Minggu, 16 Oktober 2016

Prokrastinasi

Saya sedang gelisah, saya takut saya mengyulang kembali kecenderungan saya untuk melakukan prokrastinasi sekarang ini. Saya pernah hampir berkonsultasi dengan psikolog karena saya merasakan ini cukup menghambat dan berujung pasa hal-hal kontraproduktif. Saya sering sekali meremehkan pekerjaan saya dan menundanya hingga akhirnya tidak bisa selesai tepat waktu.

Saya memiliki sejarah buruk soal prokrastinasi, saya baru bisa menyelesaikan skripsi saya setelah empat tahun. Sebenarnya banyak penyebab, campur-campur. Manajemen waktu yang buruk, hubungan yang buruk dengan pacar, manajemen finansial yang buruk sehingga saya yang sudah gengsi meminta uang kepada orang tua harus memutar otak untuk bekerja (dan itu nyatanya cukup membuat saya lelah secara fisik dan pikiran untuk menyelesaikan skripsi), tidak fokus, dan perfeksionisme yang tidak mampu saya jangkau dengan kemampuan saya.

Kini saya bekerja, saya sempat beberapa kali gagal memenuhi deadline yang ditetapkan oleh bos saya. Laporan yang tiga bulanan yang harus saya selesaikan baru bisa selesai sebulan kemudian. Namun bos saya mengatakan bahwa tak apa karena itu pertama kali saya membuat sebuah laporan monitoring dan eevalusia. Saya tidak setuju begitu saja. Saya kenal diri saya dan merasa bahwa itu seharusnya bisa lebih cepat. Program manajer saya mengatakan bahwa karena saya terlalu perfeksionis, laporan itu jadi tertunda. Saya yang merasa kenal diri saya menilai bahwa hal tersebut terjadi karena saya suka menunda pekerjaan. Saya seringkali menghindari sesuatu yang membuat saya stress dan memilih untuk tidak memikirkannya sementara. Tentu saja itu buruk sekali, karena bekerja dalam deadline yang semakin sempit membuat tingkat stress meningkat dan ide yang bermunculan semakin tidak mudah diwujudkan. Dan ya Tuhan, perasaan bersalahnya itu buruk sekali. Exhausted.

Namun, psikolog yang saya hubungi tersebut mengatakan saya hanya sedang menyesuaikan diri dengan ritme pekerjaan saya. Bahwa saya memang memiliki kecenderungan prokrastinasi tetapi dia percaya saya masih mampu mengatasinya

Teman saya ketika saya bercerita soal ini, dia malah menilai saya yang terlalu insecure dan menyarankan saya untuk mengurangi rasa insecure tersebut.

Well, saya hanya ingin bisa bekerja seefisien dan seefektif orang lain, bergerak cepat, fokus, tidak banyak mikir dan galau.

Semua bentuk kelambatan dan penundaan saya itu tidak akan menjadi masalah memang jika kita tidak mempertemukannya dengan goals. Seperti issu perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi tidak akan pernah jadi masalah jika tidak dibicarakan dalam framing tujuan pembangunan. Maka, sekali lagi karena saya punya mimpi dan goals yang ingin saya capai, prokrastinasi ini cukup menganggu, dan saya harus mampu memanajemennya dengan baik, harus benar-benar menghilangkan kebiasaan buruk ini.

Well, I'm sleepy now and I have to work tomorrow. For you who encounter the same problems with me, this is the way I try to draw the problem and finding a solution. This is bad and I have to break the habit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar