya dia mendekap dengan baik apapun yang kuhembuskan dalam waktu yang kami siasati.
Namun, tak satupun menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Ria dan lara semena-mena bergantian menyeruak. Nyeri.

Gemuruh tak akan pernah mau diam, bukan dia tempatnya berpulang.
Gemuruh dalam jalan panjang ini menuntut Penakluk yang lebih besar.


Maka aku tundukkan dia dalam kehancuran tersuramku.
Kurebahkannya dalam ucap yang berulang-ulang.
Berulang-ulang tentang sesiapa seharusnya pemilik semua ini.
Hingga dia mampu melembut bahkan hilang, ketika aku mengingatNya.

Dan begitulah, pada sesemuanya terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.


Semanu, 20 Agustus 2015

Medioker

Selalu ada yang bisa dibahas dari kata "Medioker" atau "Mediocre". Selain mengingat bahwa Aku dulu sangat antusias ketika mendengar kata "Mediocre" dari dosenku pada kelas pertama kuliah ekonomi, Aku juga merasakan telah lama akrab dengan kondisi tersebut setelah memahami apa makna dari Medioker itu. Hari itu hari Senin di bulan Agustus. Aku akan selalu mengingat hari itu sebagai sebagai hari ketika ejekan dari bapakku yang sudah sering terdengar di telingaku, “Dasar kamu nanggung!” mendapat istilah kerennya, yaitu Medioker. Sebenarnya lucu jika mengingat Aku malah merasa antusias bukan tertampar, atau minimal malu lah. Namun kupikir, kita harus mengenali kelemahan diri sendiri sebelum mampu bersinar menjadi bintang. Hahaha

Beberapa tahun lalu Akupun sudah pernah menuliskan kegelisahanku karena menjadi seorang Medioker. Menjadi orang yang serba nanggung cukup meresahkan bagi mahasiswi semester awal sepertiku dulu. Aku khawatir jika perantauanku demi kampus yang namanya mentereng seantero Indonesia Raya adalah sia-sia. Bapakku dulu sering kesal dengan kondisi akademik yang kumiliki, karena menurut beliau Aku adalah seorang anak yang pinter ya gak pinter, goblok pun jelas enggak. Nilai akademik di masa sekolahku selalu masuk 10 besar, tapi Aku tidak cukup berkilau untuk menoreh prestasi yang bisa membuat namaku dipanggil ketika Upacara rutin hari Senin, sebagai siswa berprestasi. Namun, AKu bisa merasakan, Aku berbeda, Aku memiliki keingintahuan lebih, hanya saja Aku tidak tertarik berkompetisi, tidak tertarik untuk menjadi menonjol. Hahaha what an excuse!

Pada akhir masa SMA-ku, Aku mampu mengerlingkan mata tanda mengejek atas kekalahan Bapakku karena Aku mampu diterima di universitas favorit. Namun nyatanya kebiasaan menjadi setengah-setengah dan biasa saja berlanjut hingga Aku kuliah. Bapakku pada akhirnya mulai mencari parameter lain dalam mengukur keberhasilanku, bukan lagi pada IPK atau nilai. Beliau mengalah, itulah mengapa Aku sangat mencintainya.

Aku tidak akan lagi menuliskan segala sebuah apologi untuk membalut kegelisahan pribadiku karena menjadi seorang yang nanggung. Aku telah berdamai dengan hal tersebut. Mungkin keadaan yang akhirnya membuatku berdamai. Setelah meloncat sana-sini, belajar ini itu, mencari aktualisasi diri kalau bahasa kerennya, Aku sadar, kita hanya harus memilih. Ada dua pilihan mendasar dalam aktualisasi diri menurutku. Pilihan pertama adalah Menjadi serba bisa. Namun kurasa hal tersebut membuat kita menjadi setengah-setengah, sehingga Aku simpulkan sendiri bahwa menjadi serba bisa sama dengan menjadi medioker. Pilihan kedua adalah memilih fokus mendalami satu ilmu, satu kegiatan, satu passion ataupun satu hobi. Hal yang kedua ini menuntut kita lebih konsisten, tekun, mengesempingkan rasa bosan untuk menjadi seorang ahli.

Pun, pada akhirnya Aku juga menyadari, bahwa kedua pilihan tersebut menjadi tidak penting lagi. Entah kita serba bisa dan memiliki sejumput-sejumput ilmu atau menjadi sangat dalam dan menguasai satu ilmu lebih dari yang lain, yang terpenting adalah sanggupkah kita mendermakannya? Seberapa mau kita menjadi bermanfaat untuk mereka yang tidak seberuntung kita? Dan menjadi bermanfaat tentu saja memiliki banyak cara, banyak jalan. Kita tidak pernah berhak menilai sesama manusia apakah dia bermanfaat atau tidak. Bahkan, berlindunglah jika timbul rasa bahwa kita telah atau sedang lebih bermanfaat dibanding manusia yang lain.

Saat ini ada hal yang lebih meresahkanku terkait menjadi manusia nanggung. Yaitu menjadi nanggung dalam hal beriman atau beribadah kepada-Nya. Jika kamu pernah berada di posisiku, kamu pasti merasakan bahwa pergulatan tersebut sangat melelahkan. Menjadi medioker dalam bidang akademik hanya melibatkan otak, kamu bisa menganggap dirimu lebih pintar atau cuek saja menjadi orang bodoh. Ada kesombongan yang bisa membuat dirimu bangga walaupun itu merugikanmu jika kau tahu. Atau memberi ruang lebih kepada rasa minder yang membuatmu belajar lebih. Sedangkan menjadi nanggung dalam hal keimanan rasanya sangat tidak enak. Melelahkan! Karena hal ini melibatkan kalbu yang artinya mempengaruhi hati, otak, dan ragamu.

Bagi orang yang tidak pernah merasakan menjadi nanggung dalam beriman, akan menganggapku terlalu berlebihan. Sekali lagi, ya, Aku hanya menilai. Aku pikir sangat enak ketika seseorang sudah sangat baik ibadahnya dan tidak pernah sekalipun tersasar atau terserempet hal-hal buruk. Ibadah pasti akan sangat mudah karena mereka dikelilingi orang-orang baik. Meninggalkan keburukan bukanlah hal yang riweuh, dipenuhi rasa pakewuh ataupun mengherankan bagi lingkungannya. Aku sering iri bahkan minder dengan orang-orang seperti ini. Aku sering mengamati mereka, kadang Aku sebel dengan mereka, bahkan mencari-cari kesalahan mereka, menyedihkan. Namun, diam-diam Aku berharap segera dikumpulkan bersama mereka. Hanya sampai di situ Aku mengatasi sebuah kegelisahanku terkait keimanan. Aku memilih tidak melakukan hal besar. Aku mencoba cuek dengan keimananku dan berharap semua baik-baik saja.

Kelompok kedua, adalah orang-orang yang Aku sendiri juga tidak bisa menilai apakah dia beruntung atau tidak. Mereka berprestasi dalam hal-hal seperti keilmuan, seni, jabatan dan hidup mereka bermanfaat bagi masyarakat luas. Menyenangkan. Mereka adalah orang-orang yang sangat menyenangkan dalam bergaul dan berkomunikasi. Aku sering merasa nyaman juga bersama mereka. Aku bisa menjadi apa adanya dan tertawa bebas. Tapi tahukah kamu ketika tawa itu habis? Aku tidak bisa memungkiri bagaimana resahnya ketika menyadari bahwa Aku terlalu jauh melangkah meninggalkan ibadah. Aku tidak akan menuduh orang-orang seperti ini jauh dari Tuhannya dan meninggalkan ibadah. Karena sekali lagi, Aku tidak berhak menilai. Karena bisa saja mereka terlihat biasa saja dalam beragama, tetapi di belakang mereka beribadah lebih khusyu’ dari pada aku. Aku hanya menyesali diriku sendiri, kenapa tawa sebanyak itu tak bisa menentramkan hati? Sedang mereka sepertinya baik-baik saja menjalani hidup.

Ah, aku terlihat menyedihkan bukan karena telah menggolongkan manusia-manusia yang bergaul tulus denganku menjadi dua golongan yang bertentangan? Yang Aku sadari saat ini, hatiku sendiri yang mengalami penyakit akut. Aku menjadi mudah iri, mudah ingin, mudah menuduh, mudah kagum, mudah sedih, mudah menyesal, mudah bahagia dan mudah-mudah yang lain. Itulah yang kusebut pergulatan. Dan semakin hari semakin berlebihan. Hingga suatu hari Aku memutuskan berhenti dalam pencarian panjangku. Aku menggigil kebingungan. Dan dalam kebingunganku, Dia datang. Dia Sang Pemeluk Alam Semesta.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa beruntung menjadi manusia Nanggung. Aku didekatkan dengan dua kutub yang sangat bertentangan. Mereka sangat dekat denganku, dekat, dekat sekali. Namun kenapa Dia tidak membuatku dalam pada salah satu di antara keduanya? Bagaimana aku hanya memperhatikan mereka yang beribadah dengan baik, tetapi Aku sering menolak ajakan mereka. Sedangkan dalam keburukan, aku tak cukup berani jika harus mendzalimi diriku sendiri. Dua realita yang sangat berbeda, yang harus kulihat, yang sering membuatku menangis di malam hari. Ingin menjadi baik, namun tak cukup baik. Ingin meninggalkan yang buruk, namun terlalu biasa dengan keburukan dan merasa banyak yang jauh lebih buruk dariku. Kamu tahu? Aku merasa Dia memelukku malam itu, Dia memintaku memilih.

Dia meyakinkanku untuk menanggalkan segala rasa minderku atas kebaikan dan membuang jauh-jauh rasa bahwa aku sudah cukup baik. Aku bersyukur, mungkin menjadi manusia nanggung adalah salah satu cara, bahkan satu-satunya cara bagi manusia bebal sepertiku, cara untuk membalutkan petunjuk-Nya. Supaya kita tidak mudah puas dengan kebaikan diri, karena masih banyak orang yang jauh lebih baik dari kita. Supaya kita bisa merasakan bagaimana perjuangan seseorang untuk menjadi lebih baik. Karena benar, Manusia derajatnya sama di depan Allah, yang membedakan hanya amal ibadah. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan, berlindunglah atas rasa dengki, beryukurlah atas hati yang tidak membeku, dan hisablah dirimu sebanyak mungkin hingga hilang segala ujub.

Meninggalkan ketanggungan memang tidak mudah, tetapi menyadari bahwa kamu sedang tanggung dalam beribadah dan beriman itu adalah keberuntungan. Tentu saja keberuntungan karena kamu dipilih oleh-Nya untuk merasakan kegelisahan tersebut. Mungkin kegelisahan tersebut merupakan jawaban doa-doamu di malam-malam lalu, atau doa-doa orang tuamu, atau doa-doa orang yang berterima kasih padamu, atau doa-doa orang yang menyayangimu. Namun, ketahuilah, Allah Maha Memberi Petunjuk.

Selasa, 11 Agustus 2015

uang

Aku mulai mengutuki bagaimana otakku sangat kesusahan jika harus berpikir sedikit lebih rumit. Malam ini aku merasa terancam, menyadari bahwa prosesku untuk mengedukasi diri mudah saja bisa tergantikan dengan hal yang lebih menggiurkan, mencari uang.

Aku mulai merasa dua puluh empat jam menjadi sangat amat kurang. Sedangkan dalam menjalani hari, aku terus saja mengantuk dan lapar jika otakku kupakai untuk berpikir keras. Bagaimana pada akhirnya malam-malamku selalu berujung dengan membuka laman website yang menjadi pasar business to business seantero jagat. Di sana aku tinggal melakukan hal yang disebut copy-paste atas tanggapan-tanggapan terdahulu. Membosankan, Namun aku juga berharap segera mendapatkan balasan dari pembeli di sana. Gila. Kupikir orang macam apa yang berpikir sebesar ini, mereka mempertemukan kebutuhan-kebutuhan manusia di luar sana, dan kami di sini yang sangat antusia menyambutnya, dalam rangka mencari sesuap nasi. Pasti mereka bukan sekumpulan manusia yang hanya ingin sesuap nasi. Ah, mencari sesuap nasi kubilang? apa iya itu yang mendesak saat ini bagiku? 

Jika sudah sangat jengah dengan apa yang kulakukan, aku memilih untuk mengadu kepada-Nya. Wah aku terlihat alim bukan? Aku sendiri ragu, aku bersujud untuk merayu-Nya agar email balasan segera datang, atau aku ingin curhat saja karena hal yang berhubungan dengan mencari uang menjadi sangat menjengahkan.

Di saat yang bersamaan, selalu ada excuse bahwa apa yang kulakukan adalah hal baik, aku mencarikan sesuap nasi untuk orang yang membutuhkan di sini, penjahit-penjahitku. Dan Alhamdulillah, sudah sewajarnya jika aku pun kebagian. Hmm. Mendadak pikiranku terganggu dengan kata "kebagian", ya mendapat bagian. Sampai berapa banyak? Karena deskripsi "kebagian" juga sering kali menjadi sebuah harapan terhadap digit yang lebih besar dan besar lagi. Ketika aku mulai memasukkan kebutuhan ini dan itu, aku ingin kebagian yang lebih banyak, dan aku menjadi makin tidak tenang, dan dua puluh empat jam makin kurang, dan aku semakin takut tidak bisa lagi curhat sama Dia, Dzat Yang Merangkulku ketika aku menggigil kebingungan sendiri. Aku takut, sangat takut meninggalkannya tanpa sadar, tanpa menyesal, bahkan dalam perasaan bahwa aku sudah benar.

Semalam, tanpa sadar aku menceramahi temanku, kami tidak terlalu dekat sebelumnya. Ah tapi aku baru sadar, aku selalu banyak bicara ketika merasa sudah cukup dekat dengan seseorang. Tapi yang lucu ketika melihat kembali pembicaraanku kemarin, lebih kepada curhat daripada ceramah. Aku dengan yakinnya bicara agar dia tidak menjadikan uang sebagai tujuan utamanya. Bagaimana dengan bijaknya aku berujar bahwa uang itu sangat mudah dicari, jika kau minta uang, Allah akan memberikan uang. Seketika kata-kataku menampar halus pipiku sendiri, ya benar, akhir-akhir ini aku mudah saja mencari uang, memang tidak banyak, tapi cukup, selalu cukup untuk hidup sebagai Aku yang suka mengada-ada kebutuhan. Menjadi hal yang mengerikan ketika mengingat bahwa jaminan itu nyata, setiap aku minta uang, maka Allah akan memberi uang. Jangan-jangan selama ini aku hanya minta uang sehingga dengan mudah dia memberiku uang, ya hanya uang.

Detik ini, aku masih terus menggali-gali apa yang tersisa di otakku. Aku menyebut kata ilmu, rejeki dan keinginan menjadi shaliha dalam doaku yang kadang basah, kadang sangat kering. Aku mengingat-ingat lagi, bagian mana yang membuatku lebih semangat, lebih khawatir dan lebih percaya diri. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, bahwa aku tak pernah benar-benar meminta yang lain, selain rasa aman karena uang. Aku bersumpah detik ini, aku khawatir dengan diriku sendiri.

Maka Aku berlindung pada Sang Maha Pemurah, apa-apa yang terbaik untukku hanya untuk menjadi lebih dekat dengan-Nya. Aku memohon dijadikan hambanya yang mampu mengkonversi harapannya atas kata rejeki dari sederet digit menjadi sederet yang lain, sederet orang-orang baik misalnya.