Selasa, 10 April 2018

Hidup seklise itu

Ya, Hidup seklise itu. Sepertinya saya sudah pernah menuliskan hal ini beberapa waktu lalu. Mengenai kesiapan kita dalam menjalani hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Saya sering dengan ketidakpedulian saya yang besar bertanya kepada teman-teman yang hidup di jakarta, "Kenapa sih mau-maunya kerja di jakarta?", "Kok betah di jakarta?", "Cari apa di jakarta?", yang biasanya hanya dijawab, "he-he-he" oleh teman-teman saya. Saya tidak paham itu adalah pertanyaan paling bangsat, tak berkeperimanusiaan dan ternyata paling dibenci teman-teman saya yang tinggal dan bekerja di jakarta sebelumnya, hingga teman saya mengatakan hal tersebut di media sosialnya.


Saya tertegun menyadari bahwa selama ini pertanyaan saya mungkin telah menghempaskan perasaan teman-teman saya hingga mereka kehilangan kata-kata selain he-he-he.


Beberapa waktu lalu saya menulis, kurang lebihnya begini dalam menyelami metafora:

"Membaca buku yang kamu suka itu biasa, membaca buku yang kamu benci (dari orang yang tidak kamu suka pemikirannya) itu luar biasa. Semangat bekerja bersama tim kesayanganmu itu biasa, semangat tidak berkurang sedikitpun ketika bekerja sama dengan tim yang tidak sejalan denganmu itu luar biasa. Menyambut dengan berbinar atas masa depan yang kamu impi-impikan itu biasa, tetap bersiap dengan antusiasme yang sama menghadapi kehidupan yang jauh dari harapanmu itu yang luar biasa. Hidup memang seklise itu dan klise memang semenggelikan itu. Namun, ibukku bilang dengan sikap seklise itu dia terus menanam walau tidak memiliki lahan dan bisa memanen buah yang manis sekali rasanya. Tidak banyak, tapi manis dan layak ditunggu."

Saat itu sejatinya saya hanya menulis dalam konteks membaca buku yang saya tidak suka dan kaitannya dengan kesabaran, cinta-kasih ibu saya dalam menanam, merawat lalu menunggu buah-buahan tanamannya matang untuk dipanen. Beliau tetap ngeyel untuk terus menanam di lahan Surabaya yang terbatas. Entah bagaimana kalimat itu berkembang dan menganak menjadi sebuah paragraf yang saya rasa kini harus saya jadikan self note untuk menghadapi hidup yang tanda tanya. Seperti Soe Hok Gie bilang, bahwa hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya.

Intinya, hari ini saya seperti merangkai hikmah, bahwa pertanyaan saya soal tinggal di jakarta, suatu saat akan berbalik kepada saya. "Mengapa meninggalkan Jogja yang nyaman dan berlimpah ilmu serta kemudahan?", misalnya. Dan saya mungkin hanya akan menelan seluruh kecamuk yang seketika menyeruak di dalam dada dan pikiran saya, bahwa hidup seklise itu dan klise memang semenggelikan itu karena saya hanya mampu menjawabnya dengan senyuman sambil terus berdoa, semoga selalu ada jalan untuk bermanfaat dan menghidupi mimpi, di Jogja atau di manapun.

Seketika terlintas kalimat Mbah Buyut saya yang tidak kalah klise:

"Ningndi-ndi kui Bumi-ne Pangeran." Al-fatehah, matur nuwun mbah yut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar