Minggu, 01 Januari 2017

Usaha Simplifikasi

Saya tidak tahu harus memberi judul apa tulisan pertama saya di tahun 2017 ini. Ah bahkan saya rasa, terlalu banyak tulisan saya yang saya awali dengan kalimat tersebut. Saya tidak tahu harus memberi judul apa, toh akhirnya saya beri judul juga. Well, sepertinya itu hanya sebagai pemakluman nantinya jika tulisan saya tidak nyambung dengan judulnya.

Ya sesuai dengan judul tulisan ini, saya sedang berusaha menyederhanakan hidup saya saat ini. Sudah terlalu banyak orang yang mengatakan saya rumit. Saya sebenarnya cuek, hingga akhirnya pernyataan bahwa saya rumit itu sampai juga di telinga saya, direpetisi lagi dan lagi oleh orang terdekat saya. Bahkan oleh lelaki yang saya jatuh cinta kepadanya. Saya dibilang rumit. Aih, sebanyak apapun saya berusaha untuk menyederhanakan hidup saya, sejelas apapun saya menyatakan apa yang saya rasa, nyatanya saya tetap dianggap rumit. Maka, jika ditanya apa alasan saya ingin menyederhanakan hidup saya ke depan? Jawabannya bukan karena perasaan insecure saya karena banyak dianggap rumit oleh orang lain. Saya sudah luweh akan hal tersebut. Saya sudah jeleh dengan seseorang yang memilih untuk menghakimi saya sebagai wanita rumit karena keterbatasan emosi, mental dan pengetahuannya menghadapi saya. Untuk hal tersebut, saya sudah Ikhlas jika tidak dibilang pasrah. Toh saya sudah selalu berusaha mendiskusikan apapun dan memberi ruang untuk kritik dan saran. Selebihnya, saya sadar saya bukan customer service dan saya tidak sedang berjualan produk. Saya tidak akan menjual hidup saya untuk customer yang bahkan tak tahu apa yang dia butuhkan.

Saya ingin menyederhanakan hidup karena saya iri (insyaAllah dalam artian positif) melihat anak muda, terutama yang ada di lingkungan saya bergerak sangat dinamis, menyenangkan, cerdas, penuh gairah, polos tetapi mampu terukur. Saya rasa, saya terlambat dalam mengenal target hidup semacam ini. Kini saya, sedang merasakan euforia berada pada lingkungan akademis dan bermain yang berusaha untuk memanifestasikan segala daya, upaya dan pikiran agar bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan. Terdengar seperti self-claim ya? Mohon diamini saja pada akhirnya. Jika hal tersebut masih terdengar sangat normatif, anggap saja, mungkin kami atau saya hanya sedang beronani intelektualitas. Well, tetap saja itu lebih baik daripada memuaskan diri saya sendiri tentang mimpi akan cinta sejati yang membuat saya berharap terlalu tinggi pada setiap pertemuan. Atau bahkan jauh lebih baik daripada saya terus disibukkan memperhatikan lini masa yang tak kunjung damai, saling hujat, saling berusaha membuat standard yang melangit, saling klaim sebagai orang yang paling bahagia. Saya sejujurnya, sudah terlalu lelah untuk itu semua. Di usia yang masih muda tapi tak lagi belia ini, saya merasa sudah saatnya pemikiran dan emosi saya tak lagi sporadis. Saya ingin memasak hal-hal yang sudah saya tampung hasil pemberian banyak orang yang mampir di kehidupan saya dan hasil perburuan personal saya sejauh ini untuk menjadi sesuatu yang lebih berdampak.

Contoh berdampak itu apa? Entahlah. Saya rasa, tidak harus sesuatu yang selalu identik dengan logika dan tujuan pembangunan sebenarnya. Namun, lebih kepada pembekalan kepada sesama manusia untuk mendapat akses atas memilih kehidupan seperti yang yang saya miliki. Bukankah kita selalu diajarkan dalam islam untuk memberi sesuatu dengan standard minimal yang kita miliki, sesuai hal yang kita konsumsi? Begitulah menurut saya berdampak itu semestinya. Ya, dan intinya ada pada memberi setiap manusia pilihan. Memanusiakan manusia dengan memberi pilihan melalui informasi mengenai standard dan faktor produksi, lengkap dengan konsekuensinya, yang baik dan yang buruk. Selebihnya, kembalikan kepada mereka. Hanya itu. Bagaimana caranya? Ya itu pertama saya harus memilih dulu untuk menyederhanakan hidup saya. Dan mulai berkumpul di lingkaran-lingkaran orang yang punya tujuan yang sama dengan saya. Saya bersyukur, walau jalan hidup saya tidak selalu lurus dan nyaman, saya dipertemukan orang-orang yang memiliki beragam warna. Dan saya sudah mulai mampu memetakan mereka yang bisa diajak jalan bareng karena tujuan yang sama dan mereka yang tidak. Walaupun, saya juga harus selalu siap patah hati dan kehilangan partner, karena everybody's changing dan pertemanan itu dinamis.

Jadi, bagaimana saya menyederhanakan hidup? Ah itu memang tantangan? Di tengah kompleksitas dan ketidakpastian hidup yang tinggi yang sudah dari sononyaaa, saya menghabiskan banyak malam untuk mengenali diri saya. Saya mencoba menggali di mana masalah saya, hal apa yang membuat saya tidak bisa fokus dan cenderung mengakibatkan prokrastinasi. Saya harus melewati tangisan-tangisan yang diakibatkan rasa insecure terlebih dahulu untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Saya menangis ketika saya menyadari bahwa kemungkinan pikiran saya saja yang lebay dan semua kegelisahan saya tidak berdasar. Sedih sekali melemparkan pertanyaan bahwa jika ada orang yang mampu menjalani kehidupan seperti itu, lalu mengapa saya tidak? Penyederhanaan hidup saya membutuhkan keberanian, keberanian mengakui bahwa saya memiliki keterbatasan. Saya butuh keberanian untuk menyerah dan mengatakan tidak mampu.

Anggap saya sekarang berada di fase ingin meningkatkan produktfitas. Saya jeleh sebenarnya menggunakan kata produktif. Dengan begitu saya harus mengeliminir hal-hal di luar goal besar saya, padahal hal tersebut tidak kalah menariknya. Namun, begitulah katanya pendewasaan, orang dewasa adalah mereka yang berani meninggalkan hal-hal yang menarik dan tetap tahu mana hal-hal yang akan membuat dirinya selalu bergairah dalam hidup.

Jadi apasih yang saya sedang eliminir untuk menyederhanakan hidup? Jawabannya adalah dua akun sosial media yang saya sangat aktif di dalamnya? What?!!! Cuma sosial media? hahaha betapa tidak dewasanya saya ya? Untuk tidak menghabiskan waktu pada dua sosial media saja saya harus menonaktifkan, bahkan menghapus keduanya. Sudah saya bilang, menjadi sederhana memang butuh keberanian. Saya harus berani mengakui bahwa saya bermasalah dengan sosial media. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memberi kabar pada dunia tentang perasaan saya, atau jika tidak ingin tahu apa yang terjadi di luar sana. Dan sungguh, ternyata itu melelahkan. Maka saya, memilih menyerah kepadanya, dengan tidak lagi menggunakannya. Saya berharap, saya menjadi lebih mampu menggunakan waktu saya untuk mengkaji hal-hal yang menarik minat saya lebih dalam lagi, tidak hanya di permukaan, dan memanifestasikannya kepada hal, yang saya sebut bermanfaat tadi.

Satu hal lagi yang saya sadari, saya lemah dalam meminimalkan ketidakpastian. Eh tapi siapa sih yang berani memprediksi ketidakpastian? Walau itu semua ada ilmunya secara ilmiah, karena pola bisa dibaca. Namun, bagi saya yang percaya Tuhan, meminimalkan ketidakpastian itu biarlah urusan Tuhan saja. Saya tidak berminat untuk melakukan forcasting dan ramalan. Jika mengacu pada tulisan Schoemaker tentang Tantangan menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian, saya memeng dan sungguh tak bergairah membayangkan hidup di tahun-tahun ke depan masih berkutat pada kuadran yang mempertemukan tingginya tingkat kompleksitas dan tingginya ketidakpastian. Maka, saya memilih untuk menyederhanakan hidup, meminimalkan variabel yang selama ini berjubel di otak saya untuk dijadikan pertimbangan. Saya ini memang, jika mengacu pada istilah ekonomi, sudah diminishing marginal return of scale. Apa-apa yang ingin saya lakukan sudah terlalu banyak dan di luar kapasitas saya. Apa hasilnya? Saya tidak kemana-mana. Saya harus melakukan spesialisasi. Begitulah setidaknya yang saya pahami. Semoga tahun ini dan tahun-tahun berikutnya barokah.

Lagipula, benar kata senior saya, hidup bukan pasar malam. Pada akhirnya saya hanya ingin menyepi. Bismillah.