"It would be great to have Valentino in F1, but he wouldn't have even a minimal chance of winning." — Valentino Rossi
Pernakah kamu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek akun jejaring sosial seorang teman? Dan lalu berpikir betapa hebatnya dia, mulai membanding-bandingkan dengan dirimu? Mungkin diakui atau tidak itulah sebuah krisis remaja urban. Namun tidak jarang kita yang sudah memutuskan memilih beberapa hal dalam hidup kita masih melakukannya.
Sawang sinawang kalau kata orang jawa. Banyak sekali sebenarnya ungkapan atau quotes hebat yang sering dengan fasih kita ucapkan. Rumput tetangga selalu lebih hijau dan lain sebagainya. Kita tidak benar-benar menikmatinya, kita hanya menghibur diri. Saya pun mengalami hal serupa. Saya sedang selalu mendadak mengalami krisis ketika membandingkan diri saya dengan orang lain. Menyedihkan bukan? Kita tahu betul masalahnya, tetapi kita terus-terusan menyuapi diri kita dengan hal-hal negatif seperti itu. Saya pun paham betul kemampuan saya, potensi saya bahkan passion saya jauh berbeda dengan orang-orang teresebut. Lalu apa yang sebenernya coba saya cari ketika membandingkan-bandingkan diri saya dengan orang tersebut?
Sesungguhnya penyakit itu ada di sini, di hati, dan kita lah penyebabnya.
Quotes di awal tulisan ini adalah milik legenda Moto GP idola saya, Valentino Rossi yang selalu menginspirasi. Saya tidak terlalu suka membaca buku motivasi. Saya lebih memilih membaca Al-Quran, Buku Autobiografi Valentino Rossi, dan meonton film. Lagi dan lagi itu selalu mampu membuka jalan untuk angin segar di kepala saya yang sedang terasa berat.
Valenttino Rossi pun dengan segala kemampuan dan keberuntungan yang dia milki, mampu mengakui kelemahannya. Mengenali Potensi diri dan tidak memaksakan diri melakukan hal yang tidak dia sukai.
Mungkin berbagai tanggapan muncul dengan pernyataan Vale satu ini. Seluruh mata dunia mengidam-idamkan kombinasi yang
sempurna antara seorang legenda balap dan legenda pabrikan Formula 1, yaitu
Ferrari. Tapi dia mengakui bahwa itu tidak akan berjalan baik, memang terlihat
hebat, tapi untuk apa? Tidak ada kesempatan untuk menang dan mungkin tidak
memberi nilai tambah sama sekali.
Berhentilah menjadi yang orang lain inginkan. Jangan
terus-terus membandingkan dirimu dengan orang lain. Menyadari potensi dan
kelemahan diri sendiri akan membuat setiap langkah yang kita tempuh menjadi
menyenangkan. Bukan bekerja keras tanpa menikmatinya, dan bahkan tau kita tidak
akan mencapai hasil optimal.
Let's be person, not an icon. Mungkin jalanmu tidak akan sepopuler orang lain, tapi ketika kamu menjadi begitu dalam di sana, let's see how the world come over you.
Stay deep at the centre of your being..
