Selalu ada yang bisa dibahas dari kata "Medioker" atau "Mediocre". Selain mengingat bahwa Aku dulu sangat antusias ketika mendengar kata "Mediocre" dari dosenku pada kelas pertama kuliah ekonomi, Aku juga merasakan telah lama akrab dengan
kondisi tersebut setelah memahami apa makna dari Medioker itu. Hari itu hari Senin di bulan Agustus. Aku akan selalu mengingat hari itu sebagai sebagai hari ketika ejekan dari bapakku yang sudah sering terdengar di telingaku, “Dasar kamu nanggung!” mendapat istilah kerennya, yaitu Medioker. Sebenarnya lucu jika
mengingat Aku malah merasa antusias bukan tertampar, atau minimal malu lah. Namun kupikir,
kita harus mengenali kelemahan diri sendiri sebelum mampu bersinar menjadi
bintang. Hahaha
Beberapa tahun lalu Akupun sudah pernah menuliskan
kegelisahanku karena menjadi seorang Medioker. Menjadi orang yang serba nanggung
cukup meresahkan bagi mahasiswi semester awal sepertiku dulu. Aku khawatir jika perantauanku demi kampus yang namanya mentereng seantero Indonesia Raya adalah sia-sia. Bapakku dulu sering kesal
dengan kondisi akademik yang kumiliki, karena menurut beliau Aku adalah seorang anak yang pinter ya gak pinter, goblok pun jelas enggak.
Nilai akademik di masa sekolahku selalu masuk 10 besar, tapi Aku tidak cukup
berkilau untuk menoreh prestasi yang bisa membuat namaku dipanggil ketika Upacara rutin hari Senin, sebagai siswa berprestasi. Namun, AKu bisa
merasakan, Aku berbeda, Aku memiliki keingintahuan lebih, hanya saja Aku tidak tertarik
berkompetisi, tidak tertarik untuk menjadi menonjol. Hahaha what an excuse!
Pada akhir masa SMA-ku, Aku mampu mengerlingkan mata tanda mengejek atas kekalahan Bapakku karena Aku mampu diterima di universitas favorit. Namun nyatanya kebiasaan menjadi setengah-setengah dan biasa
saja berlanjut hingga Aku kuliah. Bapakku pada akhirnya mulai mencari parameter lain
dalam mengukur keberhasilanku, bukan lagi pada IPK atau nilai. Beliau
mengalah, itulah mengapa Aku sangat mencintainya.
Aku tidak akan lagi menuliskan segala sebuah apologi untuk membalut kegelisahan pribadiku karena menjadi seorang yang nanggung. Aku telah berdamai dengan hal tersebut. Mungkin keadaan yang akhirnya membuatku berdamai. Setelah meloncat sana-sini, belajar ini itu, mencari aktualisasi diri
kalau bahasa kerennya, Aku sadar, kita hanya harus memilih. Ada dua pilihan mendasar dalam aktualisasi diri menurutku. Pilihan pertama adalah Menjadi serba bisa. Namun kurasa hal tersebut membuat kita menjadi setengah-setengah, sehingga Aku simpulkan sendiri bahwa
menjadi serba bisa sama dengan menjadi medioker. Pilihan kedua adalah memilih fokus mendalami
satu ilmu, satu kegiatan, satu passion ataupun satu hobi. Hal yang kedua ini menuntut kita lebih konsisten, tekun,
mengesempingkan rasa bosan untuk menjadi seorang ahli.
Pun, pada akhirnya Aku juga menyadari, bahwa kedua pilihan
tersebut menjadi tidak penting lagi. Entah kita serba bisa dan memiliki
sejumput-sejumput ilmu atau menjadi sangat dalam dan menguasai satu ilmu lebih
dari yang lain, yang terpenting adalah sanggupkah kita mendermakannya?
Seberapa mau kita menjadi bermanfaat untuk mereka yang tidak seberuntung kita?
Dan menjadi bermanfaat tentu saja memiliki banyak cara, banyak jalan. Kita tidak pernah
berhak menilai sesama manusia apakah dia bermanfaat atau tidak. Bahkan,
berlindunglah jika timbul rasa bahwa kita telah atau sedang lebih bermanfaat
dibanding manusia yang lain.
Saat ini ada hal yang lebih meresahkanku terkait menjadi
manusia nanggung. Yaitu menjadi nanggung dalam hal beriman atau beribadah
kepada-Nya. Jika kamu pernah berada di posisiku, kamu pasti merasakan bahwa
pergulatan tersebut sangat melelahkan. Menjadi medioker dalam bidang akademik
hanya melibatkan otak, kamu bisa menganggap dirimu lebih pintar atau cuek saja
menjadi orang bodoh. Ada kesombongan yang bisa membuat dirimu bangga walaupun itu merugikanmu jika kau tahu. Atau memberi ruang lebih kepada rasa minder yang membuatmu belajar lebih. Sedangkan menjadi
nanggung dalam hal keimanan rasanya sangat tidak enak. Melelahkan! Karena hal ini melibatkan
kalbu yang artinya mempengaruhi hati, otak, dan ragamu.
Bagi orang yang tidak pernah merasakan menjadi nanggung
dalam beriman, akan menganggapku terlalu berlebihan. Sekali lagi, ya, Aku hanya
menilai. Aku pikir sangat enak ketika seseorang sudah sangat baik ibadahnya dan
tidak pernah sekalipun tersasar atau terserempet hal-hal buruk. Ibadah pasti
akan sangat mudah karena mereka dikelilingi orang-orang baik.
Meninggalkan keburukan bukanlah hal yang riweuh, dipenuhi rasa pakewuh ataupun mengherankan
bagi lingkungannya. Aku sering iri bahkan minder dengan orang-orang seperti
ini. Aku sering mengamati mereka, kadang Aku sebel dengan mereka, bahkan mencari-cari kesalahan mereka, menyedihkan. Namun, diam-diam Aku berharap segera dikumpulkan bersama mereka. Hanya sampai di situ Aku mengatasi sebuah kegelisahanku terkait keimanan. Aku memilih tidak
melakukan hal besar. Aku mencoba cuek dengan keimananku dan berharap semua baik-baik saja.
Kelompok kedua, adalah orang-orang yang Aku sendiri juga tidak bisa
menilai apakah dia beruntung atau tidak. Mereka berprestasi dalam hal-hal seperti
keilmuan, seni, jabatan dan hidup mereka bermanfaat bagi masyarakat luas. Menyenangkan. Mereka adalah orang-orang yang sangat menyenangkan dalam bergaul dan berkomunikasi. Aku sering merasa nyaman juga bersama mereka. Aku bisa menjadi apa adanya dan tertawa bebas. Tapi
tahukah kamu ketika tawa itu habis? Aku tidak bisa memungkiri bagaimana
resahnya ketika menyadari bahwa Aku terlalu jauh melangkah meninggalkan ibadah. Aku tidak akan menuduh orang-orang seperti ini jauh dari Tuhannya dan meninggalkan
ibadah. Karena sekali lagi, Aku tidak berhak menilai. Karena bisa saja mereka
terlihat biasa saja dalam beragama, tetapi di belakang mereka beribadah lebih
khusyu’ dari pada aku. Aku hanya menyesali diriku sendiri, kenapa tawa sebanyak itu
tak bisa menentramkan hati? Sedang mereka sepertinya baik-baik saja menjalani
hidup.
Ah, aku terlihat menyedihkan bukan karena telah
menggolongkan manusia-manusia yang bergaul tulus denganku menjadi dua golongan
yang bertentangan? Yang Aku sadari saat ini, hatiku sendiri yang mengalami
penyakit akut. Aku menjadi mudah iri, mudah ingin, mudah menuduh, mudah kagum,
mudah sedih, mudah menyesal, mudah bahagia dan mudah-mudah yang lain. Itulah
yang kusebut pergulatan. Dan semakin hari semakin berlebihan. Hingga suatu hari Aku memutuskan berhenti dalam pencarian panjangku. Aku menggigil kebingungan. Dan dalam kebingunganku, Dia datang. Dia Sang Pemeluk Alam Semesta.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa beruntung
menjadi manusia Nanggung. Aku didekatkan dengan dua kutub yang sangat
bertentangan. Mereka sangat dekat denganku, dekat, dekat sekali. Namun kenapa
Dia tidak membuatku dalam pada salah satu di antara keduanya? Bagaimana aku hanya memperhatikan
mereka yang beribadah dengan baik, tetapi Aku sering menolak ajakan mereka. Sedangkan
dalam keburukan, aku tak cukup berani jika harus mendzalimi diriku sendiri. Dua
realita yang sangat berbeda, yang harus kulihat, yang sering membuatku menangis
di malam hari. Ingin menjadi baik, namun tak cukup baik. Ingin meninggalkan
yang buruk, namun terlalu biasa dengan keburukan dan merasa banyak yang jauh
lebih buruk dariku. Kamu tahu? Aku merasa Dia memelukku malam itu, Dia
memintaku memilih.
Dia meyakinkanku untuk menanggalkan segala rasa minderku
atas kebaikan dan membuang jauh-jauh rasa bahwa aku sudah cukup baik. Aku
bersyukur, mungkin menjadi manusia nanggung adalah salah satu cara, bahkan
satu-satunya cara bagi manusia bebal sepertiku, cara untuk membalutkan
petunjuk-Nya. Supaya kita tidak mudah puas dengan kebaikan diri, karena masih
banyak orang yang jauh lebih baik dari kita. Supaya kita bisa merasakan
bagaimana perjuangan seseorang untuk menjadi lebih baik. Karena benar, Manusia derajatnya
sama di depan Allah, yang membedakan hanya amal ibadah. Maka berlomba-lombalah
dalam kebaikan, berlindunglah atas rasa dengki, beryukurlah atas hati yang
tidak membeku, dan hisablah dirimu sebanyak mungkin hingga hilang segala ujub.
Meninggalkan ketanggungan memang tidak mudah, tetapi
menyadari bahwa kamu sedang tanggung dalam beribadah dan beriman itu adalah
keberuntungan. Tentu saja keberuntungan karena kamu dipilih oleh-Nya untuk
merasakan kegelisahan tersebut. Mungkin kegelisahan tersebut merupakan jawaban doa-doamu
di malam-malam lalu, atau doa-doa orang tuamu, atau doa-doa orang yang
berterima kasih padamu, atau doa-doa orang yang menyayangimu. Namun,
ketahuilah, Allah Maha Memberi Petunjuk.