Sabtu, 31 Desember 2016

Desember-Januari

Desember melenggang lincah, aku masih ingin menggenggamnya, melihatnya mati tak tersisa, di tanganku.
Kamu menunggu puisi dariku?
Aku tak punya. Sudah lama aku berkisah tentangku yang kehabisan sajak.
Aku hanya ingin membaca dan membaca lagi, supaya aku lebih pintar.
Oh bukan pintar mungkin, lebih logis.
Oh bukan logis mungkin, lebih tidak ceroboh.
Oh bukan tidak ceroboh mungkin, lebih memahami diriku.
Oh bukan memahami diriku mungkin, lebih mencintai diriku.

Aku, seperti yang selalu terlihat di matamu, tidak jelas dan susah ditebak.
Aku, seperti katamu, mengacaukan banyak skenario.
Kedatanganku dan gerakku di luar pola dan ritme yang diciptakan banyak orang.
Aku akan berhenti berpuisi dan lebih banyak memahami kemana semua orang ini bergerak sebenarnya?
Aku hanya ingin menjadi bagian yang baik dan bermanfaat, fokus dan berguna.

Aku hanya ingin tidak mengganggu kehidupan siapapun dengan cara apapun.
Puisiku, gambarku, ceritaku akan kupungkasi jika itu tidak sesuai dengan ritme gerak khalayak. Kunikmati sendiri, kuresapi sendiri, kumanifestasikan sendiri. Terutama, jika tidak kauinginkan ia melintas di pikiranmu.

Januari, menyambut hangat. Banyak yang ia janjikan bahwa aku akan melewati hari yang seru. Namun, aku melirik dengan waspada ke kanan dan ke kiri. Teringat Januari sebelumnya aku dikerjai dengan harapan dan hempasan, berkali-kali. Menyenangkan dan juga nyeri.

Jika surat terakhirku sampai padamu, ketahuilah aku sudah mengemasi semuanya. Seperti Desember yang melenggang riang, dengan lidah menjulur mengerjaiku, tangannya melambai di kedua telinganya. Sedang Januari membuka tangannya lebar-lebar, dan mengerlingkan matanya padaku, tengil.

Kamu, mungkin sedang duduk di kursi kehidupan yang lain. Yang terlalu berbeda denganku, terheran-heran mengapa pernah ada gadis sepertiku mampir di hidupmu. Dan Kau, membuang kalender 2016 di sampah, yang sebelumnya telah kau remas tiap halamannya. Sambil tersenyum, sambil berkata, hidup harus logis!

Dan aku akan selalu jatuh cinta, kepadamu atau kepada kehidupan. Dan aku selalu tenggelam, bersamamu atau bersama bahan bacaanku. Dan aku akan selalu terkagum-kagum, oleh pandanganmu atau semua likuk jalan di bukit itu. Aku mungkin akan membiarkan diriku mengalami keterlemparan seperti sebelumnya, namun aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa keterlemparanku tak akan bising dan mengganggu jalan orang.

Senin, 26 Desember 2016

Self talk

Kamu terbangun, semalam kamu tidak memeranginya, kamu mengikuti nafsumu untuk terus bicara. Nafsu untuk membela diri, untuk mencari pembenaran, untuk mencari perlindungan, untuk dimengerti. Nafsumu terlalu besar sayangku, nafsu atas selalu berada di tempat yang nyaman. Sayangnya itu malah membuatmu ketakutan. Kamu mengungkapkan apa yang seharusnya cukup menjadi pertimbanganmu saja. Kamu selalu berharap ada orang lain yang membantu mengurai pikiranmu atau bahkan memeluk semua kekhawatiranmu. Sudah kamu jelaskan berkali-kali pada dirimu sendiri, bahwa seharusnya kamu bisa mengatasi ini sendiri. Bahwa sesungguhnya kamu tau resikonya, kapan bicara kapan diam.

Sekarang, kamu menyesal. Kamu bangun di pagi hari, takut melihat telepon genggammu karena semalam kamu membuat kekacauan. Apa yang sebenarnya kamu cari? Perhatian?

Apakah kamu jatuh cinta? Tanyakan pada dirimu sendiri. Kekacauan yang kamu buat sudah terlalu banyak, sebaiknya cintailah dirimu sendiri. Bagaimana kamu selalu ingin menguji seseorang untuk menerimamu yang seperti ini jika kamu belum mampu mencintai dirimu sendiri? Perjalananmu masih jauh, mimpimu masih banyak, siapa yang bisa jamin kamu pasti mendapat partner untuk berjalan? Simpan kekuatanmu sayangku, sederhanakanlah hidupmu, menepilah, menyepilah. Hidup bukan pasar malam, jangan terus ingin menyalakan kembang api di setiap perjumpaan dan kaki melangkah. Percayalah, cintai dirimu sendiri dulu, biarlah semesta yang membimbingmu kemana arah cinta itu.

Sabtu, 24 Desember 2016

;)

Ada perbedaan mendasar dari mengagumi dan jatuh cinta. Mengagumi memacu dirimu untuk belajar lebih dan paling tidak selevel dengan orang yang kamu kagumi. Dan jatuh cinta membuat dirimu mau tidak mau terjun bebas dari bentuk rasionalitas apapun. Menyenangkan sekali bisa merasakan keduanya bersamaan, pada orang yang sama atau pada dua orang yang berbeda, kemudian membuatmu memilih gundah dan gulana atau membaca dan mengulas pada malam hari. Aih menyenangkan sekali hidup dalam keterlemparan seperti ini, sebuah pengayaan tak kunjung habis. Rayakan!

Kamis, 22 Desember 2016

You

When you say you can't, the only thing i know is that it's gonna be a great day, indeed, with or without you. Because you know, we are as our self is the only one who able to produce and reproduce everything, happiness for example. But you also have to know, it would never be the same without you, it's just not the same. I miss you like everyday, it's not for some times or some minutes, it's like the whole day and everyday. But yes, everyday was going right and fine. Tomorrow and forever will be fine at the end. I handle everything, just like you do everyday. But i miss you and i want you to be here.

Selasa, 20 Desember 2016

Ramai

Aku mengambilnya sedikit dari kerumunan,
mengolahnya mengolahnya mengolahnya,
aku tak suka,
kubuang sedikit ke kerumunan,
membentuknya membentuknya membentuknya,
aku tak nyaman,
ku contek sedikit dari keramaian,
memelintirnya memelintirnya memelintirnya,
aku mual,
kusisihkan ke kolong tempat tidur,
memikirkannya memikirkannya memikirkannya,
aku gelisah.

Aku ingin memuntahkannya, tak ada tempat.
Di luar terlalu ramai, aku malu.
Di luar terlalu bising, aku ragu.
Kubenturkan ke dinding, dia melenting, menampar mukaku, aku terbanting, merah padam aku dibuatnya.

Seandaianya aku menutup mata, menyumpal telinga, membungkam bibir, menali tangan, mengunci kaki.
Seandaianya tak ada ingin tahu, karena tahu adalah bagian dari nafsu, atau nafsu tercipta dari tahu? Entahlah, malas kali aku berpikir.
Yang kutahu sudah lacur bising itu menelisik di selimut dan bantal tidurku.
Aku akan tidur bersamanya selama-lamanya, kunikahi juga dia, kegelisahan bodoh tentang protes akan mereka yang banyak.

Sepertinya aku harus sekolah lagi, supaya aku bisa terbang tinggi, di bawah sini terlalu berisik. Atau aku harus didekap seseorang, supaya tak khawatir aku tertabrak kanan-kiri. Atau uang yang banyak? Supaya kumakan kenyang lalu tidur saja. Aku bosan terombang-ambing sendiri.

Namun, mereka yang punya semuanya itu, otak, uang, dan seseorang, kenapa masih saja bising dan terombang-ambing? Ah bodoh memang tak terbatas.

Minggu, 18 Desember 2016

habis

Maka aku kehabisan sajak, maka aku kehabisan sajak, maka aku kehabisan sajak. Kau akan mendapati aku mengulang kata yang sama berkali-kali, hingga kehilangan makna, hingga tak menggetarkan rasa, hingga mengikis asa. Ketika semuanya menjadi begitu jelas, kau tak lagi berkelit, dan semuanya termaafkan. Lalu kita melenggang, masing-masing, mengulang cerita yang sama, berkali-kali di perjumpaan yang lain, di persimpangan yang lain. Begitulah katanya cinta, membunuh dirinya sendiri pelan-pelan, atau memilih menghindar, karena rutinitas lebih seksi dan menggairahkan dari debar yang terabaikan. Begitulah katanya, cinta menjadi tidak logis dan hanya menjadi pemanis catatan sejarah, atau kisah purba yang menjadi dongeng sebelum tidur kanak-kanak. Karena pada akhirnya, kita menjadi dewasa dan memilih sebaiknya bertukar kepentingan saja.

Kangen

Aku pernah berlari menuruni hutan senaru yang lebat karena mendapat banyak cerita dari teman bahwa bermalam di sana itu buruk sekali, lebih buruk dari malam di sembalun. Bukan hanya suara kuntilanak, tapi juga dikerjai penunggu percabangan, paling baik kamu akan berputar mengelilingi satu punggungan ke punggungan lain dan baru akan sampai bawah beberapa hari kemudian dengan logistik habis, fisik dan mental terkuras, paling buruk, mati karena jurang siap menjumpai dalam kelamnya malam.

Yang aku herankan, kami dulu bersembilan dan aku perempuan sendiri, karena ketakutan itu, terutama ada satu pemuda Menggala yang lebih paham buruknya setan lombok, membuat kami memilih berusaha menambah kecepatan hingga memangkas waktu perjalanan hampir setengah waktu normal. Aku dipaksa tunggang langgang mengikuti ritme lari mereka. Sialan. Betapa tidak enaknya naik gunung seperti itu. Padahal, banyak sekali pos yang sangat enak untuk dibukai tenda, bermalam, dan ngopi. Dan kamu tahu, full moon kami lewati begitu saja! Tidak ada romantisme pendakian.

Suara kuntilanak mungkin akan menyapa jika kami memilih berkemah. Namun aku hampir yakin, lari dalam keadaan ketakutan, lelah dan lapar itulah yang membuat banyak orang memilih punggungan yang salah di percabangan. Nyatanya senaru sudah tidak semengerikan itu, malah mungkin kini sudah seperti pasar malam.

Ah kadang, di antara jari yang mengetik, tumpukan kertas, dan layar yang nanar ini, Aku kangen Rinjani, atau beberapa lembah dan punggungan yang gelap lainnya.