Udah kasihan, jangan dilihat.
(Kata Seseorang ketika melihat foto bocah yang matanya lebam
kena kabut asap Riau)
Saya terkejut mendapati kalimat tersebut muncul dari lingkungan yang sangat dekat dengan saya sendiri. Saya memiliki kegelisahan yang mungkin memang berlebih mengenai ketidakpedulian, tetapi sayangnya mungkin saya kurang banyak ngobrol dengan lingkungan saya soal hal tersebut. Rasanya mendadak ada jarak ketika mendengar hal tersebut ternyata muncul dari orang terdekat. Saya mengutuki diri sendiri, saya sering koar-koar di luar tentang berbagi apapun yang kita punya, membantu apapun yang bisa kita lakukan, tetapi kepada orang terdekat saya tidak banyak bertukar pikiran. Di situ saya berpikir, ketidakpedulian nyata adanya, saya sendiri juga pelakunya, saya yang terlalu jauh dari mereka.
Saya harus berpikir berkali-kali untuk
menuliskan ini. Berharap tidak ada yang tersakiti dengan kata-kata saya atau
berharap tidak ada yang menyalahartikan sebagai ke-sokpeduli-an saya terhadap
apapun. Namun keterkejutan saya dan rasa patah hati saya lebih besar dari
ketakutan saya tentang penilaian orang lain. Saya harus menyampaikannya. Atau
lebih tepatnya saya harus mencari jawaban yang bisa melegakan hati saya sendiri
tentang mengapa kalimat tersebut sampai terlontar. Sebenarnya saya juga takut
tulisan ini adalah bagian dari pelarian saya yang berujung pada ketidakpedulian
saya lagi.
Pertama mendengar kalimat itu yang terlintas di otak saya
adalah “Ignorance does exist”, ya saya merasa bahwa ketidakpedulian itu
nyata-nyata hadir di tengah-tengah kita. Bahwa kesetujuan kita yang menyebut
manusia sebagai manusia sosial karena gemar berkumpul dan bersenang-senang
bersama, gemar bertanya kabar, gemar mengucapkan selamat dan duka cita, gemar melakukan update berita tentang pekerjaan,
penghasilan, pasangan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kepemilikan
rekan-rekan kita yang secara diam-diam maupun secara terang-terangan, tidak
cukup memberikan keberanian kepada kita melihat atau memberi ruang lebih atas hal yang secara spontan
menyentuh hati kita.
Kenapa tidak berani? Mungkin jawabannya adalah karena tidak
tahu harus berbuat apa. Atau malah sebenarnya kita tahu harus berbuat apa,
tetapi kemudian bersinggungan dengan kesadaran mendasar tentang “Siapa Saya?” dan
jawaban kita yang entah merendahkan diri sendiri atau memang nyata-nyata tidak
mampu membuat kita memutuskan untuk berhenti melihat, lalu memangkas kepedulian kita.
Pada tahap ini saya selalu berharap dan saya menenangkan
pikiran saya bahwa ketidakpedulian memang hanya muncul karena keterbatasan
informasi yang dimiliki seseorang akan suatu hal. Saya berharap bahwa ketidakpedulian
bukan muncul karena seseorang memilih untuk tidak tahu dan tidak mencari tahu
lebih lanjut.
Pada kasus lain mungkin ketidakpedulian seseorang sering kali bukan
hanya karena keterbatasan informasi, tetapi juga informasi yang salah yang di milikinya (informasi yang salah menurut
kita). Seseorang meyakini apa yang benar menurutnya, mungkin atas sesuatu yang telah berjalan dengan
stabil dan baik, tetapi menurut kita salah dan perlu diluruskan. Perbedaan pendapat itu tentu saja membuatnya tidak mau repot-repot untuk bergerak bersama kita, dan kita bisa dengan mudah menyebutnya sebagai orang yang
tidak peduli.
Namun sekali lagi benar bahwa kita bisa memilih menutup mata
atas yang sesuatu hal yang bisa kita lihat, tapi kita tidak akan bisa menutup
mata dari apa yang bisa kita rasakan, sesuatu yang menyentuh hati kita.
Bagaimanapun pernyataan di awal tulisan ini
tetap saja membuat saya patah hati mengetahui kemungkinan bahwa banyak orang
yang berpikiran sama seperti itu. Mungkin karena melihat hal yang terlalu buruk untuk
dilihat membuat kita terlalu lemah untuk memikirkan kemungkinan untuk menolong.
Karena kita merasa bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa maka kita tidak
bertanggungjawab untuk menolong.
Ya walaupun kita tidak berhak sebenarnya menilai seseorang peduli atau
tidak peduli, di luar hal-hal yang tidak kita ketahui, kadang kita menilai
kecil apa yang telah dilakukan atau diberikan seseorang, tetapi sejatinya dia
telah memberikan apapun yang dia miliki. Wallahualam.
Satu hal terakhir, jika seseorang di sekitar saya berkata
"Udah kasihan, jangan dilihat." Saya sendiri akan menegurnya, karena
apapun yang telah menyentuh hatinya tersebut ada indikasi bahwa ada sesuatu
yang salah, dan kita selalu bisa menolong, sekecil apapun, sesedikit apapun.
Saya pun optimis, masih banyak orang-orang yang memiliki kepedulian jauh jauh
lebih tinggi dari saya dan mereka melakukan aksi nyata. Namun sekali lagi,
pergerakan positif tersebut harus ada yang menyambungkan secara langsung
melalui obrolan sehari-hari maupun tulisan-tulisan yang mudah saja tersebear
secara viral di sosial media. Untuk menjadikan tulisan saya viral, saya tidak punya kemampuan, karena saya memang bukan siapa-siapa. Namun saya masih bisa bicara dengan orang-orang dekat di lingkungan saya.
Hanya saja jangan terjebak dengan parameter atas
aksi nyata, karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati seseorang. Saya
hanya berharap tidak ada alokasi yang salah atas kepedulian kita. Yaitu ketika kita mudah saja bermurah-murah atas kepedulian terhadap urusan orang lain sebagai makhluk sosial, kepedulian untuk
terus bisa berkumpul-kumpul dalam kebahagian, kepedulian yang membutuhkan
kedekatan-kedekatan emosional dan kepentingan tertentu. Namun, di sisi lain kita
tidak berani peduli atas hal-hal yang membutuhkan pertolongan kita segera jika tidak
ada semua alasan itu.