Suatu saat aku akan menuliskannya dengan tuntas, tentang perjalanan panjang di tengah padang ilalang, atau kelok perbukitan saat gelap hujan, dan bintang menjadi pengawal. Kita membawa tim, dan kamu memintaku untuk memperhatikan kondisi mereka. Aku berharap aku bisa memimpin segagah dirimu, tapi tidak banyak yang bisa percaya padaku. Kukutuki kondisiku sebagai perempuan. Nyatanya memang kepemimpinanku payah dan aku terlalu cengeng. Suatu saat aku akan menuliskannya, kita dipisahkan oleh kemarahan kita masing-masing, pertemanan menjadi tidak mudah. Aku pergi. Kamu pergi. Kita mengejar mimpi dan bahagia sendiri-sendiri. Tugas membebani dan kita pergi hanya untuk menari, atau berlari. Sejenak dan/atau untuk selamanya. Suatu saat kita pasti bertemu, dengan cara berpikir yang mungkin berbeda atau sama saja. Namun, selalu menyenangkan bahwa kita memiliki bahasa yang hanya kita pahami artinya, tidak orang lain. Bahasa yang lahir dari pengalaman panjang. Mata kita bertemu dan kita tertawa. Brengsek, kenangan menyeruak. Kita sudah terlalu berbeda untuk merangkai mimpi bersama. Teruskanlah kawanku, aku mungkin tak punya waktu. Namun doa katanya lebih mudah dan murah, aku yakin aku masih bisa memberikannya kepadamu, berkali-kali, berlipat ganda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar