Adalah mimpi yang menjaga tetap hidup.
Bangun, terjaga dan siaga.
Setelah berkawan dengan negeri penuh utopia,
Yang dengan menyedihkan disebut delusi di dunia yg mengagungkan wujud.
Aku terlalu berani
Menimbang segala ketidakmungkinan menjadi irama yg bisa saja indah,
Pada suatu masa yang dengan ciut kutebak.
Berbekal sebuah janji, dari Dia Yang Maha Pengasih.
Ada sebuah dimensi lain di pangkal otakku.
Bukan, bukan otak, aku tidak sebebal itu.
Mungkin jurang hatiku.
Ah tapi aku terlalu payah dalam menavigasinya.
Sudah berapa kali aku terpleset ke dalamnya?
Bahwasannya itu memang mungkin.
Menggetarkan alamraya, yang kini bergerak begitu selaras.
Begitu indah, bahkan mungkin burung akan tercekat nyanyiannya jika keselarasan itu terhenti.
Namun, atas dasar apa aku tergoda?
Atas kesombongan sebelah mana lagi aku terpanggil?
Atas bentuk keputusasaan seburuk apa aku mendamba?
Kutuangkan air dalam gelas. Kuteguk dengan rakus. Kering menjadi lebih basah.
Kutelusuri aliran air dalam rongga hingga lambung.
Kucoba bangun-bangunkan apa yang belum tersadar.
Hentikan mimpi ini Ya Tuhan, Atau aku menuntut sebuah kenyataan!
Kusujudkan sekali lagi malam ini, apa-apa yang terlampau besar dari mimpiku untuk bertemu dengan-Nya.