Menggaung saung dalam relung,
Syarat tak lagi hanya tersirat.
Dalam sangkar fana rasa,
Kumengembarakan rupa rupa.
Hai pemburu sekelumit aksara jiwa,
Apa yang kau ingin bawa pulang?
Pada siapa kau ingin hidangkan?
Tentang degub yang selalu mengganggu rebah.
Aku akan berkisah dengan gagah.
Tentang aku yang mampu menyujudkan gemuruh.
Pada malam yang sudah terlalu tua,
Untuk memaksa manusia menyandarkan lelap.
Ingatkan kamu tentang sajak murahan yg menyebut kupu-kupu?
Pernah menjeratku dalam ramu.
Merah jambu melengkapi segala semu.
Aku menantang juang berbekal segala tahu.
Kuhibahkan masa, raga, angan, cita
Pada ciptaNya yang mendesirkan rona
Kuremahkan seluruh yang bergerak
Tak kuimani setiap rambu.
Aku mempercayai, nafas selanjutnya adalah darinya, detik setelah ini adalah dengannya.
Bisa kah kau menebak hai pecandu kisah purba?
Kemana ujung segala kerling dan rayuku?
Aku pun pernah menanyakan itu padanya.
Dalam bahasa yang terlalu mudah kupahami sebagai habis,
Masih saja kurajut entah apa di udara yang menghidupi kami hari itu.
Maka kujanjikan sebuah pengusahaan.
Penghidupan yang kuharap dijemputnya pada suatu bilangan waktu.
Aku menyesak; Mengapa ada harap?
Namun sekali lagi,
Aku telah membutakan diri dari seluruh rambu.
Apakah kau penasaran tentang bagaimana dia?
Bagaimana dia berlaku? Berkata? Bersyair? Berharap? Bergumam? Bersiul? Atau apa saja yg bisa menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Semua harapku menuai sambut dengan mudah detik itu.
Dan detik-detik selanjutnya menjadi tak pernah cukup.
Nyatanya dia mendekap dengan baik apapun yang kuhembuskan dalam waktu yang kami siasati.
Namun, tak satupun menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Ria dan lara semena-mena bergantian menyeruak. Nyeri.
Gemuruh tak akan pernah mau diam, bukan dia tempatnya berpulang.
Gemuruh dalam jalan panjang ini menuntut Penakluk yang lebih besar.
Maka aku tundukkan dia dalam kehancuran tersuramku.
Kurebahkannya dalam ucap yang berulang-ulang.
Berulang-ulang tentang sesiapa seharusnya pemilik semua ini.
Hingga dia mampu melembut bahkan hilang, ketika aku mengingatNya.
Dan begitulah, pada sesemuanya terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.
Semanu, 20 Agustus 2015
Syarat tak lagi hanya tersirat.
Dalam sangkar fana rasa,
Kumengembarakan rupa rupa.
Hai pemburu sekelumit aksara jiwa,
Apa yang kau ingin bawa pulang?
Pada siapa kau ingin hidangkan?
Tentang degub yang selalu mengganggu rebah.
Aku akan berkisah dengan gagah.
Tentang aku yang mampu menyujudkan gemuruh.
Pada malam yang sudah terlalu tua,
Untuk memaksa manusia menyandarkan lelap.
Ingatkan kamu tentang sajak murahan yg menyebut kupu-kupu?
Pernah menjeratku dalam ramu.
Merah jambu melengkapi segala semu.
Aku menantang juang berbekal segala tahu.
Kuhibahkan masa, raga, angan, cita
Pada ciptaNya yang mendesirkan rona
Kuremahkan seluruh yang bergerak
Tak kuimani setiap rambu.
Aku mempercayai, nafas selanjutnya adalah darinya, detik setelah ini adalah dengannya.
Bisa kah kau menebak hai pecandu kisah purba?
Kemana ujung segala kerling dan rayuku?
Aku pun pernah menanyakan itu padanya.
Dalam bahasa yang terlalu mudah kupahami sebagai habis,
Masih saja kurajut entah apa di udara yang menghidupi kami hari itu.
Maka kujanjikan sebuah pengusahaan.
Penghidupan yang kuharap dijemputnya pada suatu bilangan waktu.
Aku menyesak; Mengapa ada harap?
Namun sekali lagi,
Aku telah membutakan diri dari seluruh rambu.
Apakah kau penasaran tentang bagaimana dia?
Bagaimana dia berlaku? Berkata? Bersyair? Berharap? Bergumam? Bersiul? Atau apa saja yg bisa menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Semua harapku menuai sambut dengan mudah detik itu.
Dan detik-detik selanjutnya menjadi tak pernah cukup.
Nyatanya dia mendekap dengan baik apapun yang kuhembuskan dalam waktu yang kami siasati.
Namun, tak satupun menyelamatkanku dari kesia-siaan.
Ria dan lara semena-mena bergantian menyeruak. Nyeri.
Gemuruh tak akan pernah mau diam, bukan dia tempatnya berpulang.
Gemuruh dalam jalan panjang ini menuntut Penakluk yang lebih besar.
Maka aku tundukkan dia dalam kehancuran tersuramku.
Kurebahkannya dalam ucap yang berulang-ulang.
Berulang-ulang tentang sesiapa seharusnya pemilik semua ini.
Hingga dia mampu melembut bahkan hilang, ketika aku mengingatNya.
Dan begitulah, pada sesemuanya terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.
Semanu, 20 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar