Kamis, 27 Juni 2013

Catatan Pendakian Gunung Indonesia

Selamat malam.

Tulisan ini sungguh tak bermaksud membunuh semangat-semangat pendaki atau petualang muda yang ingin mengenal tanah airnya lebih dalam. Tentu saja karena Soe Hok Gie dengan indahnya telah menginspirasi pemuda-pemudi Indonesia untuk cinta tanah air dengan cara mengenalnya secara langsung, bukan melalui slogan-slogan melulu. Dan generasi pendaki/petualang terdahulu yang telah terfasilitasi dengan teknologi sehingga menularkan candu atas keindahan alam indonesia bukan hanya bermaksud pamer semata.

Beberapa minggu lalu saya mendapat kiriman foto dari teman-teman di gunung Semeru Jawa Timur. Siapa yang saat ini tidak ingin pergi kesana? Teman-teman awam pun sekarang merencanakan perjalanan hebat untuk meraih puncak Mahameru. Kiriman foto tersebut berisi Ranu Kumbolo yang penuh dengan tenda warna-warni, "Kayak cendol" kata teman saya. Bahkan untuk di beberapa titik jalur pendakian terjadi keantrian. Ya, sekarang macet tidak hanya di jalanan kota, tapi di gunung. Dulu keindahan city light yang sering diposting di jejaring sosial, sekarang di gunung. Jejaring sosial, generasi trending topic hehehe

Kata teman saya Lebhus, "awakmu pernah delok wong munggah gunung nggae rok?munggah gunung gendong bayi? nang pos istirahat nyusui bayine? (Kamu pernah lihat naik gunung pake rok? naik gunung gendong bayi? di pos istirahat menyusui bayinya?). Jujur jika ketemu langsung di sana, pasti saya mikir ahh so sweet bawa bayinya ke gunung, saya juga mau besok kalau punya anak bayi saya ajak ke gunung. Pasti saya semangatin mbak-mbak yang maksa naik gunung pake rok, semangat mbak, mbak pasti bisa mencapai puncak.

Ya bagaimanapun caranya, saat ini kita berbondong bondong menuju puncak, dengan berbagai macam tujuan. Saya tidak perlu membahas tujuan tersebut, setiap orang memiliki tujuannya masing-masing seperti note tentang gunung yang pernah saya tulis 2 tahun lalu. Yang pasti seperti selera pasar yang bergeser kepada petualang (ekstrim ?) ini meningkatkan permintaan akan wisata di daerah tersebut. Sekilas ini terasa positif. Dengan begitu masyarakat akan mendapat penghasilan tambahan dari warung, transportasi, dan segala tetek bengek yang dibutuhkan para pendaki ini. Dan pendapatan retribusi yang diperoleh desa akan naik. Selanjutnya akan terjadi pembangunan desa dan masyarakat akan sejahtera bahagia selamanya. Manis bukan?

Namun kenyataannya tidak seindah harapan, konon katanya (semoga ini gossip, tapi saya yakin ini bukan gossip), bahwa kas yang masuk untuk kepentingan masyarakat desa tidaklah banyak. Mungkin ini menjawab komentar seorang teman kemarin, "kenapa harus membatasi kuota pendaki, padahal warga Ranupane (warga sekitar beskem pendakian) pasti senang kalau banyak pendaki?". Kenyataannya, banyak atau tidak pendaki, tidak terlalu menambah kesejahteraan masyarakat di sana. Saya bicara memang tidak menggunakan data, hanya cerita-cerita dari beberapa teman yang menjadikan gunung seakan halaman belakang rumahnya untuk bermain. Seakan rumahnya untuk pulang di kala penat kota, bertemu penduduk asli, bukan sekali, tapi sudah sejak lama sekali.

Duh, mungkin benar pendapat bahwa seakan pariwisata menggeliat, makin semarak dan masyarakat lokal akan segera mendapatkan trickle down effectnya. Namun sesungguhnya yang memegang dan mendapat hasil manisnya hanya orang-orang itu saja. Tetap saja para pemodal besar dan pemerintah yang sering datang terlambat untuk meminta retribusi.

Kalau sama-sama tidak mendapat hasil kesejahteraan ekonomi yang membaik ya mending wisata petualangan ini kembali seperti dulu. Ketika tidak sebanyak ini orang yang datang, ketika setiap pendaki mengenal penduduk-penduduk di sekitar beskem, ketika pendaki mengenal Mbah Pujo - Mbah Pujo dan mampir ngopi/ngeteh. Ketika pendaki tidak hanya keluar masuk desa untuk lewat dan transit sebelum mendaki. Saat ini saya rasa penduduk sekitar sudah tidak peduli pendaki keluar masuk desanya, mereka mungkin hanya membatin apa yang orang-orang ini cari sembari tetap melakukan aktivitas sehari-harinya. Sedang kita berjalan gagah dengan atribut pendaki yang serba trendi tanda petualang sejati. Tak ada pembicaraan, tak ada berbagi pikiran, hanya numpang lewat.

Ya sekian mungkin ini hanya sebuah wake up call bagi saya sendiri sebagai pendaki baru dan teman-teman yang memang berniat tulus menikmati alam indonesia. Saya sendiri termasuk orang-orang yang dulu sering posting foto-foto di puncak dan manas-manasi teman-teman saya untuk naik gunung. "Seumur hidup sekali saja kau harus naik gunung, dan kau akan ketagihan" Kata saya 2 tahun lalu. Saya yang tidak terlalu dewasa dan masih sangat bangga mengibarkan bendera di Puncak.

Mari kita kawal bersama-sama peraturan-peraturan indah yang dibuat pengurus Taman Nasional - Taman Nasional tersebut. Sampah bawah turun, safety first, hindari peak season, bayar retribusi! Dan satu hal, berinteraksilah dengan para tuan rumah di sana. Saya yakin pendaki-pendaki hebat yang mencintai alamnya pasti paham kapan harus tinggal di rumah, kapan harus mendaki.


Kamis, 23 Mei 2013

Centre of Your Being!


"It would be great to have Valentino in F1, but he wouldn't have even a minimal chance of winning." — Valentino Rossi 


Pernakah kamu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek akun jejaring sosial seorang teman? Dan lalu berpikir betapa hebatnya dia, mulai membanding-bandingkan dengan dirimu? Mungkin diakui atau tidak itulah sebuah krisis remaja urban. Namun tidak jarang kita yang sudah memutuskan memilih beberapa hal dalam hidup kita masih melakukannya.

Sawang sinawang kalau kata orang jawa. Banyak sekali sebenarnya ungkapan atau quotes hebat yang sering dengan fasih kita ucapkan. Rumput tetangga selalu lebih hijau dan lain sebagainya. Kita tidak benar-benar menikmatinya, kita hanya menghibur diri. Saya pun mengalami hal serupa. Saya sedang selalu mendadak mengalami krisis ketika membandingkan diri saya dengan orang lain. Menyedihkan bukan? Kita tahu betul masalahnya, tetapi kita terus-terusan menyuapi diri kita dengan hal-hal negatif seperti itu. Saya pun paham betul kemampuan saya, potensi saya bahkan passion saya jauh berbeda dengan orang-orang teresebut. Lalu apa yang sebenernya coba saya cari ketika membandingkan-bandingkan diri saya dengan orang tersebut?


Sesungguhnya penyakit itu ada di sini, di hati, dan kita lah penyebabnya.


Quotes di awal tulisan ini adalah milik legenda Moto GP idola saya, Valentino Rossi yang selalu menginspirasi. Saya tidak terlalu suka membaca buku motivasi. Saya lebih memilih membaca Al-Quran, Buku Autobiografi Valentino Rossi, dan meonton film. Lagi dan lagi itu selalu mampu membuka jalan untuk angin segar di kepala saya yang sedang terasa berat.

Valenttino Rossi pun dengan segala kemampuan dan keberuntungan yang dia milki, mampu mengakui kelemahannya. Mengenali Potensi diri dan tidak memaksakan diri melakukan hal yang tidak dia sukai.

Mungkin berbagai tanggapan muncul dengan pernyataan Vale satu ini. Seluruh mata dunia mengidam-idamkan kombinasi yang sempurna antara seorang legenda balap dan legenda pabrikan Formula 1, yaitu Ferrari. Tapi dia mengakui bahwa itu tidak akan berjalan baik, memang terlihat hebat, tapi untuk apa? Tidak ada kesempatan untuk menang dan mungkin tidak memberi nilai tambah sama sekali.

Berhentilah menjadi yang orang lain inginkan. Jangan terus-terus membandingkan dirimu dengan orang lain. Menyadari potensi dan kelemahan diri sendiri akan membuat setiap langkah yang kita tempuh menjadi menyenangkan. Bukan bekerja keras tanpa menikmatinya, dan bahkan tau kita tidak akan mencapai hasil optimal. 

Let's be person, not an icon. Mungkin jalanmu tidak akan sepopuler orang lain, tapi ketika kamu menjadi begitu dalam di sana, let's see how the world come over you.

Stay deep at the centre of your being..








Selasa, 09 April 2013

Beauty


Beauty, manusia sudah semakin cerdas, sudah menggunakan otak daripada insting. Paling tidak kecantikan sudah tidak lagi dinilai dari fisik saja. Namun, bersama dengan kecerdasan, deskripsi kecantikan menjadi jauh lebih kompleks. Bagaimana dengan fisik? tentu saja fisik masih dinilai. Bahkan kontes-kontes kecantikan kini memiliki standarnya. Yaitu sebuah standar yang tinggi, tinggi sekali, dengan deskripsi yang seragam.


Kecantikan itu tentang selera pasar. Jika Pasar bilang Cantik berarti harus pintar, punya hobi menarik, cerdas dalam bicara, peduli sesama, pandai bersosialisasi, menyukai petualangan, update fashion, pandai berdandan, bisa masak, pengalaman organisasi dan lain-lain dan lain-lain, maka? Ya maka wanita dituntut untuk Multi-talented.

Multi-talented itu butuh pembelajaran yang lama, nona! Perpaduan antara passion, kegagalan, pengorbanan (waktu tenaga dan uang) dll. Namun, bagaimana jika kamu tidak mau atau malas menjalani proses tersebut?Ah santai saja bisa dikejar dengan cara instan kok. Media sosial sebagai wadah menunjukkan itu semua, dengan upload foto sedang bertualang, tapi tetap cantik, foto bakti sosial, foto hang-out bareng teman, foto dengan baju paling update, dengan update status mengutip quotes orang bijak, menonton film, membeli buku, mengikuti trending topicTidak perlu mendalami semuanya, Multi-talented itu agaknya omong-kosong kok. Tinggal dilakukan sekali, dan jejaring sosial mampu membuatmu terlihat Multi-talented dan Multi-taskingMurah dan Meriah.

Begitu juga dengan kontes kecantikan, Beauty, adalah tentang memenuhi minat mereka. Mereka yang entah darimana datangnya, Mereka yang ingin kita rebut perhatiannya. Jika terus mengikutinya, kita bisa bahagia, sangat bahagia. Namun tidak akan pernah ada habisnya dan mungkin akan melelahkan. Namun, itulah wanita, kecantikan memang menyakitkan. Dan kita rela untuk itu.

Senin, 04 Maret 2013

10 Things I Hate about You

I wrote this poem in 13 of july last year, for an eccentrict friend who called himself with a weird name. I wrote this poem when i couldn't any longer deny that he attracted me too much. I guessed it would be just another silly crush that will washed away in times. But like a junior high school girl, the more i hate him, the more i fall for him, deep and deeper.
This is 10 things i hate about you :)


I hate the way you talk to me, and the way you mess your hair.
I hate the way you ride your bike, and your obsession about old car.
I hate it when you stare, and suddenly laugh like crazy.
I hate your skinny dumb (you said) rock clothing, and the way you read my mind.
I hate you so much it makes me sick.
It even makes me rhyme.
I hate the way you're always right.
I hate it when you lie.
I hate it when you countdown me to smile,
even worse when you make me cry.
I hate it when you're not around,
and the fact that you didn't call.
I hate the way i don't hate you.
Not even close..
Not even a little bit..
Not even at all.


*)note: yes, like you all knew, i adapted this poem from a romantic movie stared by Health Ledger, 10 Things I Hate about You.



Rabu, 27 Februari 2013

Day Dreaming

Aku bermimpi tentang suatu dunia, Para gadis percaya dia cantik tanpa kosmetik.
Para pria merayu hanya menggunakan mawar, bukan jaguar.
Tentang kepercayaan manusia terhadap anggota tubuh karunia Tuhan lebih kuat dari mesin.
Tentang surga yang nyata-nyata sudah ada di depan mata. Jika tidak dijaga, semua akan masuk neraka. Karena surga sudah rusak.
Tentang berbagi tak akan membuatmu mati lapar. Rakus membawamu mati kenyang.
Tentang kegagalan yang membuat seseorang berteriak "Bingo!" atas suatu serendipity miliknya.
Tentang manusia-manusia yang bernyanyi saat bekerja, karena dia cinta. Maka peribahasa "bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian" adalah omong kosong.
Tentang dihapusnya kata "harus" pada kamus ciptaan manusia. Karena tidak ada hal yang baku, semua tentang pilihan. Hanya Tuhan yang berhak melakukan mandatory pada umatnya.
Tentang manusia belajar bahasa bukan cuma untuk mencari kerja. Namun untuk mengenal bangsa-bangsa lain seperti perintah Al-Quran.
Lalu aku terbangun dan sadar, untuk cepat lulus aku harus rajin ke perpus. Back to the real world,beibeh! ;D Hahahaha