Senin, 12 Oktober 2015

Selamat!

Hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana harga diriku dan rasa bahagiaku harus beradu. Hari di mana aku tidak bisa datang memberikan apapun. Hari di mana aku harus mengakui bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak mampu membuktikan apa-apa.

Mungkin begitulah aku, tak pernah terlalu dalam dan tak pernah terlalu bersungguh-sungguh dalam membuktikan niatanku. Seandainya kamu tahu betapa buruknya rasa ini.

Aku hanya merasakan nyeri yang sangat dan ada gemetar di tanganku. Tak cukup buruk sebenarnya untuk menjadikan hari ini hari yang buruk. Tak cukup buruk untuk menangis. Namun ada kegetiran yang tak mampu aku sembunyikan. Aku ingin mengalahkanmu dengan berbagai cara, walaupun aku tahu aku telah kalah dalam berbagai cara. Aku ingin mengalahkan diriku sendiri yang ingin mengalahkanmu.

Bualan tentang pagi yang seru yang mungkin saja kita lewati bersama tentu saja tak akan pernah terjadi. Semakin jauh karena aku tidak bergerak ke arahmu. Karena kamu bergerak dalam dunia yang riuh, yang tak berani aku singgahi. Karena kamu bergerak tanpa menoleh apakah aku bergerak baik-baik saja. Karena aku yang tak percaya diri mampu menciptakan pagi yang seru.

Aku baik-baik saja, semua baik-baik saja, kamu pun baik-baik saja. Dalam angan yang tak perlu terbentuk rupa, seharusnya pagi yang seru itu telah terjadi, tentu saja dalam dimensi ruang kita masing-masing. Kau sahabatku, dalam suatu persinggungan yang hanya sebentar. Kau yang selalu kudoakan mendapati yang terbaik, tapi di sisi lain egoku berharap kau tak bahagia tanpaku, paling tidak tak lebih bahagia dariku. Sekarang aku tertawa, mendapati penyakit yang terus saja kujejalkan ke hatiku yang payah.


Maafkan aku. Namun percayalah manusia baik tak mempan doa buruk. Apalagi doa dari manusia yang ragu-ragu sepertiku. Selamat berkarya bung! Aku tahu kau akan menjadi sangat luar biasa, itulah mengapa aku pernah menghentikan waktu untukmu.

Selasa, 06 Oktober 2015

Ketidakpedulian

Udah kasihan, jangan dilihat.
(Kata Seseorang ketika melihat foto bocah yang matanya lebam kena kabut asap Riau)

Saya terkejut mendapati kalimat tersebut muncul dari lingkungan yang sangat dekat dengan saya sendiri. Saya memiliki kegelisahan yang mungkin memang berlebih mengenai ketidakpedulian, tetapi sayangnya mungkin saya kurang banyak ngobrol dengan lingkungan saya soal hal tersebut. Rasanya mendadak ada jarak ketika mendengar hal tersebut ternyata muncul dari orang terdekat. Saya mengutuki diri sendiri, saya sering koar-koar di luar tentang berbagi apapun yang kita punya, membantu apapun yang bisa kita lakukan, tetapi kepada orang terdekat saya tidak banyak bertukar pikiran. Di situ saya berpikir, ketidakpedulian nyata adanya, saya sendiri juga pelakunya, saya yang terlalu jauh dari mereka.

Saya harus berpikir berkali-kali untuk menuliskan ini. Berharap tidak ada yang tersakiti dengan kata-kata saya atau berharap tidak ada yang menyalahartikan sebagai ke-sokpeduli-an saya terhadap apapun. Namun keterkejutan saya dan rasa patah hati saya lebih besar dari ketakutan saya tentang penilaian orang lain. Saya harus menyampaikannya. Atau lebih tepatnya saya harus mencari jawaban yang bisa melegakan hati saya sendiri tentang mengapa kalimat tersebut sampai terlontar. Sebenarnya saya juga takut tulisan ini adalah bagian dari pelarian saya yang berujung pada ketidakpedulian saya lagi.

Pertama mendengar kalimat itu yang terlintas di otak saya adalah “Ignorance does exist”, ya saya merasa bahwa ketidakpedulian itu nyata-nyata hadir di tengah-tengah kita. Bahwa kesetujuan kita yang menyebut manusia sebagai manusia sosial karena gemar berkumpul dan bersenang-senang bersama, gemar bertanya kabar, gemar mengucapkan selamat dan duka cita, gemar melakukan update berita tentang pekerjaan, penghasilan, pasangan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kepemilikan rekan-rekan kita yang secara diam-diam maupun secara terang-terangan, tidak cukup memberikan keberanian kepada kita melihat atau memberi ruang lebih atas hal yang secara spontan menyentuh hati kita.

Kenapa tidak berani? Mungkin jawabannya adalah karena tidak tahu harus berbuat apa. Atau malah sebenarnya kita tahu harus berbuat apa, tetapi kemudian bersinggungan dengan kesadaran mendasar tentang “Siapa Saya?” dan jawaban kita yang entah merendahkan diri sendiri atau memang nyata-nyata tidak mampu membuat kita memutuskan untuk berhenti melihat, lalu memangkas kepedulian kita.

Pada tahap ini saya selalu berharap dan saya menenangkan pikiran saya bahwa ketidakpedulian memang hanya muncul karena keterbatasan informasi yang dimiliki seseorang akan suatu hal. Saya berharap bahwa ketidakpedulian bukan muncul karena seseorang memilih untuk tidak tahu dan tidak mencari tahu lebih lanjut.

Pada kasus lain mungkin ketidakpedulian seseorang sering kali bukan hanya karena keterbatasan informasi, tetapi juga informasi yang salah yang di milikinya (informasi yang salah menurut kita). Seseorang meyakini apa yang benar menurutnya, mungkin atas sesuatu yang telah berjalan dengan stabil dan baik, tetapi menurut kita salah dan perlu diluruskan. Perbedaan pendapat itu tentu saja membuatnya tidak mau repot-repot untuk bergerak bersama kita, dan kita bisa dengan mudah menyebutnya sebagai orang yang tidak peduli.

Namun sekali lagi benar bahwa kita bisa memilih menutup mata atas yang sesuatu hal yang bisa kita lihat, tapi kita tidak akan bisa menutup mata dari apa yang bisa kita rasakan, sesuatu yang menyentuh hati kita.

Bagaimanapun pernyataan di awal tulisan ini tetap saja membuat saya patah hati mengetahui kemungkinan bahwa banyak orang yang berpikiran sama seperti itu. Mungkin karena melihat hal yang terlalu buruk untuk dilihat membuat kita terlalu lemah untuk memikirkan kemungkinan untuk menolong. Karena kita merasa bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa maka kita tidak bertanggungjawab untuk menolong.

Ya walaupun kita tidak berhak sebenarnya menilai seseorang peduli atau tidak peduli, di luar hal-hal yang tidak kita ketahui, kadang kita menilai kecil apa yang telah dilakukan atau diberikan seseorang, tetapi sejatinya dia telah memberikan apapun yang dia miliki. Wallahualam.

Satu hal terakhir, jika seseorang di sekitar saya berkata "Udah kasihan, jangan dilihat." Saya sendiri akan menegurnya, karena apapun yang telah menyentuh hatinya tersebut ada indikasi bahwa ada sesuatu yang salah, dan kita selalu bisa menolong, sekecil apapun, sesedikit apapun. Saya pun optimis, masih banyak orang-orang yang memiliki kepedulian jauh jauh lebih tinggi dari saya dan mereka melakukan aksi nyata. Namun sekali lagi, pergerakan positif tersebut harus ada yang menyambungkan secara langsung melalui obrolan sehari-hari maupun tulisan-tulisan yang mudah saja tersebear secara viral di sosial media. Untuk menjadikan tulisan saya viral, saya tidak punya kemampuan, karena saya memang bukan siapa-siapa. Namun saya masih bisa bicara dengan orang-orang dekat di lingkungan saya.

Hanya saja jangan terjebak dengan parameter atas aksi nyata, karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati seseorang. Saya hanya berharap tidak ada alokasi yang salah atas kepedulian kita. Yaitu ketika kita mudah saja bermurah-murah atas kepedulian terhadap urusan orang lain sebagai makhluk sosial, kepedulian untuk terus bisa berkumpul-kumpul dalam kebahagian, kepedulian yang membutuhkan kedekatan-kedekatan emosional dan kepentingan tertentu. Namun, di sisi lain kita tidak berani peduli atas hal-hal yang membutuhkan pertolongan kita segera jika tidak ada semua alasan itu.