Maka mereka akan bertanya lagi dan lagi.
Bagaimana perseteruan bak drama sinetron itu bisa mulai?
Bagaimana pada akhirnya?
Aku menelan kepahitan, masih.
Aku bisa saja mengurainya dengan riang seperti gossip yang dibawa penjual jajanan pagi hari di pojok-pojok kampung.
Atau aku memilih mengisahkannya dengan kesenduan bagai kekasih yang dijanjikan manis tanpa bukti.
Namun, untuk apa?
Mungkin aku lah kekasih yang berkhianat itu.
Seringkali itu hanya berujung pada aku yang menimbang-nimbang.
Seberapa besar sebenarnya?
Entah sebentuk apakah yg sedang kutimbang, aku berharap sesuatu yg mampu menutup rinduku, sepenuh-penuhnya tanpa celah.
Mereka tidak salah, aku yang pernah tergesa-gesa bercerita.
Kamu tahu kan? Tahu sedikit selalu membangkitkan kreatifitas otak mereka.
Mungkin ini hanya ketakutanku, aku curiga mereka menebak-nebak lebih dari yg aku bayangkan.
Ahh.. aku seharusnya mencurigai diriku sendiri,
Penyakit macam apa yg kujejalkan di hati ini.
Malam ini aku hanya rindu.
Sudah kuantisipasi berkali-kali, bung.
Namun Tuhan Memang Maha becanda.
Dihidangkannya manusia-manusia yang dengan seenaknya menggali-gali apa yg telah coba aku kubur.
Jika kau membaca ini, kau bisa terbahak.
Sungguh lugas sekali sajak ini. Kering.
Mungkin begitulah, apa yg coba kugali malam ini sebagai rindu ternyata tak terlalu dalam.
Aku bersyukur untuk itu.
Bersyukur atas kekeringan sajak rindu ini.
Karena kau harus tahu, sudah bukan kau yang kudamba.
Aku mendambakan aku sendiri, aku yang mencintaimu tidak lebih dari mencintai Sang Maha Pemeluk hati.
Aku hanya rindu.
Dan kau tak perlu risau, bung.
Kupulangkan rindu ini pada-Nya, malam ini juga, detik ini juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar