Hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana harga diriku dan
rasa bahagiaku harus beradu. Hari di mana aku tidak bisa datang memberikan
apapun. Hari di mana aku harus mengakui bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak
mampu membuktikan apa-apa.
Mungkin begitulah aku, tak pernah terlalu dalam dan tak
pernah terlalu bersungguh-sungguh dalam membuktikan niatanku. Seandainya kamu
tahu betapa buruknya rasa ini.
Aku hanya merasakan nyeri yang sangat dan ada gemetar di
tanganku. Tak cukup buruk sebenarnya untuk menjadikan hari ini hari yang buruk.
Tak cukup buruk untuk menangis. Namun ada kegetiran yang tak mampu aku
sembunyikan. Aku ingin mengalahkanmu dengan berbagai cara, walaupun aku tahu
aku telah kalah dalam berbagai cara. Aku ingin mengalahkan diriku sendiri yang
ingin mengalahkanmu.
Bualan tentang pagi yang seru yang mungkin saja kita lewati
bersama tentu saja tak akan pernah terjadi. Semakin jauh karena aku tidak
bergerak ke arahmu. Karena kamu bergerak dalam dunia yang riuh, yang tak berani
aku singgahi. Karena kamu bergerak tanpa menoleh apakah aku bergerak baik-baik
saja. Karena aku yang tak percaya diri mampu menciptakan pagi yang seru.
Aku baik-baik saja, semua baik-baik saja, kamu pun baik-baik
saja. Dalam angan yang tak perlu terbentuk rupa, seharusnya pagi yang seru itu
telah terjadi, tentu saja dalam dimensi ruang kita masing-masing. Kau
sahabatku, dalam suatu persinggungan yang hanya sebentar. Kau yang selalu
kudoakan mendapati yang terbaik, tapi di sisi lain egoku berharap kau tak
bahagia tanpaku, paling tidak tak lebih bahagia dariku. Sekarang aku tertawa, mendapati penyakit yang terus saja kujejalkan ke hatiku yang payah.
Maafkan aku. Namun percayalah manusia baik tak mempan doa
buruk. Apalagi doa dari manusia yang ragu-ragu sepertiku. Selamat berkarya
bung! Aku tahu kau akan menjadi sangat luar biasa, itulah mengapa aku pernah
menghentikan waktu untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar