Minggu lalu saya bertemu Bapak saya, untuk untuk mengunjungi Adik Saya di Banjarsari, Ciamis. Hal baik dan menyenangkan terjadi, saya seperti pulang kembali walau tidak di rumah Surabaya. Ya simple sih, karena bertemu keluarga pasti terasa di rumah kan. Namun, saya mendengar beberapa hal menyebalkan, Bapak saya mulai tua, Beliau sedikit berbeda, menjadi lebih khawatir dan bawel. Saya bukan korban kebawelannya, mungkin adik dan suaminya yang lebih banyak dapat ungkapan kekhawatirannya. Beliau mulai terdengar agak mendikte, menggunakan standard masyarakat, walaupun memang tidak sepenuhnya karena ada beberapa alasannya yang saya setuju. Beliau juga mencoba berbicara pada saya tentang kekhawatirannya dan beliau punya saran yang menurutnya lebih baik. Saya melawan, beliau tau itu, Saya pasti melawan. Saya anaknya, mewarisi semangat perlawannya.
Jika saya sering bicara semangat untuk melawan norma yang saklek dan konstruk sosial yang normatif, kontraproduktif, serta tidak substansif, sejatinya Bapak saya lebih paham semangat perlawanan tersebut. Beliau, dari yang saya dengar dan saya alami hidup bersamanya, telah melawan seumur hidupnya. Beliau melawan kemauan orangtuanya untuk menjadi polisi maupun aparat. Beliau melawan standard masyarakat untuk menjadi pegawai. Beliau melawan cibiran tetangga untuk tidak menyekolahkan kami hingga perguruan tinggi. Beliau melawan kentalnya NU dengan segala atribut keagamaan yang menurutnya memberatkan. Beliau melawan setiap orang yang berusaha memdikte anaknya. Menuliskan daftar perlawanan beliau tersebut terasa mudah dan sederhana, tapi prosesnya sungguh tidak mudah terutama jika hal tersebut menyangkut kebutuhan-kebutuhan pokok dan bersinggungan dengan masyarakat komunal.
Beliau selalu melawan sepanjang hidupnya, pasang badan untuk seluruh keunikan anggota keluarganya, hingga membuktikan bisa hidup dan membawa kebahagiaan sepenuhnya ke rumah kami. Beliau tidak selalu sukses, tersungkur pun pernah, hingga tidak tahu harus bagaimana, hingga harus tertatih untuk bangkit kembali.
Beliau pernah tersungkur lalu mencapai fase yang baik saat ini, saat usianya sudah lebih dari separuh abad. Mungkin hal tersebut yang membuatnya menjadi sedikit berbeda, beliau merasakan kelelahan dalam melawan dan tidak ingin anaknya merasakan ketersungkuran yang menyakitkan. Teman saya pernah berkata, kedewasaan seseorang ditentukan ketika seseorang mulai merasa apa yang dikatakan orangtuanya dulu, dulu sekali adalah masuk akal. Bapak saya mungkin mulai berpikir dan bertindak seperti Bapaknya dulu.
Namun saya melawan, dan kami harus melawan. Bapak saya sadar beliau juga harus melawan, dan saya tahu selama ini beliau selalu melawan. Selama ini Bapak saya membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan cara masing-masing. Bapak saya mempercayakan setiap keputusan kepada jiwa-jiwa anaknya. Beliau berusaha percaya, tidak hanya dengan uang dan standard masyarakat yang telah diamini secara massal, seorang manusia bisa bermanfaat dan bahagia. Beliau berusaha percaya walaupun khawatir. Saya paham dan saya yakin banyak sekali kalimat yang beliau telan dan tercekat di tenggorokannya setiap bertemu anak-anaknya, banyak detik yang tidak bisa beliau rebahkan karena pikiran-pikirannya membawa jiwanya terbang ke depan pintu-pintu rumah kami, anaknya, tanpa berani masuk. Maka beliau melawan kekhawatirannya, Bapak saya melawan jiwanya yang mulai menua.
Didampingi seorang istri yang naif dan dan normatif, Bapak saya meredakan kegelisahannya, amarahnya dan percaya semua akan baik-baik saja. Beliau percaya setiap manusia berhak diberi kesempatan untuk berpikir dan berbuat kesalahan. Maka beliau melawan, daripada terus mengomel, beliau berusaha untuk menawarkan solusi praktis. Solusi-solusi yang untuk dipilih maupun ditolak anak-anaknya, bahkan untuk ditanyakan kembali oleh anak-anaknya ketika kami sudah dihempaskan ketidakberuntungan, ketika kami sudah hilang bentuk dan butuh rumah untuk pulang.
Terimakasih untuk selalu melawan, Bapak. Maka lawanlah setiap hal yang melemahkan tubuh dan jiwamu. Sehatlah selalu.
Jika saya sering bicara semangat untuk melawan norma yang saklek dan konstruk sosial yang normatif, kontraproduktif, serta tidak substansif, sejatinya Bapak saya lebih paham semangat perlawanan tersebut. Beliau, dari yang saya dengar dan saya alami hidup bersamanya, telah melawan seumur hidupnya. Beliau melawan kemauan orangtuanya untuk menjadi polisi maupun aparat. Beliau melawan standard masyarakat untuk menjadi pegawai. Beliau melawan cibiran tetangga untuk tidak menyekolahkan kami hingga perguruan tinggi. Beliau melawan kentalnya NU dengan segala atribut keagamaan yang menurutnya memberatkan. Beliau melawan setiap orang yang berusaha memdikte anaknya. Menuliskan daftar perlawanan beliau tersebut terasa mudah dan sederhana, tapi prosesnya sungguh tidak mudah terutama jika hal tersebut menyangkut kebutuhan-kebutuhan pokok dan bersinggungan dengan masyarakat komunal.
Beliau selalu melawan sepanjang hidupnya, pasang badan untuk seluruh keunikan anggota keluarganya, hingga membuktikan bisa hidup dan membawa kebahagiaan sepenuhnya ke rumah kami. Beliau tidak selalu sukses, tersungkur pun pernah, hingga tidak tahu harus bagaimana, hingga harus tertatih untuk bangkit kembali.
Beliau pernah tersungkur lalu mencapai fase yang baik saat ini, saat usianya sudah lebih dari separuh abad. Mungkin hal tersebut yang membuatnya menjadi sedikit berbeda, beliau merasakan kelelahan dalam melawan dan tidak ingin anaknya merasakan ketersungkuran yang menyakitkan. Teman saya pernah berkata, kedewasaan seseorang ditentukan ketika seseorang mulai merasa apa yang dikatakan orangtuanya dulu, dulu sekali adalah masuk akal. Bapak saya mungkin mulai berpikir dan bertindak seperti Bapaknya dulu.
Namun saya melawan, dan kami harus melawan. Bapak saya sadar beliau juga harus melawan, dan saya tahu selama ini beliau selalu melawan. Selama ini Bapak saya membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan cara masing-masing. Bapak saya mempercayakan setiap keputusan kepada jiwa-jiwa anaknya. Beliau berusaha percaya, tidak hanya dengan uang dan standard masyarakat yang telah diamini secara massal, seorang manusia bisa bermanfaat dan bahagia. Beliau berusaha percaya walaupun khawatir. Saya paham dan saya yakin banyak sekali kalimat yang beliau telan dan tercekat di tenggorokannya setiap bertemu anak-anaknya, banyak detik yang tidak bisa beliau rebahkan karena pikiran-pikirannya membawa jiwanya terbang ke depan pintu-pintu rumah kami, anaknya, tanpa berani masuk. Maka beliau melawan kekhawatirannya, Bapak saya melawan jiwanya yang mulai menua.
Didampingi seorang istri yang naif dan dan normatif, Bapak saya meredakan kegelisahannya, amarahnya dan percaya semua akan baik-baik saja. Beliau percaya setiap manusia berhak diberi kesempatan untuk berpikir dan berbuat kesalahan. Maka beliau melawan, daripada terus mengomel, beliau berusaha untuk menawarkan solusi praktis. Solusi-solusi yang untuk dipilih maupun ditolak anak-anaknya, bahkan untuk ditanyakan kembali oleh anak-anaknya ketika kami sudah dihempaskan ketidakberuntungan, ketika kami sudah hilang bentuk dan butuh rumah untuk pulang.
Terimakasih untuk selalu melawan, Bapak. Maka lawanlah setiap hal yang melemahkan tubuh dan jiwamu. Sehatlah selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar