Kamis, 12 April 2018

Meninggalkan Jogja

Dua bulan lagi saya akan pindah ke kota lain, meninggalkan jogja yang sudah saya singgahi dalam hidup saya sejak Agustus 2008, hampir 10 tahun dan itu menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi saya. Anggap saja saya lemah atau berlebihan. Walaupun saya sudah berusaha menempa diri saya saya untuk dapat tinggal di mana saja, Namun tetap saja meninggalkan seluruh rencana, koneksi, impian, dan kemudahan yang dilimpahkan Gusti Allah di jogja itu berat. "Kan, masih bisa berkunjung?", Kata banyak orang. Berkunjung dan tinggal itu tetap saja beda.

Saya tidak dapat berbuat banyak tentang hal ini, selain untuk terus optimis dan menjalani hari-hari saya sebaik-baiknya. Kata orang jika kita gelisah dan khawatir artinya kita hidup di masa depan dan ketika kita sedih artinya kita hidup di masa lalu. Saya berusaha untuk tetap optimis dan menjalani hari ini sebaik-baiknya. Walaupun saya tahu ketakutan dan kekhawatiran tersebut akan terus datang dan pergi. Saya berusaha untuk tidak meniadakan hal tersebut, karena denial adalah hal yang paling melelahkan sepanjang saya hidup.

Melalui tulisan-tulisan mungkin saya bisa mengurai kekhawatiran saya dan pada akhirnya saya mampu mengambil hikmah dibalik rencana Allah ini. Saya jatuh cinta kepada seorang lelaki dan walaupun dengan terpaksa, Saya harus melakukan penyesuaian terhadap mimpi-mimpi saya, termasuk meninggalkan Jogja.

Saya sering menghibur diri, mungkin ini saatnya saya mendapat ujian sebenarnya, mungkin ini saatnya seluruh pengetahuan saya menemukan ladang amalannya atau medan perangnya. Seperti setelah saya berguru dan ditempa 10 tahun di Jogja, dengan segala keterpurukan hingga bangkit kembali. Setelah saya selalu disuapi kemudahan hidup di Jogja, mulai dari mudahnya tempat untuk pengajian dan diskusi dari paling kiri sampai yang paling kanan, murah dan meriahnya seni-seni pertunjukkan, sederhananya  dan leburnya persinggungan diri kita dengan masyarakat berbagai kelas, hingga betapa seriusnya anak-anak muda dalam menggodog roadmap mimpi-mimpi mereka. Semua berjejaring dan bergandengan tangan, dengan idealisme masing-masing yang dipegang teguh, mereka berjalan beriringan.

Apa Jogja semanis itu? Iya Jogja semanis itu, tetapi Jogja memang tidak selalu indah. Saya dan kita tidak bisa menafikkan adanya konflik kepentingan, konflik graria hingga darurat air bersih ditambah carut marutnya pembangunan Jogja belakangan ini yang memang perlu menjadi perhatian penting. Mungkin mereka yang berbondong-bondong meracik mimpi, membangun bata-bata kokoh sebagai rumah di Jogja ini juga mengalami romantisme yang saya alami selama ini. Masalahnya memang bukan hanya romantisme, seluruh kemudahan persinggungan dan keterpaparan terhadap pengetahuan itu yang membuat kita mecandu Jogja. Namun, ya begitu Jogja menjadi semakin penuh. Jadi saya berpikir ini saatnya saya menjadi dermawan untuk untuk mengikhlaskan sedikit ruang saya bagi orang lain yang ingin berguru di Jogja.

Ahh, Ataukah memang sudah saatnya saya mandiri? tidak selalu tergantung dengan Jogja, tempat di mana patah hati paling buruk mudah saja disembuhkan dengan hanya keluar pintu kamar dan makan kenyang di angkringan lalu pergi ke Taman Budaya untuk menonton pertunjukkan gratis? Ahh Apakah sebenarnya saya hanya takut kemandirian yang selama ini dihadiahkan oleh Jogja dengan cuma-cuma ini akan dirampas oleh orang lain jika saya tidak tinggal di Jogja? Maksudnya adalah, saya mampu dan selalu mampu bergerak sendiri di Jogja karena semuanya pas dan tepat, sedang di Kota lain saya butuh orang lain untuk berbahagia.

Apakah sudah saatnya saya untuk memberi karena selama ini saya selalu menerima?

Allah selalu punya kejutan, dan ini memang kejutan yang cukup menggelisahkan. Saya berharap saya bisa segera menyelesaikan perasaan ini dan sebenarnya Suami saya adalah partner yang sangat sabar. Saya tidak ingin membuatnya ikut insecure dan sedih karena saya tidak bisa berbahagia di kota lain. Mungkin juga ini saatnya saya harus mulai membuka diri dan berbagi dengan orang lain. Saya terlalu lama mengatasi segalanya sendiri. Ini saatnya saya berbagi dengan suami saya dan percaya dia akan mendampingi saya hingga saya mampu menciptakan kebahagiaan dan melanjutkan mimpi-mimpi saya seperti di Jogja. Tidak sama persis, tapi sepenuh, sehidup dan sesemarak di Jogja.

Hari ini terlalu banyak kemungkinan perputar di otak saya memahami rencana Allah ini. Saya akan terus berdoa yang terbaik untuk Saya dan suami saya. Dan saya akan selalu mencintai Jogja, bagaimanapun caranya atas segala yang diberikan kepada Saya. Namun saya harus melakukan sedikit refleksi kembali, apakah cinta saya selama ini ke Jogja karena saya selalu diberi bukan memberi?

Selasa, 10 April 2018

Hidup seklise itu

Ya, Hidup seklise itu. Sepertinya saya sudah pernah menuliskan hal ini beberapa waktu lalu. Mengenai kesiapan kita dalam menjalani hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Saya sering dengan ketidakpedulian saya yang besar bertanya kepada teman-teman yang hidup di jakarta, "Kenapa sih mau-maunya kerja di jakarta?", "Kok betah di jakarta?", "Cari apa di jakarta?", yang biasanya hanya dijawab, "he-he-he" oleh teman-teman saya. Saya tidak paham itu adalah pertanyaan paling bangsat, tak berkeperimanusiaan dan ternyata paling dibenci teman-teman saya yang tinggal dan bekerja di jakarta sebelumnya, hingga teman saya mengatakan hal tersebut di media sosialnya.


Saya tertegun menyadari bahwa selama ini pertanyaan saya mungkin telah menghempaskan perasaan teman-teman saya hingga mereka kehilangan kata-kata selain he-he-he.


Beberapa waktu lalu saya menulis, kurang lebihnya begini dalam menyelami metafora:

"Membaca buku yang kamu suka itu biasa, membaca buku yang kamu benci (dari orang yang tidak kamu suka pemikirannya) itu luar biasa. Semangat bekerja bersama tim kesayanganmu itu biasa, semangat tidak berkurang sedikitpun ketika bekerja sama dengan tim yang tidak sejalan denganmu itu luar biasa. Menyambut dengan berbinar atas masa depan yang kamu impi-impikan itu biasa, tetap bersiap dengan antusiasme yang sama menghadapi kehidupan yang jauh dari harapanmu itu yang luar biasa. Hidup memang seklise itu dan klise memang semenggelikan itu. Namun, ibukku bilang dengan sikap seklise itu dia terus menanam walau tidak memiliki lahan dan bisa memanen buah yang manis sekali rasanya. Tidak banyak, tapi manis dan layak ditunggu."

Saat itu sejatinya saya hanya menulis dalam konteks membaca buku yang saya tidak suka dan kaitannya dengan kesabaran, cinta-kasih ibu saya dalam menanam, merawat lalu menunggu buah-buahan tanamannya matang untuk dipanen. Beliau tetap ngeyel untuk terus menanam di lahan Surabaya yang terbatas. Entah bagaimana kalimat itu berkembang dan menganak menjadi sebuah paragraf yang saya rasa kini harus saya jadikan self note untuk menghadapi hidup yang tanda tanya. Seperti Soe Hok Gie bilang, bahwa hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya.

Intinya, hari ini saya seperti merangkai hikmah, bahwa pertanyaan saya soal tinggal di jakarta, suatu saat akan berbalik kepada saya. "Mengapa meninggalkan Jogja yang nyaman dan berlimpah ilmu serta kemudahan?", misalnya. Dan saya mungkin hanya akan menelan seluruh kecamuk yang seketika menyeruak di dalam dada dan pikiran saya, bahwa hidup seklise itu dan klise memang semenggelikan itu karena saya hanya mampu menjawabnya dengan senyuman sambil terus berdoa, semoga selalu ada jalan untuk bermanfaat dan menghidupi mimpi, di Jogja atau di manapun.

Seketika terlintas kalimat Mbah Buyut saya yang tidak kalah klise:

"Ningndi-ndi kui Bumi-ne Pangeran." Al-fatehah, matur nuwun mbah yut.


Bersama

Mereka yang berjalan bersama, memilih menempuh ribuan kilometer atau menyulam jutaan kenangan bersama, apakah mereka benar-benar dipertemukan oleh mimpi yang sama?
Ataukah ada salah satu yang mengorbankan mimpinya untuk mewujudkan mimpi salah satu yang lainnya? Atau bergantian untuk membantu mewujudkan mimpi salah satunya?

Apakah ketika Mereka sepakat untuk berjalan menjadi Kita lalu dalam sekejap Aku seharunya lebur begitu saja? Tidak adakah atau tidak boleh adakah perjuangan Aku tetap menjadi Aku dalam Kita dengan tetap merayakan sebuah Kita?

Bagaimana sebenarnya konsep bersama ini? Apakah ada bersama yang tulus? atau sejatinya semua kebersamaan, bagaimana pun adalah tentang kesepakatan transaksional yang mudah saja terganti ketika seseorang tidak bisa memenuhi syarat dan kondisi yang telah disepakati di awal untuk menjelma Kita?

Apakah ada bersama tanpa syarat?
Apakah ada bersama tanpa harus saling membunuh mimpi atau salah satu dengan rela membunuh mimpinya?
Apakah lalu tidak cukup mimpi mereka berdua sehingga harus dipertimbangkan mimpi-mimpi orang lain?

Apakah bersama selalu seberisik ini?

Minggu, 08 April 2018

Bapak dan Semangat Melawannya

Minggu lalu saya bertemu Bapak saya, untuk untuk mengunjungi Adik Saya di  Banjarsari, Ciamis. Hal baik dan menyenangkan terjadi, saya seperti pulang kembali walau tidak di rumah Surabaya. Ya simple sih, karena bertemu keluarga pasti terasa di rumah kan. Namun, saya mendengar beberapa hal menyebalkan, Bapak saya mulai tua, Beliau sedikit berbeda, menjadi lebih khawatir dan bawel. Saya bukan korban kebawelannya, mungkin adik dan suaminya yang lebih banyak dapat ungkapan kekhawatirannya. Beliau mulai terdengar agak mendikte, menggunakan standard masyarakat, walaupun memang tidak sepenuhnya karena ada beberapa alasannya yang saya setuju. Beliau juga mencoba berbicara pada saya tentang kekhawatirannya dan beliau punya saran yang menurutnya lebih baik. Saya melawan, beliau tau itu, Saya pasti melawan. Saya anaknya, mewarisi semangat perlawannya.

Jika saya sering bicara semangat untuk melawan norma yang saklek dan konstruk sosial yang normatif, kontraproduktif, serta tidak substansif, sejatinya Bapak saya lebih paham semangat perlawanan tersebut. Beliau, dari yang saya dengar dan saya alami hidup bersamanya, telah melawan seumur hidupnya. Beliau melawan kemauan orangtuanya untuk menjadi polisi maupun aparat. Beliau melawan standard masyarakat untuk menjadi pegawai. Beliau melawan cibiran tetangga untuk tidak menyekolahkan kami hingga perguruan tinggi. Beliau melawan kentalnya NU dengan segala atribut keagamaan yang menurutnya memberatkan. Beliau melawan setiap orang yang berusaha memdikte anaknya. Menuliskan daftar perlawanan beliau tersebut terasa mudah dan sederhana, tapi prosesnya sungguh tidak mudah terutama jika hal tersebut menyangkut kebutuhan-kebutuhan pokok dan bersinggungan dengan masyarakat komunal.

Beliau selalu melawan sepanjang hidupnya, pasang badan untuk seluruh keunikan anggota keluarganya, hingga membuktikan bisa hidup dan membawa kebahagiaan sepenuhnya ke rumah kami. Beliau tidak selalu sukses, tersungkur pun pernah, hingga tidak tahu harus bagaimana, hingga harus tertatih untuk bangkit kembali.

Beliau pernah tersungkur lalu mencapai fase yang baik saat ini, saat usianya sudah lebih dari separuh abad. Mungkin hal tersebut yang membuatnya menjadi sedikit berbeda, beliau merasakan kelelahan dalam melawan dan tidak ingin anaknya merasakan ketersungkuran yang menyakitkan. Teman saya pernah berkata, kedewasaan seseorang ditentukan ketika seseorang mulai merasa apa yang dikatakan orangtuanya dulu, dulu sekali adalah masuk akal. Bapak saya mungkin mulai berpikir dan bertindak seperti Bapaknya dulu.

Namun saya melawan, dan kami harus melawan. Bapak saya sadar beliau juga harus melawan, dan saya tahu selama ini beliau selalu melawan. Selama ini Bapak saya membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan cara masing-masing. Bapak saya mempercayakan setiap keputusan kepada jiwa-jiwa anaknya. Beliau berusaha percaya, tidak hanya dengan uang dan standard masyarakat yang telah diamini secara massal, seorang manusia bisa bermanfaat dan bahagia. Beliau berusaha percaya walaupun khawatir. Saya paham dan saya yakin banyak sekali kalimat yang beliau telan dan tercekat di tenggorokannya setiap bertemu anak-anaknya, banyak detik yang tidak bisa beliau rebahkan karena pikiran-pikirannya membawa jiwanya terbang ke depan pintu-pintu rumah kami, anaknya, tanpa berani masuk. Maka beliau melawan kekhawatirannya, Bapak saya melawan jiwanya yang mulai menua.

Didampingi seorang istri yang naif dan dan normatif, Bapak saya meredakan kegelisahannya, amarahnya dan percaya semua akan baik-baik saja. Beliau percaya setiap manusia berhak diberi kesempatan untuk berpikir dan berbuat kesalahan. Maka beliau melawan, daripada terus mengomel, beliau berusaha untuk menawarkan solusi praktis. Solusi-solusi yang untuk dipilih maupun ditolak anak-anaknya, bahkan untuk ditanyakan kembali oleh anak-anaknya ketika kami sudah dihempaskan ketidakberuntungan, ketika kami sudah hilang bentuk dan butuh rumah untuk pulang.

Terimakasih untuk selalu melawan, Bapak. Maka lawanlah setiap hal yang melemahkan tubuh dan jiwamu. Sehatlah selalu.