Beauty, manusia sudah semakin cerdas, sudah menggunakan otak daripada insting. Paling tidak kecantikan sudah tidak lagi dinilai dari fisik saja. Namun, bersama dengan kecerdasan, deskripsi kecantikan menjadi jauh lebih kompleks. Bagaimana dengan fisik? tentu saja fisik masih dinilai. Bahkan kontes-kontes kecantikan kini memiliki standarnya. Yaitu sebuah standar yang tinggi, tinggi sekali, dengan deskripsi yang seragam.
Kecantikan itu tentang selera pasar. Jika Pasar bilang Cantik berarti harus pintar, punya hobi menarik, cerdas dalam bicara, peduli sesama, pandai bersosialisasi, menyukai petualangan, update fashion, pandai berdandan, bisa masak, pengalaman organisasi dan lain-lain dan lain-lain, maka? Ya maka wanita dituntut untuk Multi-talented.
Multi-talented itu butuh pembelajaran yang lama, nona! Perpaduan antara passion, kegagalan, pengorbanan (waktu tenaga dan uang) dll. Namun, bagaimana jika kamu tidak mau atau malas menjalani proses tersebut?Ah santai saja bisa dikejar dengan cara instan kok. Media sosial sebagai wadah menunjukkan itu semua, dengan upload foto sedang bertualang, tapi tetap cantik, foto bakti sosial, foto hang-out bareng teman, foto dengan baju paling update, dengan update status mengutip quotes orang bijak, menonton film, membeli buku, mengikuti trending topic. Tidak perlu mendalami semuanya, Multi-talented itu agaknya omong-kosong kok. Tinggal dilakukan sekali, dan jejaring sosial mampu membuatmu terlihat Multi-talented dan Multi-tasking. Murah dan Meriah.
Begitu juga dengan kontes kecantikan, Beauty, adalah tentang memenuhi minat mereka. Mereka yang entah darimana datangnya, Mereka yang ingin kita rebut perhatiannya. Jika terus mengikutinya, kita bisa bahagia, sangat bahagia. Namun tidak akan pernah ada habisnya dan mungkin akan melelahkan. Namun, itulah wanita, kecantikan memang menyakitkan. Dan kita rela untuk itu.
Beauty, manusia sudah semakin cerdas, sudah menggunakan otak daripada insting. Paling tidak kecantikan sudah tidak lagi dinilai dari fisik saja. Namun, bersama dengan kecerdasan, deskripsi kecantikan menjadi jauh lebih kompleks. Bagaimana dengan fisik? tentu saja fisik masih dinilai. Bahkan kontes-kontes kecantikan kini memiliki standarnya. Yaitu sebuah standar yang tinggi, tinggi sekali, dengan deskripsi yang seragam.
Kecantikan itu tentang selera pasar. Jika Pasar bilang Cantik berarti harus pintar, punya hobi menarik, cerdas dalam bicara, peduli sesama, pandai bersosialisasi, menyukai petualangan, update fashion, pandai berdandan, bisa masak, pengalaman organisasi dan lain-lain dan lain-lain, maka? Ya maka wanita dituntut untuk Multi-talented.
Multi-talented itu butuh pembelajaran yang lama, nona! Perpaduan antara passion, kegagalan, pengorbanan (waktu tenaga dan uang) dll. Namun, bagaimana jika kamu tidak mau atau malas menjalani proses tersebut?Ah santai saja bisa dikejar dengan cara instan kok. Media sosial sebagai wadah menunjukkan itu semua, dengan upload foto sedang bertualang, tapi tetap cantik, foto bakti sosial, foto hang-out bareng teman, foto dengan baju paling update, dengan update status mengutip quotes orang bijak, menonton film, membeli buku, mengikuti trending topic. Tidak perlu mendalami semuanya, Multi-talented itu agaknya omong-kosong kok. Tinggal dilakukan sekali, dan jejaring sosial mampu membuatmu terlihat Multi-talented dan Multi-tasking. Murah dan Meriah.
Begitu juga dengan kontes kecantikan, Beauty, adalah tentang memenuhi minat mereka. Mereka yang entah darimana datangnya, Mereka yang ingin kita rebut perhatiannya. Jika terus mengikutinya, kita bisa bahagia, sangat bahagia. Namun tidak akan pernah ada habisnya dan mungkin akan melelahkan. Namun, itulah wanita, kecantikan memang menyakitkan. Dan kita rela untuk itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar