Rabu, 28 Maret 2018

Saya ingin menulis lagi

Belakangan ini, mungkin bisa disebut setahun belakangan ini, ya semenjak saya bekerja, waktu untuk membaca, merenung, membenturkan perenungan saya dengan realita di lapangan dan lalu menuangkannya ke dalam tulisan menjadi banyak berkurang. Jauh berkurang. Sebut saja saya membuat excuse terkait kesibukan saya bekerja itu, saya memang selalu begitu, membuat excuse atas kemalasan dan ketidakmampuan saya melakukan manajemen waktu yang baik. Selanjutnya, karena saya merasa pernah menulis dan memiliki concern tertentu, saya merasa panas setiap ada teman-teman memposting tulisan di laman blognya. Bagaimana mereka bisa mengatur waktu sedangkan saya tidak? Menurut saya menulis di blog itu bagaimanapun lebih terhormat karena membutuhkan pemikiran yang lebih komprehensif dari meracau sepotong-potong di dunia maya. Blog juga membawa kita fokus memilah niat kita dalam menulis, menjaga kejernihan kita dalam berpikir dan mengolah subyektifitas kita, sehingga kita tidak tergelincir pada niatan untuk pamer pemikiran saja ya karena orang yang terpapar konten blog kita tidak sebanyak di sosial media. Saya sudah menyadari hal ini sejak lama, namun di tengah waktu yang sedikit dan input yang begitu banyak, sosial media memang seringkali menjadi pilihan yang instan untuk melempar emosi. Setelahnya sudah. Tidak dewasa ya? ya saya pikir saya 3-4 tahun lalu saja lebih dewasa daripada hari ini.

Hari ini saya memutuskan menulis lagi, mengenai apapun. Proses menulis saya berhenti, kemampuan saya menelaah dengan jernih juga berhenti, namun input saya tetap (walaupun telah bergeser dari buku dan kegiatan lapangan menjadi pertemuan-pertemuan dan kebijakan-kebijakan ketika saya mendapat tugas di pekerjaan saya), sehingga proses berpikir saya tidak berhenti, kegelisahan saya menganak terus, mengalir minta difasilitasi, dituangkan menjadi sebuah output. Setahun ini saya galagapan untuk mencari cara yang tepat dalam memanifestasikan input yang berlebih ini menjadi output. Bukannya fitrahnya begitu? Input harus seimbang dengan output. Jika kita makan banyak, maka kita akan membuang banyak, jika tidak begitu kita bisa meledak dan badan tidak enak. Setahun ini saya mencoba kembali menggambar. Ya menggambar seadanya, kadang gambar saya tidak selesai, kadang gambar saya jadi tidak sesuai harapan saya, tapi itu lebih baik daripada saya mengikuti labirin pemikiran saya yang seringkali membuat saya frustasi dan gagal menerima kenyataan, singkatnya menjadi insecure dan menangis.

Kadang saya mencoba menenangkan diri, bahwa saya tidak harus bisa semuanya, saya tidak harus menguasai segalanya, saya tidak harus pandai menulis. Namun, saya segera sadar, untuk siapa saya menulis? untuk membuat orang lain kagum kah? Saya sadar, saya lah yang membutuhkan menulis untuk menceritakan apapun yang saya temui dalam perjalan panjang saya. Sebuah perjalanan untuk melengkapi filosofi favorit saya, filling the gaps and connecting the dots, yang dalam prosesnya seringkali menggelikan dan melelahkan. Menggelikan karena sering kita temui apa yang kita sebut penting ternyata hanya omong kosong yang dibuat penting dan menjadi barang dagangan. Melelahkan karena selalu ada hal baru yang membuat saya belajar dan belajar lagi, yang membuat saya merendahkan ego saya serendah-rendahnya karena kalau tidak saya akan babak belur.

Apakah ada hal indah yang bisa saya tulis? Entahlah hahaha, saya hanya ingin menulis sesuatu dengan bernas. Entah sejak kapan saya mengartikan bernas adalah kebebasan dalam menggunakan umpatan dan berbicara hal-hal yang tidak menyenangkan. Entah sejak kapan saya mengartikan bernas berarti kritik. Entah sejak kapan saya mengartikan bernas adalah menghindari kalimat indah bersayap dan normatif. Mungkin saya sudah terlalu jengah meladeni liukan kata-kata indah yang penuh pencitraan sedangkan mereka terlalu takut menyatakan pemikirannya sendiri. Saya jengah mendengar dan membaca seseorang merepetisi pemikiran tokoh lain dan mengutip kata-kata dari media sosial, tanpa berusaha menggali lebih dalam kegelisahaan apa yang membuat mereka tidak tidur, dan perasaan apa yang membuat tubuh mereka bergetar. Saya jengah, tulisan datar, indah dan normatif disebut tulisan. Saya negatif sekali ya? hahahaha begitulah, kadang saya paling pandai menyumpalkan kecurigaan dan penghakiman ke batang otak saya terhadap orang lain. Padahal mungkin saja mereka memang menuliskan apa yang mereka rasakan, hanya saja mereka merasa dan berpikir secukupnya. Mungkin mereka pandai membatasi variabel dalam kehidupannya.

Ya saya pikir saya akan menulis tentang keindahan juga, karena saya juga merasakan betapa intens nya kebahagiaan yang saya dapati dalam gegap suka dan gempita rasa setahun belakang ini. Setahun lebih tidak memulangkan seluruh kegelisahaan dalam blog ini, mungkin saja ternyata karena saya sedang terlalu bahagia, saya bekerja sesuai yang pernah saya impikan, saya bepergiaan bertemu banyak orang, saya lulus setelah 8 tahun 11 bulan dan saya menikah dengan lelaki yang tidak pernah saya sangka hadirnya ke dalam hidup saya (and damn i'm so accidentally in love!). Dan di antara itu kesedihan datang dan pergi, mimpi-mimpi lama muncul kembali, rasa pedih atas kegagalan menyeruak, keinginan untuk melakukan hal lain menghambur ke muka dan menelisik ke malam-malam saya. Namun semua ketidakasyikan itu tak cukup membuat saya kabur, menepi dan meratap di blog ini.

Saya mungkin tidak bisa berjanji akan datang kesini dengan cerita-cerita indah terus, tetapi saya akan berjanji akan berusaha berbagi hal yang indah juga yang saya alami. Saya bisa bercerita bagaimana pengalaman pendampingan saya selama setahun di Bima dan Palangka raya, bertemu orang rumah sakit, masyarakat dan para pejabat. Well ini pertama kali saya melakukan pendampingan secara profesional dan lama. Banyak sekali yang saya pelajari dan evaluasi, mungkin akan bermanfaat jika saya membagikannya secara serius tapi santai. Mungkin juga usaha saya dalam kuliah lagi, yang sayang sekali sering di langkah pertama, persyaratannya membuat saya meringis, just because i made mistakes in the past, alot mistakes! Bukankah hal macam itu juga indah? Ya, saya pikir akan indah jika saya tulisankan susah-susahnya dulu hari ini dan suatu hari saya mendapatkannya (amin hahaha), success story selalu indah kan? Dan well, satu lagi yang sangat krusial dalam setahun terakhir, saya mengalahkan ketakutan saya untuk berbagi kehidupan dengan orang lain dalam pernikahan. Marriage life is a deal! a big deal! i'll share some stories, promise you! Dan mari kita lihat bersama bagaimana bekerja, menikah dan masih memeluk mimpi mengubahku menjadi seseorang yang lebih dewasa atau malah tidak sama sekali? hahaha

Dan kesenangan saya bermain-main dengan pikiran, yang kadang saya hasilkan setelah membaca sesuatu, mungkin juga perlu diberi wadah. Saya akan belajar metodologi dan alat riset yang baik, melengkapi teori dan mencoba mengartikulasikannya, untung-untung bisa saya kirimkan ke kompetisi essay, jurnal atau cukup saya lempar ke sini karena sepertinya melemparkan hal seserius dan sembulet itu ke media sosial cukup membuat teman-teman saya mual. lol see how insecure i am!

Well begitulah, selamat datang kepada diri saya sendiri kepada rumah yang pernah saya bangun dan cukup lama saya tinggalkan, blog ini, the house of serendipity! Semoga selalu ada kesempatan untuk bercengkerama, baik dengan orang di sekitar kita maupun dengan diri sendiri, untuk mengupasi satu-satu apa yang terlanjut kita anggap benar.

Salam, i love you my self, i love you suamiku, terimakasih selalu menemani.