Rabu, 20 April 2016

Jalan

Rasanya Aku harus segera mengambil suatu perjalanan jauh sendiri. Aku banyak membaca akhir-akhir ini, bacaan yang jauh dari realita di sekitarku. Dan di akhir halaman buku-buku tersebut Aku menjadi penggerutu. Aku merasa betapa Aku hidup di lingkungan yang sebenarnya sudah ideal, namun pongah, dan berjarak kepada mereka yang lemah. Bahkan di sisi lain, Aku mendapati betapa sistem yang Aku ikut berlari setiap hari di dalamnya, menindas bahkan merampas milik mereka yang ingin hidup biasa saja. Kita merekonstruksi ideal di pikiran kita, mengejar kepuasan-kepuasan yang tak terhingga, memunculkan dan menyembah simbol-simbol baru. Siapa bilang kepuasan akan turun? Ya kepuasan terhadap komoditas atau barang tertentu akan turun? Tapi kepuasan akan simbol, suatu yang menarik untuk kita, sepertinya tidak akan turun. Kita mulai tercandu betapa nikmatnya menjadi berbeda, dipuji, dihormati, dicintai, maka dengan berbagai alat kita merangkak, memanjat, saling meninginjak satu sama lain untuk mendapatkan tepuk tangan di puncak sana.

Ah, benar saja kata lelaki yang pernah mencintaiku dulu di usia 20 tahun, Dia melarangku untuk membaca buku. Dia akan lebih mengajakku jalan-jalan daripada membiarkanku membaca buku yang menurutnya tidak tepat. Karena setelah membaca buku Aku akan terus mengomel sepanjang waktu dan mulai tidak bisa menerima betapa bodohnya sistem yang ada di masyarakat. Aku akan menjadi sedih setelahnya, sedih karena Aku tak mampu mendapatkan memahami mengapa sebuah sistem harus langgeng dan dilanggengkan jika kita mampu untuk menghentikannya. Hidupku, sebagai kelas menengah, tentu saja tak cukup buruk, sehingga aku menjadi tidak mudah mengerti betapa rumitnya dunia dan seisinya ini. Aku hanya bisa menerka-nerka dari sensasi yang aku rasakan sendiri, Apakah itu buruk, Apakah itu baik, kata seorang teman itu bahaya karena bisa menjebakku menjadi seorang yang Orientalis.

Hari ini, sekali lagi, setelah Aku memutuskan sedikit me-zoom out beberapa masalah minor yang awalnya adalah mayor, Aku menjadi banyak bertanya. Pertanyaanku membawa Aku kepada diskusi-diskusi yang kadang random. Aku juga memaksa diri membaca buku-buku apapun, berharap menemukan sejumlah titik terang atau pun petunjuk. Aku adalah gadis yang lumayan taat (jika bukan naif) untuk percaya kepada Tuhan. Maka Aku memegang teguh pernyataan bahwa Tuhan Maha Pemberi Petunjuk. Seperti mengais-ngais tumpukan jerami atau pasir untuk menemukan jarum emas yang harus kugunakan menambal compang-campingnya pemikiranku. Aku percaya, suatu hari jarum itu akan kutemukan.

Namun, tahukan apa yang paling brengsek dari membaca? Tentu saja menjadi gelisah, Bung! Tahapan jebakan dari membaca menurutku adalah sebuah perasaan yang membuncah setelah kita sedikit lebih tahu, pada titik itu biasanya seseorang akan terjebak pada ke-soktahu-an bahwa dia sudah cukup tahu. Beruntunglah mereka yang mampu untuk soktahu saja, karena ada yang lebih mengancam yaitu perasaan bahwa kita tidak tahu apa-apa, semakin tidak mengerti, dan gelisah tak berujung. Betapa malam-malam panjang lalu ku gunakan untuk memblender dan menyendok satu-satu formula atau informasi atau teori baru yang Aku dapat dari buku. Aku mencoba menikmati teksturnya dan mencoba memahami rasanya. Aku mencoba mencari, “Jadi intinya Dia mau bikin Apa sih?” Kadang, aku merasakan manisnya, pahitnya, asamnya, pedasnya. Kadang, aku merasa mual sendiri akan campuran rasa itu.

Maka rasa-rasanya, sudah cukup bacaan dan diskusi di sekitarku. Bukan cukup untuk selamanya, karena itu tidak pernah cukup. Aku ingin sekali mencukupkan beberapa makanan pembuka ini, yang kucerna sekarang ini, sesegera mungkin. Aku ingin berjalan yang jauh sekali. Aku ingin membenturkan kepala kepada dinding-dinding ketidaknyamanan hidup di luar sana, di luar mereka yang mungkin tidak pernah nyaman tapi terlihat bahagia. Tentu saja, aku juga harus membekali diri bahwa kenyataannya di manapun akan sama saja. Di sini ada orang yang menderita dan tidak bersyukur sepertiku, ada juga mereka yang mampu bersulang walau air tidak pernah datang membayar dahaga mereka.

Hanya saja, Ya, Aku harus berjalan jauh. Sangat jauh mungkin. Supaya tidak ada lagi yang mampu kurindukan karena setiap pertemuan menjadi sama saja. Mereka yang datang pada akhirnya pergi. Aku akan datang kemudian juga pergi. Supaya Aku tahu bagaimana tidak terikat kepada suatu tempat, suatu hal, suatu rumah, tetapi di saat aku berada di dalamnya, Aku mampu menikmati setiap detail dan denting waktu yang berjalan. Aku mampu menghirup aroma, menyimpan bebunyian, merasakan hembus udara menyapu kulitku, bersitegang, tidak percaya dan tertawa untuk saat itu saja. Tidak usah pedulikan esok. Karena esok perjalanan baru bisa sangat menyenangkan atau menyedihkan, maka kubersiap menerima apapun itu.

Aku ingin berjalan jauh, pada akhirnya memang bukan untuk siapa-siapa, tetapi kesadaran atas penguasaan diriku sendiri seutuhnya. Karena kamu tahu, kehilangan setengah dirimu itu bisa menjadi buruk jika kamu tak siap.

Bagaiman romantisme mengenai alam yang liar, embun pagi hari, daun kering menguning, ulat berjalan mencari yang hijau? Ya Tuhan, percayalah, romantisme adalah produk yang sangat bisa diciptakan, didaur ulang dan diproduksi massal. Aku merasa mampu kalau hanya harus memproduksi untuk diriku sendiri. Aku jelas tidak memerlukan orang lain untuk menciptakan romantisme seperti itu. Aku akan menciptakannya sendiri, jika suatu hari nanti ada yang tertarik dan memintaku berbagi, tentu saja aku akan memberinya dengan sangat mudah. Karena selama aku tidak kehilangan kekuasaan atas diriku sendiri, Aku tidak akan kehabisan romantisme dalam bentuk apapun. Namun, Aku takut seseorang akan merenggut diriku, faktor produksi romantisme-romantisme itu. Cara menghindarinya adalah, berjalan jauh bertemu sebanyak orang, supaya aku semakin mengenal siapa yang akan merenggut diriku dariku. Kekhawatiranku adalah bertemu dengan orang yang aku mau dengan sadar memberikan diriku padanya dan berharap dia mampu memproduksi romantisme sesuai dengan yang biasanya aku produksi.







Minggu, 10 April 2016

Dear Ibuk

Ibuk. Aku takut.

Bolehkah?

Ibuk, ketika engkau seusiaku, pernah kau mengalami hal semacam yang aku alami hari ini? Akhir-akhir ini aku berangkat tidur dalam keadaan menangis, terbangun juga menangis. Seperti ada saja hal yang ingin menguras habis air mataku. Aku tidak mau kalah, kuperbanyak air putih seperti pesanmu.

Ibuk, berada di usia lebih dari seperempat abad tanpa prestasi, apakah drama jika aku terus menangis dan ketakutan? Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku hebat dan aku bisa melewati ini semua. Hanya saja, aku berpikir, sepertinya aku terlalu payah menjadi seorang wanita. Pernahkah kau ada di kondisi seperti ini?

Ibuk, ketenanganmu itu dari mana datangnya? Kapan aku bisa mewarisinya? Ketika tidak ada yang percaya denganku, Mengapa kau teguh berada di sisiku? Menjawab semua pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan keyakinanmu. Ibuk, harus kulewati badai seperti apa lagi untuk mewarisi ketenangan semacam itu darimu?

Ibuk, Aku takut. Aku kehabisan kata-kata, mungkin aku mulai meracau dan mungkin kau tidak akan paham apa yang kukatakan. Aku bisa paham jika kau memilih untuk marah. Ibuk, aku rindu. Aku menciptakan jarak di antara kita. Aku merasa seperti seorang brengsek yang tetus-terusan berusaha membunuh rindu karena tidak cukup berani memulangkannya.

Ibuk, dia pergi, dia tak memberi kabar. Inikah rindu yang kau rasakan padaku? Ketika aku bisa saja melewati hatiku tanpamu, sedang kau menunggu kabar di sana? Ibuk. Aku ingin pulang, ke hari biasa, bertanya lagi, inikah mimpimu?

Akukah kebanggaanmu?

Clueless

I'm waiting and you're not calling. My heart shaking thinking that you will go chasing after something i don't like. It's just clueless sometimes, what i hate the most, is it the distance or the aim? 

I'll keep writing, my brain is just overcrowd, but i promise to my self to handle it. I won't bother you, i need my self, only my self.

Today, i want to let you go, you're not mine, your body, heart, and soul is belong to you. Everybody's body, mind and soul is never belong to anyone else. So you can make a plan as you pleased and chase after your dream as far as you want.

But someday, if you're coming back, i hope you bring a great stories that wipe away all my worries, shaking my heart with another way. You're someone i miss the most today, someone from another time scape. You'll do a great thing, i trust you, you're not doing it like the others.

Wait what? Am i hoping to much? Yes i think you do darling. Stop here.

Senin, 28 Maret 2016

Insecure

Surat Cinta Hari Kedua
29 Maret 2016 (00.39)

Hari ini tidak terlalu banyak berubah mas, aku memang payah. Bahkan untuk memenuhi komitmen 30 hari menulis surat yang kusebut surat cinta untukmu saja aku melewatkan beberapa menit sehingga surat ini kutulis melebihi tanggal 28 Maret 2016. Semalam aku sudah membayangkan di pikiranku bahwa aku akan menulis tentang “Bagaimana jika bukan kamu?” Atau membahas beberapa pertanyaan yang aku anggap krusial dan belum terjawab olehmu. Namun hari ini ada yang lebih harus dibahas tuntas menurutku, yaitu sebuah perasaan yang selalu mengganggu tanpa diundang dan sering kali seenaknya sendiri, sebut saja perasaan tidak aman, atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan insecure.

Apa perasaan insecure itu? Entahlah. Hanya saja itu terasa buruk, buruk sekali.

Pada beberapa waktu perasaan itu memicu sebuah semangat untuk menjadi lebih baik, tetapi sering kali menjadikanku merasa tak pernah cukup baik. Apa yang aku keluarkan dari isi kepalaku malam ini kepadamu mas, adalah bentuk yang tak pernah benar-benar berbentuk dari perasaan insecure itu. Perasaan tidak aman, gelisah, harus melakukan sesuatu, tidak mampu, tidak perlu, tidak pantas, tidak berani, harus bergerak, tak percaya diri, ingin menangis, ingin mengumpat, ingin memeluk, ingin dilepaskan. Perubahan kondisi pikiran, fisik dan kejiwaan yang bergerak terlalu cepat. Pada beberapa orang hal ini akan menjadi lebih serius dan sangat menyakiti. Aku bersyukur, aku masih selalu bisa melewatinya, walaupun sering kali harus ditolong oleh beberapa orang. Atau di lain waktu aku akan sangat merepotkan orang-orang terdekatku. Dan sayangnya, kamu masuk dalam lingkaran kehidupanku, lingkaran terdekat, ring pertama, yang kuanggap sangat spesial dan berhak mengetahui hal terburuk yang ada di pikiran dan perasaanku. Kamu sudah merasa terjebak mas? Jika iya aku mampu memakluminya.

If I showed you my flaws, would you still love me the same then?

Dan hal terburuk yang mampu aku ciptakan di dalam pikiranku dan malah membuatku merasa lebih baik adalah, jika kamu tak mampu menerimaku, kamu akan segera berkata jujur padaku bahwa kau tak mampu dan pergi secepat mungkin. Selagi aku mampu dalam batas terburuk untuk menyusun kembali diriku yang entah akan menjadi seberapa hancur. Namun, aku adalah aku, semua yang hancur akan kususun lebih indah. Aku percaya diri pada perasaan tidak aman yang aku bangun kokoh itu untuk melindungiku dari rasa sakit yang lebih dari kuasaku.

Tahukah kamu mas? Bahwa memelihara ketakutan selalu lebih mudah dan nyaman dari pada bangun dan mencoba memeranginya.

Pada suatu hari kamu katakan padaku untuk mengurangi perasaan insecure ku. Ya, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menguranginya, tapi bukan untukmu. Maksudku adalah, aku tak akan berpura-pura menjadi gadis tanpa celah, tanpa kegelisahan dan tanpa rasa takut apapun di depanmu, sedangkan di belakang aku sangat lemah dan belum pernah selesai. Kamu berhak untuk mendapati aku yang sebenar-benarnya, sebelum memutuskan untuk terus berjalan bersamaku. Namun aku pun juga berhak menilaimu, seberapa mampu kamu bisa berdamai dengan segala kelemahanku.

Perjalanan kita bisa saja sangat jauh mas, kita tidak tahu lorong-lorong gelap seperti apa yang kita hadapi, selalu cek kondisi tim, apakah masih fit? apa kelemahannya? apa yang masih bisa diandalkan dalam kondisi terburuk? Bukankah itu yang kita pelajari dalam olahraga yang kita geluti? Karena kita tidak hanya bergerak untuk kita, beberapa dari mereka menunggu sesuatu yang disebut kabar gembira, atau paling tidak kita tidak hilang tersesat. Namun jika kita harus berhenti pada lorong pertama, aku akan mengingatmu sebagai partner yang sangat penuh perhitungan. Begitulah kau mengajariku untuk menyiapkan skenario terburuk, tentu saja diramu dengan perasaan insecure yang tak sedikit. 

Senin, 12 Oktober 2015

Selamat!

Hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana harga diriku dan rasa bahagiaku harus beradu. Hari di mana aku tidak bisa datang memberikan apapun. Hari di mana aku harus mengakui bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak mampu membuktikan apa-apa.

Mungkin begitulah aku, tak pernah terlalu dalam dan tak pernah terlalu bersungguh-sungguh dalam membuktikan niatanku. Seandainya kamu tahu betapa buruknya rasa ini.

Aku hanya merasakan nyeri yang sangat dan ada gemetar di tanganku. Tak cukup buruk sebenarnya untuk menjadikan hari ini hari yang buruk. Tak cukup buruk untuk menangis. Namun ada kegetiran yang tak mampu aku sembunyikan. Aku ingin mengalahkanmu dengan berbagai cara, walaupun aku tahu aku telah kalah dalam berbagai cara. Aku ingin mengalahkan diriku sendiri yang ingin mengalahkanmu.

Bualan tentang pagi yang seru yang mungkin saja kita lewati bersama tentu saja tak akan pernah terjadi. Semakin jauh karena aku tidak bergerak ke arahmu. Karena kamu bergerak dalam dunia yang riuh, yang tak berani aku singgahi. Karena kamu bergerak tanpa menoleh apakah aku bergerak baik-baik saja. Karena aku yang tak percaya diri mampu menciptakan pagi yang seru.

Aku baik-baik saja, semua baik-baik saja, kamu pun baik-baik saja. Dalam angan yang tak perlu terbentuk rupa, seharusnya pagi yang seru itu telah terjadi, tentu saja dalam dimensi ruang kita masing-masing. Kau sahabatku, dalam suatu persinggungan yang hanya sebentar. Kau yang selalu kudoakan mendapati yang terbaik, tapi di sisi lain egoku berharap kau tak bahagia tanpaku, paling tidak tak lebih bahagia dariku. Sekarang aku tertawa, mendapati penyakit yang terus saja kujejalkan ke hatiku yang payah.


Maafkan aku. Namun percayalah manusia baik tak mempan doa buruk. Apalagi doa dari manusia yang ragu-ragu sepertiku. Selamat berkarya bung! Aku tahu kau akan menjadi sangat luar biasa, itulah mengapa aku pernah menghentikan waktu untukmu.

Selasa, 06 Oktober 2015

Ketidakpedulian

Udah kasihan, jangan dilihat.
(Kata Seseorang ketika melihat foto bocah yang matanya lebam kena kabut asap Riau)

Saya terkejut mendapati kalimat tersebut muncul dari lingkungan yang sangat dekat dengan saya sendiri. Saya memiliki kegelisahan yang mungkin memang berlebih mengenai ketidakpedulian, tetapi sayangnya mungkin saya kurang banyak ngobrol dengan lingkungan saya soal hal tersebut. Rasanya mendadak ada jarak ketika mendengar hal tersebut ternyata muncul dari orang terdekat. Saya mengutuki diri sendiri, saya sering koar-koar di luar tentang berbagi apapun yang kita punya, membantu apapun yang bisa kita lakukan, tetapi kepada orang terdekat saya tidak banyak bertukar pikiran. Di situ saya berpikir, ketidakpedulian nyata adanya, saya sendiri juga pelakunya, saya yang terlalu jauh dari mereka.

Saya harus berpikir berkali-kali untuk menuliskan ini. Berharap tidak ada yang tersakiti dengan kata-kata saya atau berharap tidak ada yang menyalahartikan sebagai ke-sokpeduli-an saya terhadap apapun. Namun keterkejutan saya dan rasa patah hati saya lebih besar dari ketakutan saya tentang penilaian orang lain. Saya harus menyampaikannya. Atau lebih tepatnya saya harus mencari jawaban yang bisa melegakan hati saya sendiri tentang mengapa kalimat tersebut sampai terlontar. Sebenarnya saya juga takut tulisan ini adalah bagian dari pelarian saya yang berujung pada ketidakpedulian saya lagi.

Pertama mendengar kalimat itu yang terlintas di otak saya adalah “Ignorance does exist”, ya saya merasa bahwa ketidakpedulian itu nyata-nyata hadir di tengah-tengah kita. Bahwa kesetujuan kita yang menyebut manusia sebagai manusia sosial karena gemar berkumpul dan bersenang-senang bersama, gemar bertanya kabar, gemar mengucapkan selamat dan duka cita, gemar melakukan update berita tentang pekerjaan, penghasilan, pasangan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kepemilikan rekan-rekan kita yang secara diam-diam maupun secara terang-terangan, tidak cukup memberikan keberanian kepada kita melihat atau memberi ruang lebih atas hal yang secara spontan menyentuh hati kita.

Kenapa tidak berani? Mungkin jawabannya adalah karena tidak tahu harus berbuat apa. Atau malah sebenarnya kita tahu harus berbuat apa, tetapi kemudian bersinggungan dengan kesadaran mendasar tentang “Siapa Saya?” dan jawaban kita yang entah merendahkan diri sendiri atau memang nyata-nyata tidak mampu membuat kita memutuskan untuk berhenti melihat, lalu memangkas kepedulian kita.

Pada tahap ini saya selalu berharap dan saya menenangkan pikiran saya bahwa ketidakpedulian memang hanya muncul karena keterbatasan informasi yang dimiliki seseorang akan suatu hal. Saya berharap bahwa ketidakpedulian bukan muncul karena seseorang memilih untuk tidak tahu dan tidak mencari tahu lebih lanjut.

Pada kasus lain mungkin ketidakpedulian seseorang sering kali bukan hanya karena keterbatasan informasi, tetapi juga informasi yang salah yang di milikinya (informasi yang salah menurut kita). Seseorang meyakini apa yang benar menurutnya, mungkin atas sesuatu yang telah berjalan dengan stabil dan baik, tetapi menurut kita salah dan perlu diluruskan. Perbedaan pendapat itu tentu saja membuatnya tidak mau repot-repot untuk bergerak bersama kita, dan kita bisa dengan mudah menyebutnya sebagai orang yang tidak peduli.

Namun sekali lagi benar bahwa kita bisa memilih menutup mata atas yang sesuatu hal yang bisa kita lihat, tapi kita tidak akan bisa menutup mata dari apa yang bisa kita rasakan, sesuatu yang menyentuh hati kita.

Bagaimanapun pernyataan di awal tulisan ini tetap saja membuat saya patah hati mengetahui kemungkinan bahwa banyak orang yang berpikiran sama seperti itu. Mungkin karena melihat hal yang terlalu buruk untuk dilihat membuat kita terlalu lemah untuk memikirkan kemungkinan untuk menolong. Karena kita merasa bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa maka kita tidak bertanggungjawab untuk menolong.

Ya walaupun kita tidak berhak sebenarnya menilai seseorang peduli atau tidak peduli, di luar hal-hal yang tidak kita ketahui, kadang kita menilai kecil apa yang telah dilakukan atau diberikan seseorang, tetapi sejatinya dia telah memberikan apapun yang dia miliki. Wallahualam.

Satu hal terakhir, jika seseorang di sekitar saya berkata "Udah kasihan, jangan dilihat." Saya sendiri akan menegurnya, karena apapun yang telah menyentuh hatinya tersebut ada indikasi bahwa ada sesuatu yang salah, dan kita selalu bisa menolong, sekecil apapun, sesedikit apapun. Saya pun optimis, masih banyak orang-orang yang memiliki kepedulian jauh jauh lebih tinggi dari saya dan mereka melakukan aksi nyata. Namun sekali lagi, pergerakan positif tersebut harus ada yang menyambungkan secara langsung melalui obrolan sehari-hari maupun tulisan-tulisan yang mudah saja tersebear secara viral di sosial media. Untuk menjadikan tulisan saya viral, saya tidak punya kemampuan, karena saya memang bukan siapa-siapa. Namun saya masih bisa bicara dengan orang-orang dekat di lingkungan saya.

Hanya saja jangan terjebak dengan parameter atas aksi nyata, karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati seseorang. Saya hanya berharap tidak ada alokasi yang salah atas kepedulian kita. Yaitu ketika kita mudah saja bermurah-murah atas kepedulian terhadap urusan orang lain sebagai makhluk sosial, kepedulian untuk terus bisa berkumpul-kumpul dalam kebahagian, kepedulian yang membutuhkan kedekatan-kedekatan emosional dan kepentingan tertentu. Namun, di sisi lain kita tidak berani peduli atas hal-hal yang membutuhkan pertolongan kita segera jika tidak ada semua alasan itu.




Kamis, 03 September 2015

Mimpi

Adalah mimpi yang menjaga tetap hidup.
Bangun, terjaga dan siaga.
Setelah berkawan dengan negeri penuh utopia,
Yang dengan menyedihkan disebut delusi di dunia yg mengagungkan wujud.

Aku terlalu berani
Menimbang segala ketidakmungkinan menjadi irama yg bisa saja indah,
Pada suatu masa yang dengan ciut kutebak.
Berbekal sebuah janji, dari Dia Yang Maha Pengasih.

Ada sebuah dimensi lain di pangkal otakku.
Bukan, bukan otak, aku tidak sebebal itu.
Mungkin jurang hatiku.
Ah tapi aku terlalu payah dalam menavigasinya.
Sudah berapa kali aku terpleset ke dalamnya?

Bahwasannya itu memang mungkin.
Menggetarkan alamraya, yang kini bergerak begitu selaras.
Begitu indah, bahkan mungkin burung akan tercekat nyanyiannya jika keselarasan itu terhenti.

Namun, atas dasar apa aku tergoda?
Atas kesombongan sebelah mana lagi aku terpanggil?
Atas bentuk keputusasaan seburuk apa aku mendamba?

Kutuangkan air dalam gelas. Kuteguk dengan rakus. Kering menjadi lebih basah.
Kutelusuri aliran air dalam rongga hingga lambung.
Kucoba bangun-bangunkan apa yang belum tersadar.
Hentikan mimpi ini Ya Tuhan, Atau aku menuntut sebuah kenyataan!

Kusujudkan sekali lagi malam ini, apa-apa yang terlampau besar dari mimpiku untuk bertemu dengan-Nya.