Minggu, 11 September 2016

Bertemu Samudra

Semalam, di bis Eka, seorang anak muda berani menggangguku yang sudah hampir tertidur. Aku sudah menggunakan masker dan shawl untuk selimut. Namun, seorang anak muda mengucapkan permisi, memohon izin untuk duduk di sampingku. Dia bersama dengan empat orang temannya yang lain, naik dari janti. Sedang aku yang naik dari terminal giwangan jam 11 malam sudah hampir hilang kesadaran. Dia duduk di sampingku setelah aku menganggukan kepala tanpa membuka maskerku. Aku memalingkan wajah ke jendela, menutup mata, tanda bahwa aku tak tertarik atas obrolan apapun karena mataku sudah sangat ngantuk.

Dia memulai obrolan. Seorang pemuda yang terlihat jauh lebih muda dariku itu bertanya suatu hal yang sangat standard dan kuantisipasi sebagai basa-basi seseorang bertemu di bis. "Mau kemana, Kak?" . Kujawab, Surabaya. Dia mendekatkan telinganya ke arahku, "Kemana?". Ah sialan pikirku, kuharus membuka masker, "Surabaya." dan kutambahkan senyum yang kurang enak, tanda bahwa dia sudah menggangguku. Aku membuang pandangan ke samping. Kudengar teman-temannya tertawa kecil mendengar dia memulai pembicaraan denganku. Kulirik dia, wajahnya sangat muda, dan kutangkap bulu matanya yang lentik. "Kamu mau kemana?" tanyaku. Dia menjawab, "Grobogan, nanti aku turun solo dan lanjut pakai bis ke Grobogan". Mendengar kata Grobogan hampir meledak tawaku, aku teringat kejadian tujuh tahun lalu, di Ketep Pass, rombongan panti jompo dari Purwodadi Grobogan, yang merepotkan petugas tempat wisata itu.

Obrolan pun berlanjut. Sebuah obrolan yang telah sukses menunda kantukku, dan tanpa sengaja aku menikmatinya. Dia bercerita bahwa dia baru tiga minggu berada di jogja, bekerja di rumah makan padang di daerah sendowo. Dia tidak kerasan karena majikannya yang super cerewet, suka cari-cari kesalahan dan membuatnya sakit hati. Aku tersenyum mendengar ceritanya. Seperti biasa, aku merasa sedang dicurhati oleh seorang adik lelaki, seperti adik-adik lelaki yang lain. Aku sebenarnya tidak punya adik lelaki kandung, tapi mendengar seorang lelaki muda bercerita dengan tulus dan polos sangat menyenangkan. Tak puas dengan cerita satu arah, dia terus bertanya, yang membuatku terpaksa harus menjawab. Pada awalnya aku terpaksa menjawab, sepatah dua kata, kemudian aku juga mulai bercerita. Ketika sedang asik bercerita, dia bertanya namaku, "Febri." Jawabku. Dia mengulangi, "Febi?". "No, Febri" Pungkasku dengan penekanan pada "Bri". Dia mengulurkan tangan, "Samudra." Aku menoleh, menangkap bayang wajahnya, dia tampan. Seketika aku bersyukur atas keputusanku mengganti kerudung dari dusty purple yang terlalu terang menjadi kerudung hitam favoritku sebelum naik bis. Aku selalu suka wajahku dibingkai kerudung hitam dan frame kacamata hitam. Kerudung dusty purpleku yang terlalu terang itu membuatku kulitku terlihat kusam. Sedang perpaduan kerudung hitam dan frame kacamata hitam membuatku terlihat lebih segar namun serius, aku ingin mendapat kesan dewasa ketika berhadapan dengan lelaki muda yang.. ehmm.. menarik.

Samudra membuyarkan tidurku yang kupakai sebagai pelarian dari lamunku yang berisi kerinduan terhadap seseorang. Bahkan dia menanyakan banyak hal yang membuatku agak berpikir. Dalam usianya, cerita yang dia kisahkan cukup rapid. Aku jadi berpikir bahwa menjadi muda selalu menyenangkan, kita bisa mengalami banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Samudra bercerita tentang traumanya karena hampir mati ketika naik travel menuju ke bali. Dia pernah bekerja sebagai asisten koki selama tiga tahun di bali. Dia juga pernah naik pesawat yang mesinnya mati selama lima menit dan menukik tajam hingga semua yang ada di dalamnya berhamburan ke segala tempat, sirine berbunyi, dia yakin dia mati, tapi mesin menyala lagi. Dia bercerita bahwa dia sering memasak di rumah karena ibunya pagi sekali sudah harus berangkat kerja.

Setengah jam berlalu, aku masih ingin mengobrol. Tanpa sadar kubertanya, "Kamu sudah mau turun?" ketika bis mampir ke terminal Klaten. "Belum mbak." tegasnya. Dia melirik jam tangan, "Masih setengah jam lagi." ditambahkannya senyumnya. "Oh" jawabku, aku meringkuk. Dia bertanya apakah aku kedinginan, aku mengangguk, dia mematikan ac yang mengarah padanya, yang tadi dinyalakan ketika dia baru naik dari janti. Milikku sudah mati dari awal. Samudra mengangkat tangannya. Aku teringat ceritanya bahwa dia hanya lulusan SMP, tapi kutebak dari pstur tubuh dan ceritanya, dia seorang pekerja keras.

Aku masih ingin bercerita lebih lanjut tentang dia. Ah sayangnya aku ngantuk sekali dan besok harus sholat ied. Tentang bagaimana dia menanyaiku beberapa pertanyaan yang bijak, tentang gengsiku untuk tidak menanyakan nomor hp, tentang pikiranku bahwa bertemu Samudra tadi mungkin hanya mimpi sesampaiku di Ngawi untuk makan, tentang semua informasi yang dia berikan tentangnya tak membuatku berhasil menemukannya di internet. Namun satu hal yang sudah kusampaikan padanya, dia harus belajar masak terus, dan aku ingin melihatnya menjadi koki hebat suatu hari nanti di restoran ternama atau di acara tv nasional. Dia berterimakasih.

Delapan tahun selalu menolak permintaan nomor telpon dari seorang lelaki di bis, baru kali ini aku berharap seseorang menanyakan nomor telponku, tapi dia tidak menanyakannya, dan aku agak menyesal karena terlalu sok menjaga manner di depannya. Namun, keputusanku sudah benar. Karena jika tidak aku bisa merasa bertanggungjawab atas kehidupan seseorang seperti yang sudah-sudah. Aku cukup mendoakannya saja, supaya dia menjadi lelaki hebat dan tidak muda menyerah dan sakit hati. Satu jam yang sangat padat, dan aku berpikir akan membuat transkrip obrolannya. Namun aku juga sadar, this is the real life, bahwa hidupku bukanlah salah satu scene pada novel Hemmingway, bahwa aku bukanlah gadis yang diajak ngobrol dengan seorang pria dia Bukit Gajah Putih itu. Maka mungkin, pertemuan dengan Samudra adalah pertemuan biasa, sebanyak apapun yang mampu kuingat, kuserap dan kuartikan dari pertemuan itu, semuanya ingatan itu akan menghilang kelak. Aku akan lupa wajahnya, cara dia melirikku, parfum murahannya dan senyumnya ketika aku bicara sok dewasa.

-----------------------------------

"Jadi, di usia 26 tahun, sebagai wanita Indonesia, kamu akan memilih menikah atau belajar lagi? Kamu ada rencana menikah?"

"Aku ingin menikah, lalu kuliah lagi S2, semoga bisa keluar negeri. Kamu 20 tahun, coba apapun yang ingin kau coba, jangan gampang sakit hati kalau sedang belajar."

"Iya mbak, makasih ya."

- Terminal Tirtonadi 00.35 -

"Aku duluan ya"

Aku mengangguk. Kulihat dia dari kaca jendela, menggunakan jas hitam fit body, kaus abu-abu dan celana jeans tanpa menoleh lagi padaku. Modis sekali pikirku.
----------------------------------

Samudra, sampai jumpa lagi :)