Senin, 28 Maret 2016

Insecure

Surat Cinta Hari Kedua
29 Maret 2016 (00.39)

Hari ini tidak terlalu banyak berubah mas, aku memang payah. Bahkan untuk memenuhi komitmen 30 hari menulis surat yang kusebut surat cinta untukmu saja aku melewatkan beberapa menit sehingga surat ini kutulis melebihi tanggal 28 Maret 2016. Semalam aku sudah membayangkan di pikiranku bahwa aku akan menulis tentang “Bagaimana jika bukan kamu?” Atau membahas beberapa pertanyaan yang aku anggap krusial dan belum terjawab olehmu. Namun hari ini ada yang lebih harus dibahas tuntas menurutku, yaitu sebuah perasaan yang selalu mengganggu tanpa diundang dan sering kali seenaknya sendiri, sebut saja perasaan tidak aman, atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan insecure.

Apa perasaan insecure itu? Entahlah. Hanya saja itu terasa buruk, buruk sekali.

Pada beberapa waktu perasaan itu memicu sebuah semangat untuk menjadi lebih baik, tetapi sering kali menjadikanku merasa tak pernah cukup baik. Apa yang aku keluarkan dari isi kepalaku malam ini kepadamu mas, adalah bentuk yang tak pernah benar-benar berbentuk dari perasaan insecure itu. Perasaan tidak aman, gelisah, harus melakukan sesuatu, tidak mampu, tidak perlu, tidak pantas, tidak berani, harus bergerak, tak percaya diri, ingin menangis, ingin mengumpat, ingin memeluk, ingin dilepaskan. Perubahan kondisi pikiran, fisik dan kejiwaan yang bergerak terlalu cepat. Pada beberapa orang hal ini akan menjadi lebih serius dan sangat menyakiti. Aku bersyukur, aku masih selalu bisa melewatinya, walaupun sering kali harus ditolong oleh beberapa orang. Atau di lain waktu aku akan sangat merepotkan orang-orang terdekatku. Dan sayangnya, kamu masuk dalam lingkaran kehidupanku, lingkaran terdekat, ring pertama, yang kuanggap sangat spesial dan berhak mengetahui hal terburuk yang ada di pikiran dan perasaanku. Kamu sudah merasa terjebak mas? Jika iya aku mampu memakluminya.

If I showed you my flaws, would you still love me the same then?

Dan hal terburuk yang mampu aku ciptakan di dalam pikiranku dan malah membuatku merasa lebih baik adalah, jika kamu tak mampu menerimaku, kamu akan segera berkata jujur padaku bahwa kau tak mampu dan pergi secepat mungkin. Selagi aku mampu dalam batas terburuk untuk menyusun kembali diriku yang entah akan menjadi seberapa hancur. Namun, aku adalah aku, semua yang hancur akan kususun lebih indah. Aku percaya diri pada perasaan tidak aman yang aku bangun kokoh itu untuk melindungiku dari rasa sakit yang lebih dari kuasaku.

Tahukah kamu mas? Bahwa memelihara ketakutan selalu lebih mudah dan nyaman dari pada bangun dan mencoba memeranginya.

Pada suatu hari kamu katakan padaku untuk mengurangi perasaan insecure ku. Ya, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menguranginya, tapi bukan untukmu. Maksudku adalah, aku tak akan berpura-pura menjadi gadis tanpa celah, tanpa kegelisahan dan tanpa rasa takut apapun di depanmu, sedangkan di belakang aku sangat lemah dan belum pernah selesai. Kamu berhak untuk mendapati aku yang sebenar-benarnya, sebelum memutuskan untuk terus berjalan bersamaku. Namun aku pun juga berhak menilaimu, seberapa mampu kamu bisa berdamai dengan segala kelemahanku.

Perjalanan kita bisa saja sangat jauh mas, kita tidak tahu lorong-lorong gelap seperti apa yang kita hadapi, selalu cek kondisi tim, apakah masih fit? apa kelemahannya? apa yang masih bisa diandalkan dalam kondisi terburuk? Bukankah itu yang kita pelajari dalam olahraga yang kita geluti? Karena kita tidak hanya bergerak untuk kita, beberapa dari mereka menunggu sesuatu yang disebut kabar gembira, atau paling tidak kita tidak hilang tersesat. Namun jika kita harus berhenti pada lorong pertama, aku akan mengingatmu sebagai partner yang sangat penuh perhitungan. Begitulah kau mengajariku untuk menyiapkan skenario terburuk, tentu saja diramu dengan perasaan insecure yang tak sedikit.