Jumat, 14 Oktober 2016

Hidup dan Canda

Pagi itu badanku terasa remuk. Aku menggeliat dari tempat tidur, dengan malas mengecek handphone, untuk memastikan ini sudah pukul berapa. Aku berkeringat, mata sembab hasil semalam menelan kenyataan bahwa aku tidak sehebat yang aku harapkan. Pukul sembilan lebih, aku harus ke kantor segera, banyak pekerjaanku yang belum selesai. Beberapa misscall di hp membuatku melirik, nomor itu tak juga berhenti, nomor teman lelaki. Aku mengecek perpesanan, aku membelalak membaca isinya, "Aku harus bertemu denganmu, tujuanku ke Jogja ada tiga. Keduanya sudah kujalani, yang satu tinggal bertemu denganmu."

Aku menunda mandi, perutku mulas, tapi pesan lelaki ini membuatku penasaran, Apa yang ingin dibicarakannya denganku? Sepenting apakah? Sudah dua minggu dia terus menggangguku. Dia ke Jogja, aku tak ada waktu bertemu. Dia ke Jakarta dulu, memastikan bahwa kembali dari Jakarta akan ke Jogja lagi. Dan sesampainya di Jogja, dia meminta bertemu kembali.

Jawabannya membuatku ingin menyemburkan air yang kuharap bisa membasahi kerongkonganku yang tercekat. Menangis memang selalu menghabiskan energimu dan membuatmu merasa kering, dehidrasi. Semalam, entah berapa liter cairan keluar dari tubuhku. Lelaki ini hiburan atas perasaan tidak percaya diriku, setelah seorang lelaki lain membuatku merasa tak berharga karena tidak memberi kabar. "Aku ingin bertemu denganmu, naluriku berkata bahwa aku harus bertemu denganmu, Aku ingin menawarkan satu hubungan yang serius denganmu. Tolong pertimbangkan."

Aku terbahak, lelaki ini becanda pikirku. Kita sudah tidak bertemu lebih dari dua tahun. Dan komunikasi kami hanya melalui sosial media, bukan percakapan intens, hanya sebatas memberi jempol kepada beberapa hal yang diunggahnya, lukisan, puisi dan tulisan. Meninggalkan komen satu sama lain, tiada rayuan sama sekali, tiada percakapan yang membuat kita saling mengenal lebih dalam. Dan kini ia mengajakku menjalin hubungan serius?

------------------------------------------------------------------------------------------------

Dia seorang lelaki, aku mengenalnya beberapa tahun lalu, sudah lama sekali. Dulu aku pernah penasaran untuk berpacaran dengan seorang seniman, berambut gimbal, naturalist dan melukis. Dia memiliki semua kriteria tersebut. Dia berhasil mengajakku pergi beberapa kali, menikmati Surabaya yang menjadi terlalu asing untukku. Dia memperlakukanku seperti turis di kotaku sendiri. Aku tergelak mendapatinya begitu sok tahu. Namun, aku harus mengakui, sudut-sudut kota ini menjadi begitu samar untukku, dan tidak menarik. Bersamanya, semuanya terlihat menarik. Aku tidak jatuh cinta, aku hanya mencari apa yang dulu pernah kumiliki pada kota ini. Romantisme dan sebuah rasa bangga dan perasaan tak ingin pergi jauh darinya. Kini aku, tak terlalu berencana untuk kembali. Aku tak berencana membangun romantisme apapun dengan lelaki dari kota ini. Aku sudah memilikinya dan selalu di sana, romantisme Surabaya hanya akan kembali ketika aku berjalan-jalan dengan lelakiku satu-satunya, Bapak. Maka lelaki itu, hanya seorang teman untukku.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

"Aku menulis buku." Katanya. "Kapan kamu kembali ke Surabaya? Kapan kita mewujudkan mimpi kita untuk membantu bu Risma dengan program-program lingkungannya?"

Aku berkata bahwa aku harus menyelesaikan kuliahku dulu, dan entahlah aku menjadi semakin tidak berencana pulang ke Surabaya. Aku nervous kembali ke kotaku sendiri. Aku khawatir tidak mendapat teman seperti yang aku dapatkan di Jogja. Aku terlalu malas untuk berkompromi dengan pemikiran-pemikiran baru yang aku yakini sudah sangat berseberangan denganku. Aku menyadari aku menjadi sombong, bahwa aku terlalu berbeda untuk menjadi bagian dari ribuan manusia lainnya di Kota Metropolitan itu. Dia sempat menjadi salah satu pertimbangan untukku pulang ke Surabaya, aku mendapat teman pikirku, untuk berdiskusi dan melakukan sesuatu. Aku butuh tempat yang membuatku merasa menjadi manusia bermanfaat untuk manusia lain, walaupun mungkin aku tak pernah benar-benar bermanfaat.

Namun dia, terlalu aneh. Mendatangiku ke rumah tiba-tiba, berusaha membuatku tersipu, mengajak ke tempat yang hanya dia tahu, mengenalkanku kepada keluarganya. Bukan itu yang kumau. Dia menarik. Namun, aku tidak jatuh cinta. Hidup memang sebercanda itu. Aku berhenti membalas pesan-pesannya. Aku berhenti menjawab telponnya yang selalu berjam-jam itu. Aku tidak kehilangan perasaan apapun atas dia, karena aku tidak pernah merasakan apapun.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku membaca draft buku yang ia kirimkan untukku. Dia menuliskan seorang tokoh wanita yang membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya. Dia menulis untukku. Seorang lelaki menuliskan sebuah novel picisan dan Aku ada di sana. Namun, semakin aku berusaha mengenali tokoh itu, semakin aku tak mendapati diriku. Dia bukan aku, dia mungkin jatuh cinta padaku, menuliskan seluruh yang dia tahu tentangku. Namun Dia tetap bukan Aku. Gadis itu terlalu hebat untuk menghentikan waktu seorang lelaki, menganggu tidurnya, berbicara dengan sangat cerdas dan bersikap begitu tegas. Aku tidak seperti itu.

Aku seseorang yang menjalani hubungan yang buruk dengan seorang lelaki, menghabiskan malam-malamku dengan menangis. Hanya memohon hingga menggigil di malam hari untuk diberi jalan agar bisa melepaskan diri dari lelaki yang serasa mengikatku dan tak membiarkanku lepas. Di siang hari aku akan luluh ketika dia menjemputku dan mengantarku kemana aku mau. Aku seorang gadis yang mulai putus asa dan tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Aku tidak seperti dalam novel yang Dia tulis untukku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Hidup memang sebecanda itu. Dia menginginkanku. Kini Aku menginginkan seseorang lain. Dia memiliki banyak hal yang aku pernah idamkan. Namun, sekarang, Aku hanya jatuh cinta kepada satu orang.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

"Kamu tidak mengenalku, aku tidak sebaik itu. Lagipula, seseorang telah melamarku. Aku ingin menikah dengannya akhir tahun ini." Balasku. Tentu saja aku berbohong, supaya dia berhenti.

"Baiklah kalau begitu, semuanya sudah jelas. Terimakasih." Itu pesan terakhirnya untukku.

Dia lelaki baik. Namun aku tidak menginginkannya sama sekali. Tidak kemarin, tidak hari ini, mungkin tidak besok juga. Aku bahkan tidak tertarik untuk bertanya hubungan serius seperti apa yang ia tawarkan.

Dia lelaki baik. Dia tidak mengenalku, mengenal sebelah wajahku yang mungkin membuatnya berpikir ulang, seperti lelaki yang sedang kutunggu saat ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Kini aku tersenyum setiap mengingatnya. Seorang lelaki, seniman, naturalist, melukis, menulis sebuah novel untukku. Dia menginginkanku. Mengapa tidak mudah saja seperti di film-film, Dia menginginkaku dan aku juga menginginkannya? Mengapa ini akhirnya hanya menjadi sebuah bahan becandaan saja tentang seorang teman yang tidak begitu dekat tapi nekat menembakku? Sedang aku kemarin menulis surat kepada lelaki yang terus saja membuatku menunggu, Aku berkata padanya bahwa aku butuh lelaki yang cukup gila untuk menemaniku seumur hidup. Nyatanya tidak, aku membutuhkan lelaki yang membuatku merasa harus berbuat lebih dan lebih untuk menarik perhatiannya, perhatiannya yang sesingkat pesan singkatnya yang terlalu singkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar