Hari ini sekali lagi muncul kegelisahanku terkait wanita, pun aku merasa aku bukanlah feminist. Setidaknya aku tidak benar-benar mempelajari faham atau gerakan itu terlalu dalam. Kegelisahanku hanya muncul karena melihat permasalahan di sekitarku, sebagai sesama wanita, dan seringkali sangat personal dan emosional.
Diam-diam aku mengikuti beberapa gadis di jejaring sosial dan mengamati beberapa gadis lainnya di dunia nyata. Mereka tak bisa disebut sebagai temanku, tapi menarik perhatianku. Begitulah aku begitu mudah jatuh cinta dengan hal sepele. Dan cinta itu merambah pada rasa sayang secara virtual lalu sering tanpa sengaja mereka muncul pada saat-saat yg memiliki kasualitas yang dekat.
Mereka adalah gadis-gadis yang mungkin seumurku, bahkan ada yang lebih mudah dariku, namun tidak seberuntung aku. Tidak mendapat pendidikan, kehangatan keluarga yang cukup, lingkungan yang baik. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda yang dengan semena-mena kusebut sebagai ketidakberuntungan. Pada waktu-waktu tertentu aku ingin menangis dan memeluk mereka ketika mereka sendiri mampu berfoto atau muncul dengan make up tebal, senyum mengembang, rokok di tangan, baju super seksi.
Mungkin aku lah yang bisa disebut berpikir sempit atau suudzon, melihat mereka berpenampilan seperti itu mendadak mengkaitkan dengan hal buruk, dan timbul rasa kasihan. Naif.
Aku pun bukan sebaik-baiknya gadis, karena jika aku sangat baik mungkin aku tidak sedekat itu dengan kenyataan pahit yang selama ini mudah kujumpai. Tapi sekali lagi, aku mengklaim diri sebagi gadis yang lebih beruntung, hingga tak ada kepahitan sempurna yang mampu membuatku mendzalim diri sendiri.
Keresahanku semakin dalam ketika mendapati kenyataan bahwa mereka wanita yang lebih beruntung cenderung turut meremehkan bahkan memperolok gadis yang kurang beruntung. Berbagai sebutan buruk diberikan, seperti ingin menghakimi dan menghukum. Entah apa yang ada di pikiran mereka para wanita terhormat itu? Apa begitu sulit pengorbanan dan perjuangan mereka berada pada posisi itu sehingga ingin memotivasi seperti " jika aku bisa kamu juga bisa, jangan rendahkan diri sendiri". Jika iya, mungkin aku yang masih harus banyak belajar menjadi wanita. Karena mengapa mereka bisa sangat lembut jika jatuh cinta kepada lelaki, sedang sangat kasar dan seakan penuh benci kepada sesama wanita?
__Tulisan ini akan terus mengalir membuncahkan kegelisahan terdalamku yang selama ini muncul dan menghilang dalam keseharianku. Kadang aku merasa jangan-jangan aku yang "sakit" karena toh mereka selama ini baik-baik saja, tak ada yang begitu salah.__
Aku gadis yang tumbuh bebas, tetapi terpantau. Aku bagai tanaman yang dibiarkan tumbuh meliuk-liuk mengikuti cahaya matahari namun terus dipupuk hingga akarku menghujam dalam, dalam sekali ke tanah. Orangtuaku lebih senang menyebut teori mereka merawat anak sebagai bermain layang-layang. Selama tali dipegang dengan tarik ulur mereka percaya layang-layang mereka tidak akan putus walaupun terbang tinggi.
Entah apapun yang sihir yang mereka lakukan padaku, tak pernah lepas sedetikpun pesan mereka dari ingatanku. "Doa kami yang selalu menjagamu, kamu pasti bisa merasakannya"
"Lalu apa yang membuat mereka seperti itu buk?" Tanyaku.
"Mereka tidak mendapat doa yang cukup dari orangtuanya." Jawab Ibuku.
Sejak saat itu aku menyimpulkan aku gadis beruntung dan tidak semua gadis beruntung, beberapa dari mereka telah ditinggalkan orangtua mereka dengan berbagai macam carita, baik yang masih hidup maupun tiada. Lalu apa yang membuat kita merasa berhak memperolok-olok mereka sedang kita tidak tau betul apa yang ada di belakang mereka?
"Keluarganya baik-baik aja kok, dia aja yang..." , we never know, we will never know.
Aku jatuh cinta pada senyum mereka. Aku menangis membayangkan apa yang terpaksa mereka lakukan, yang tak akan mampu kulakukan. Aku berdoa semoga Tuhan mengirimkan lelaki terbaik yang mampu memuliakan mereka. Aku berharap memiliki keberanian berkata langsung pada mereka: kuatkan, jaga, edukasi, hargai dirimu sendiri! Aku bermimpi suatu hari nanti aku akan memeluk mereka, bertanya apa yang bisa kubantu?
Namun aku takut jika mendapat jawaban, "Kau tak akan mengerti" , karena aku memang tak mengerti, tak akan mengerti.
Diam-diam aku mengikuti beberapa gadis di jejaring sosial dan mengamati beberapa gadis lainnya di dunia nyata. Mereka tak bisa disebut sebagai temanku, tapi menarik perhatianku. Begitulah aku begitu mudah jatuh cinta dengan hal sepele. Dan cinta itu merambah pada rasa sayang secara virtual lalu sering tanpa sengaja mereka muncul pada saat-saat yg memiliki kasualitas yang dekat.
Mereka adalah gadis-gadis yang mungkin seumurku, bahkan ada yang lebih mudah dariku, namun tidak seberuntung aku. Tidak mendapat pendidikan, kehangatan keluarga yang cukup, lingkungan yang baik. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda yang dengan semena-mena kusebut sebagai ketidakberuntungan. Pada waktu-waktu tertentu aku ingin menangis dan memeluk mereka ketika mereka sendiri mampu berfoto atau muncul dengan make up tebal, senyum mengembang, rokok di tangan, baju super seksi.
Mungkin aku lah yang bisa disebut berpikir sempit atau suudzon, melihat mereka berpenampilan seperti itu mendadak mengkaitkan dengan hal buruk, dan timbul rasa kasihan. Naif.
Aku pun bukan sebaik-baiknya gadis, karena jika aku sangat baik mungkin aku tidak sedekat itu dengan kenyataan pahit yang selama ini mudah kujumpai. Tapi sekali lagi, aku mengklaim diri sebagi gadis yang lebih beruntung, hingga tak ada kepahitan sempurna yang mampu membuatku mendzalim diri sendiri.
Keresahanku semakin dalam ketika mendapati kenyataan bahwa mereka wanita yang lebih beruntung cenderung turut meremehkan bahkan memperolok gadis yang kurang beruntung. Berbagai sebutan buruk diberikan, seperti ingin menghakimi dan menghukum. Entah apa yang ada di pikiran mereka para wanita terhormat itu? Apa begitu sulit pengorbanan dan perjuangan mereka berada pada posisi itu sehingga ingin memotivasi seperti " jika aku bisa kamu juga bisa, jangan rendahkan diri sendiri". Jika iya, mungkin aku yang masih harus banyak belajar menjadi wanita. Karena mengapa mereka bisa sangat lembut jika jatuh cinta kepada lelaki, sedang sangat kasar dan seakan penuh benci kepada sesama wanita?
__Tulisan ini akan terus mengalir membuncahkan kegelisahan terdalamku yang selama ini muncul dan menghilang dalam keseharianku. Kadang aku merasa jangan-jangan aku yang "sakit" karena toh mereka selama ini baik-baik saja, tak ada yang begitu salah.__
Aku gadis yang tumbuh bebas, tetapi terpantau. Aku bagai tanaman yang dibiarkan tumbuh meliuk-liuk mengikuti cahaya matahari namun terus dipupuk hingga akarku menghujam dalam, dalam sekali ke tanah. Orangtuaku lebih senang menyebut teori mereka merawat anak sebagai bermain layang-layang. Selama tali dipegang dengan tarik ulur mereka percaya layang-layang mereka tidak akan putus walaupun terbang tinggi.
Entah apapun yang sihir yang mereka lakukan padaku, tak pernah lepas sedetikpun pesan mereka dari ingatanku. "Doa kami yang selalu menjagamu, kamu pasti bisa merasakannya"
"Lalu apa yang membuat mereka seperti itu buk?" Tanyaku.
"Mereka tidak mendapat doa yang cukup dari orangtuanya." Jawab Ibuku.
Sejak saat itu aku menyimpulkan aku gadis beruntung dan tidak semua gadis beruntung, beberapa dari mereka telah ditinggalkan orangtua mereka dengan berbagai macam carita, baik yang masih hidup maupun tiada. Lalu apa yang membuat kita merasa berhak memperolok-olok mereka sedang kita tidak tau betul apa yang ada di belakang mereka?
"Keluarganya baik-baik aja kok, dia aja yang..." , we never know, we will never know.
Aku jatuh cinta pada senyum mereka. Aku menangis membayangkan apa yang terpaksa mereka lakukan, yang tak akan mampu kulakukan. Aku berdoa semoga Tuhan mengirimkan lelaki terbaik yang mampu memuliakan mereka. Aku berharap memiliki keberanian berkata langsung pada mereka: kuatkan, jaga, edukasi, hargai dirimu sendiri! Aku bermimpi suatu hari nanti aku akan memeluk mereka, bertanya apa yang bisa kubantu?
Namun aku takut jika mendapat jawaban, "Kau tak akan mengerti" , karena aku memang tak mengerti, tak akan mengerti.